Selasa, 24 Maret 2009 00:11
Angin membelai wajahnya, terasa sejuk sapaan pagi itu. Langit masih tersaput kelabu yang malu-malu di intip sang surya.
Jahrah membuka jendela kamarnya tepat setelah shalat pagi ini. Dia menarik nafas dengan lembut, merona wajahnya di depan jendela.
"Alangkah sempurnya sang Pencipta alam ini!". Suaranya lirih terdengar bagaikan bisikan dari syurgawi, dia sangat terpukau.
“Apakah aku tertinggal lagi?” Matanya mencari-cari. Dipandanginya langit yang mulai memerah, langit tak lagi nampak muram. Sang surya telah menemaninya.
Kebiasaan untuk menyapa alam setiap pagi, terasa kurang lengkap bila belum menangkap segerombolan burung yang terbang melintasi halaman rumahnya. Pagi ini dia merasakan sedikit kekosongan. Burung pipit biasanya selalu bernyanyi untuknya.
“Mungkin besok aku dapat melihatnya lagi”. Diayunkannya langkahnya keluar kamar. Suaminya terlihat segar. Habis mandi rupanya. Tercium wewangian kesukaannya.
Jahrah melebarkan langkah, takut terlambat ke dapur. “Beberapa minggu ini aku sering membuat nasi goreng. Bikin special aja ya?” Jahrah bergumam sendiri.
Tangannya yang lincah membuat omelet telur dicampur jagung rebus. Tak lupa dia membakar roti yang dioles mentega. Sambil bersenandung kecil menyanyikan lagunya Aa Gym yang berjudul “Jagalah Hati”.
Ketika dia melihat mesin cuci disudut dapur dekat dengan pintu kamar mandi, dia bergegas melangkahkan kaki dan menekan tombol “ON”. Tadi malam dia lupa mencuci pakaian. Jahrah sangat bersyukur dengan kemajuan tekhnologi sekarang yang sangat membantu pekerjaannya. Memasak sambil mencuci pakaian bisa dilakukan dalam satu waktu.
Jahrah menata meja makan serapi mungkin, dihidangkannya omlet dipiring yang berwarna hijau yang senada dengan seprai meja makan yang berwarna hijau pula. PIringnnya agak lebar, dihiasinya potongan tomat segar berwarna merah disekeliling piring. Tak lupa ditaburkannya potongan daun seledri diatas omlet kesukaan suaminya.
Roti bakar hangat, ditambah teh wangi yang hangat, membuat suaminya bersemangat memakan sarapannya. Didampingi istrinya yang telah mengganti baju dapurnya dengan pakaian yang rapi.
Jahrah tidak ingin kalah rapi dengan teman-teman kerja suaminya yang perempuan. Mereka pasti rapi dan wangi di kantor suaminya. Oleh karena itulah Jahrah tidak pernah lupa untuk menyemprotkan sedikit wewangian, agar suaminya merasa nyaman bersamanya.
“Trim’s honey”, kata Harun suaminya sambil mengecup kening istrinya. Harun sangat mencintai istrinya. Harun sangat menghargai perhatian istrinya yang selalu membuatnya merasa nyaman. Dirangkulnya lama… seakan tidak ingin melepaskan dekapannya. Serasa daun-daun hijau ditetesi embun pagi, memberi kesejukan, ketenangan, rasa nikmat yang teramat dalam.
---------------ooo-------------
Harun sampai di kantor dengan perasaan nyaman. Ketenangan yang tidak di dapatkan begitu saja. Istrinya selalu mengingatkannya berdo’a, dan selalu berpesan : “Bang, ingatlah jika kamu bekerja adalah ibadah. Bukan semata-mata hanya ingin mendapatkan materi.” Hatinya selalu sejuk dan bersyukur di anugerahi istri yang sholeha. Tak ada sedikit pun penyesalan dalam menentukan pilihan, walaupun banyak rekan yang tidak setuju.
Memasuki kantornya, dia pun tak lupa mengucapkan puji dan syukur ke hadirat-Nya, bersyukur atas perjalanannya yang aman dan selamat sampai di tempat kerja.
“Hai.. lihat Harun nih! Temannya pada memperhatikannya dan melihat jam yang ada di dinding kantor ruang tunggu. Tepat jam 8 pagi!
Temannya selalu meledeknya karena Harun terlalu “on time” jam kerjanya. Datangnya tepat jam 8. Pulang pun jam 4 sore, tepat!
“Kamu seperti robot aja, masa datang dan pergi seakan memakai remote control!” Rame! Kawannya berseloroh di suatu acara makan siang bersama di kantornya.
“Remote control apaan tuh! Jadi orang itu jangan ngaret! Datang dan pulang on time, menandakan aku telah bekerja maksimal. Bayangkan kalian semua, tiap hari lembur terus. Kasihan yang di rumah, dapat cape’nya aja. Iya nggak?! Dengan terkekeh Harun mencounter balik lawan bicaranya.
Kawan-kawannya sih, sudah tahu betapa belagunya si Harunn. Harun sosok yang seriusan dalam bekerja. Untuk urusan cari istripun dia termasuk yang sangat selektif. Makanya umur 35 tahun baru dapat yang diinginkannya.
“Kamu nggak salah pilih ? Banyak yang lebih cantik. Misalnya Amy, Ninning, Jamilah dan….” Bakri terhuyung hampir jatuh. Harun mendorongnya agak kuat, untuk menghentikan ucapannya.
“Kamu ini bagaimana sih? Masa cewe-cewe murahan begitu yang di sodorin! Nggak dimintapun mereka datang. Aku lelaki yang suka tantangan dan orisinil. Bukannya seperti mereka yang make up setebal satu meter, pakaian yang kurang kain, bicarapun mendesis-desis!” Monyong bibir Harun memperagakan cewe-cewe genit yang dibicarakannya tersebut.
Harun ingat ketika dia memutuskan untuk menikahi Jahrah, banyak sekali nada-nada sumbang yang mempertanyakan pilihan Harun.
“Kamu khan seorang eksektuif?, mengapa pilih istri yang wajah maupun penampilannya biasa-biasa saja?.”
Harun biasanya hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia merasa tidak perlu menjelaskan bahwa istrinyalah yang membuat dia mendapat hidayah. Istrinya mampu menularkan semangat untuk selalu memperbaiki diri, mengingatkan untuk selalu mensyukuri apapun yang dimiliki.
“Kenapa kalian pada sewot pada pilihanku? Yang akan nikah itu aku!” Ditunjuknya dadanya, Harun senyum simpul.
“Huh…perjaka ting-ting!” Serempak suara temannya memberikan balasan.
Maklum, teman-temannya semua pada nikah. Urusan mencarikan jodoh untuk Harun semua pada kompak. Kompak untuk membandingkan, gadis mana yang cocok untuknya. Kelihatannya semua pada repot untuk menilai : Apakah ada keluarganya yang masih gadis : Temannya punya teman yang masih gadis, ataupun penjelajahan di sekitar rumah. Seperti orang yang akan kampanye aja tuh.
“Di dunia ini hanya ada satu tempat yang selalu aku rindukan!” Dengan mimik wajah yang serius dia memelototi teman kantornya.
“Alah…kamu itu, semua orang udah tahu, kamu kan orang rumahan. Mau terus ngemong istri!”
---------------ooo---------------
“Aku sudah siap menyambut suamiku!” Jahrah memperhatikan penampilannya. Berputar-putar di depan cermin. Kemudian sedikit tercenung. Wajahnya pias, tersirat kecemasan yang dalam.
“Wajahku mulai berkerut. Ada kerutan kecil di sudut-sudut mata.” Dengan cemas dia mulai menyentuhnya. Dia merasa penuaan mulai mendatangi. Ada kebimbangan yang dalam. Hening sejenak. Tak tahu apa yang akan dilakukannya.
Dia tahu, teman-teman suaminya sangat detail memperhatikannya. Bila acara kumpul bareng, seakan Jahrah ingin diterkamnya. Keinginan untuk menyatu, tertapis tatapan yang kurang bersahabat. Ada sejumput luka di relung hatinya.
Kadang dia kasihan pada Harun. Berulang kali dia menolak dengan berbagai alasan, tapi Harun selalu mampu membuatnya takluk dengan keinginannya.
Ketika ponselnya berdering, Jahrah langsung meraih teleponnya yang telah diletakkan di meja didepannya. Mejanya bundar berwarna coklat dialas kain bundar yang berwarna hijau yang terbuat dari kayu jati.
“Wa’alaikum salam”, Jahrah menjawab telepon dengan santai menjulurkan kakinya dilantai teras, yang terbuat dari ubin yang berwarna hijau muda yang diberi ornament bunga-bunga kecil dan berwarna merah campur kuning.
“Maaf ya bu, jika sore hari saya tidak bisa”, Jahrah menjawab dengan lembut untuk menolak permintaan rapat mendadak ibu-ibu majlis ta’lim di lingkungannya.
“Maaf ya bu, saya tidak bisa hadir. Suamiku belum datang!” Dengan lembut Jahrah menolak.
Jika pergi dari rumah, dia akan selalu minta restu suaminya. Perasaannya akan bimbang, bila dia tidak yakin suaminya mengijinkannya.
“Assalamu’alaikum”, Harun menghampiri istrinya dan merangkul pundaknya.
“Bidadariku, sambutlah kandamu yang lelah ini. Obatilah hati yang rindu ini!” Senyuman Harun melebar, ketika dilihatnya Jahrah sedikit manyun.
“Ah… baru datang, udah godain! Malu didengar anak-anak.” Akhirnya bibir Jahrah merekah kembali. Senyumnya segar. Wajahnya bercahaya terpantul cahaya sore yang berpamitan.
Ada kesegaran pada istrinya di sore ini dan membuat lelahnya seakan hilang. Inilah yang selalu dirindukannya. Pulang disambut istri. Wangi lagi!
Kata orang cemburu hal biasa dalam rumah tangga. Kecemburuan adalah bumbu penyedap untuk kemesraan yang monoton. Kecemburuan sekali-kali diperlukan agar bisa survive menjalani bahtera yang bernama rumah tangga.
Kecemburuan perlu ada dan perlu dikelola. Kehangatan, rasa sayang, terutama cinta pada pasangan tetap dapat mekar. Seperti tanaman yang harus selalu disiram, dipangkas batang yang mengganggu, mengganti tanahnya agar tumbuhnya lebih subur.
Untuk urusan cemburu, Jahrah jauh dari sifat itu. Dia type wanita yang selalu berbicara dengan fakta. Kata orang, perempuan selalu bicara dengan hati, maka Jahrah pengecualiannya.
Rasa cemburunya kadang selintas hadir bila suaminya berbincang-bincang dengan perempuan cantik di dekatnya. Kolega suaminya sepertinya nggak ada yang jelek di matanya. Mereka semua anggun dan professional. Dibanding dirinya? Orang rumahan, apa yang dapat dibanggakannya? Tapi kecemburuanya mampu dialihkan dengan tepat.
Pada awal pernikahan, Jahrah mengalami kecemburuan yang tak diinginkannya. Seperti mata tombak yang tak mau lepas dari ulu hati. Dalam, berdarah! Dibawa dalam tangis diam-diam.
“Kenapa aku ini? Kenapa aku menangis? Apa yang salah?” kata-kata itu selalu diucapkannya untuk menetralkan jantungnya yang ingin melompat. Badan serasa terhimpit berton-ton dinding batu. Mulutpun ingin mengeluarkan sumpah serapah.
Jahrah tidak ingin merasakannya, tapi badannya tak ingin di ajak kompromi. Dia berontak dengan suara hatinya. Berusaha menghembuskan nafas berkali-kali. Dia pun pasrah. “Aku cemburu!” Desisnya di depan cermin.
Kedatangan sepupu Harun setiap minggunya, membuat jantungnya berdegub kencang. Ada keinginan untuk menolak kehadirannya, tapi tak mampu berucap. Hanya sesungging senyum, mengulurkan tangan. Menyambut kedatangan tamu yang tak diinginkannya.
Asma, begitulah nama tamu itu. Asma dan Harun sangat akrab. Menurut Jahrah, itu tidak etis. Mungkin sebelum Harun menikah, itu hal yang wajar.
“Kamu tidak suka dengan kedatangannya?” Berbisik Harun pada suatu senja. Jahrah terlihat sedikit kikuk, wajahnya bagai rembulan yang kehilangan cahaya. Matanya pun lebih sering memandangi ujung jemarinya yang lentik.
Walaupun baru sebulan pernikahan mereka, rupannya Harun sudah mengenal kondisi istrinya bila ada sesuatu yang kurang pas dihati. Istrinya bertype terbuka. Apapun suasana hatinya, akan terpancar pada wajahnya.
Asma, yang matanya yang indah selalu berbinar-binar, wajahnya putih. Pipinya selalu bersemu merah jika disanjung. Badannya proposional, rambutnya hitam lurus sampai di pinggang. Bila dia mau, mungkin dia bisa jadi aktris sinetron yang terkenal. Dia menyukai pakaian yang agak tertutup, walaupun tidak berjilbab. BIcaranya lembut dan indah didengar ditelinga. Bicaranya santun. Jahrah selalu memperhatikan raut wajah suaminya yang juga bersinar bila bercakap-cakap dengannya.
Ingin sekali dia mengatakan pada suaminya :” Kedatangan Asma membuatku tak nyaman!”
Minggu ini, Asma kembali berkunjung. Membawakan kue pisang belanda kesukaan suaminya.
“Enak nggak? Asma menanyakan pada Harun tentang kue olahannya.
“Kalau kamu yang bikin, pasti enak deh!” Dengan bercanda Harun melempar pandang pada Jahrah.
Harun tertegun sejenak, dia melihat rona mendung meliputi wajah istrinya. Pias, mungkin itulah kata yang tepat. Ada sedikit rasa bersalah pada dirinya. “ Bagaimana aku harus bersikap?”. Harun Membatin.
Harun pun terdiam sejenak, membuat Asma sedikit terheran.
“Hai…bisa-bisanya ngelamun sambil makan!” Asma menggoyangkan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
“Nggak tuh, Cuma berusaha menikmati kuenya! Apa nggak boleh!?” Harun berusaha mengelak pertanyaan itu, takut ketahuan jika dia sedang mengalami rasa yang serba salah.
Asma saudara sepupu dan teman terdekat saat kecilnya. Rasa sayang itu, tidaklah mungkin bisa dihilangkan. Kenangan masa kecil yang indah bersama Asma membuatnya kadang tersenyum sendiri.
Kunjugan Asma yang rutin, merupakan hal yang disenanginya. Tapi Harun tahu, istrinya menyimpan sebuah beban. Pilihan sulit untuk menentukan sikap. Melarang Asma datang, berarti membuatnya kangen. Kangennya sering dibawa dalam mimpi.
Bukan kedekatan suaminya yang ditakutkan, tapi Jahrah takut pesona Asma akan melunturkan ikatan cinta mereka. Kedekatan sebagai seorang saudara, mungkin akan berbalik menjadi api asmara yang tak bisa dipadamkan.
Sejujurnya Jahrah tidak menyukai kunjungan Asma ke rumahnya. Tapi Asma selalu rutin berkunjung setiap minggu ke rumahnya dan selain berbincang dengan suaminya juga akrab dengan kedua putrinya. Jadi ketika Asma di rumahnya, Jahrah berusaha tetap hangat walaupun jauh didasar hati dia sangat tersiksa. Jahrah selalu menekankan pada dirinya bahwa Asma adalah saudara suaminya. Asma tidak punya salah padanya. Asma sempurna dimatanya karena Allah yang memberikan kecantikan itu. Kenapa harus membenci Asma?
Begitulah Jahrah selalu mendinginkan hatinya.
“Cantik sekali hari ini. Semoga pernikahan ini langgeng sampai kakek nenek!” Jahrah menyalami Asma.
Hari ini dia begitu tulus berucap. Tidak ada beban. Serasa ikatan yang menghimpit kemudian lenyap bersama debu yang berterbangan.
Itulah pertemuan terakhir Jahrah dengannya. Hingga beberapa tahun, Jahrah seakan melupakan sosok yang sering membuat tidurnya terjaga di malam hari.
-------ooo-------
Masa 3 tahun cukup lama dilewati. Serasa baru kemarin Asma mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang hanya menimbulkan beberapa goresan pada tubuhnya, tapi berakibat fatal pada syarafnya. Saat kecelakaan itu, Asma mengalami muntah-muntah dan pingsan beberapa jam.
Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama setelah Asma pulang kampung. Barulah Jahrah bertemu kembali dengan suasana yang sangat berbeda. Pertemuan yang membuat Jahrah tidak berkedip memandang Asma.
Bibirnya kelu untuk menyapa. Jantungnya berdegup kencap. Bukan cemburu seperti yang pernah dialaminya diawal perkawinannya, tapi keterkejutan Jahrah ketika Asma menyalaminya dengan senyum.
“Lama nggak ketemu ya…Asma kangen!”
“Kami juga kangen lho! Udah 3 tahun nggak ketemu.” Jahrah merangkul Asma dengan erat. Kecemburuan yang pernah singgah di hatinya, membuatnya sedikit bersalah. Kondisi Asma yang luarbiasa mengejutkan, membuatnya berfikir ulang tentang sebuah “kecantikan”.
“Lihat kunci rumahku?”. Asma bertanya pada orang disekililingnya. Dia pun sibuk merogoh kantong roknya, lalu mencari di atas meja tamu. Bolak balik ke kamar, dapur dan halaman. Nggak ketemu.
Orang serumah memandang sedih padanya. Pikun Asma mulai lagi. Tidakkah dia menyadari dirinya tinggal di rumah ini, rumah orangtuanya. Ada setetes air bening jatuh di pangkuan Jahrah.
Jahrah melihat Asma seperti perempuan berumur 50an. Asma yang baru berusia 30 tahun, terlihat kurus dan kusam. JIka kita berbincang padanya sering tidak nyambung. Asma seringkali lupa dengan apa yang telah dilakukannya.
“Oh… aku tinggal di sini ya?” Asma bergumam sendiri. Ada senyum lembut di sudut bibirnya.
“Permisi, aku belum sholat dzuhur. Maaf aku tinggal.” Kesopanan yang dimiliknya tetap ada.
Kecantikan Asma memang memudar, tapi sifat dasar yang dimilikinya masih ada : Lembut, Sopan dan suka tersenyum tetap ada padanya.
Jahrah pun mendapat pencerahan arti sebuah kecantikan. Kecantikan tidak ada yang abadi. Kepribadian seseoranglah yang akan dibawa mati.
Asma meninggal dalam usia 32 tahun, dengan memberikan pelajaran tentang bagaimana kita seharusnya memandang kehidupan yang hanya sekali ini, membuat Jahrah tambah dekat dengan sang Pencipta.
(Teriring salam untuk semua yang aku kasihi di kota Samarinda : Alika, Ecce, Ayi, Jirin, Yuni)
Wednesday, April 22, 2009
Kecantikan Asma
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
10:56 AM
0
comments
Labels: cerpen
Thursday, July 13, 2006
Sepenggal Episode Cinta (cerpen)
Oleh: Vita Sumarhadi
(Sumber: Majalah Al Hijrah)
Dengan mata hampir tak percaya, kutatap sosok cewek yang kini berdiri, di hadapanku. Kaca mata minusnya, tas snoopynya, sepatu kets hitamnya.... Tak salah lagi, orang ini pasti Sari. Tetapi kerudung putih yang menutupi rambutnya, membuat aku hampir tak mengenalinya. Secepat inikah, Ri?
Sari nyengir-nyengir seperti biasa ketika kuguncang-guncangkan bahunya.
“Elo kapan, Ci?” tanyanya Iirih .
Aku tersenyum, kecut. Ya, aku kapan, ya?
Suatu saat nanti, Ri, jawabku, hanya di dalam hati. Aku tak bisa berkatakata. Lidahku terasa kelu. Senang dan sedih bercampur menjadi satu. Haru. Senang karena Sari menjadi lebih alim (ini suatu kemajuan pesat untuk seorang seperti Sari yang doyan ngebut kalau naik motor). Sedih karena aku seperti kehilangan Sari yang dulu. Sahabat terdekatku yang... A ... ya Allah, aku harus rela melepasnya menjadi lebih dekat dengan-Mu.
Aku dan Sari pernah saling berjanji untuk, suatu saat nanti, berjilbab. Setiap ke toko buku, kami tahan ngetem berjam-jam di counter buku-buku Islam. Lalu kami membeli buku dengan judul yang berbeda supaya bisa saling tukar. Topik tentang wanita dan Islam, termasuk topik tentang pacaran menjadi bahasan yang kami pilih. Tak jarang kami juga mendiskusikannya berdua. Hanya berdua.
Sering mentok memang, dan kalau sudah begitu kami sama-sama akan mengatakan “Wallahu allam bishawab.” Hehehe....
Sebulan yang lalu akhirnya kami sepakat meninggalkan pakaian pendek kami dan diganti dengan celana panjang atau kulot panjang serta blouse atau kemeja berlengan paniang.
“Kita berubahnya dikit-dikit aia dulu, Ci,” begitu kata Sari.
Aku sih setuju saja. Apalagi buat kami yang berkulit kereng alias coklat tua, berpakaian panjang-panjang jelas menguntungkan. Kulit jadi lebih putih. Kalau soal seragam sekolah, ya, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku.
“Kalo perubahan kita drastis, bisa bikin shock banyak orang, makanya pelan-pelan aja,” ujarku.
“Perlahan, tapi pasti. Soalnya kita tahu apa sih, tentang Islam. Ntar ditanya-tanya orang bingung nggak bisa jawab, kan malah repot.”
“Nanti orang-orang pada bilang, Udah pake jilbab, tapi kok, gitu aja nggak tau,” timpal Sari.
Aku manggut-manggut setuju “Betul, daripada pake jilbab, tapi masih malumaluin.”
“Ri, yang penting kan kita mengimani kalo jilbab itu wajib, cuma masalahnya sekarang kita belon mampu ngelaksanain itu. Allah pasti tau, deh,” ujar Sari seperti menghibur diri.
Aku manggut-manggut lagi.
Ya, dalam masa persiapan dan penantian hidayah dari Allah ini (soalnya katanya pake jilbab itu hidayah Allah), kami sepakat untuk banyak baca buku dulu, nyari temen banyak dulu, hura-hura dulu, ngelaba dulu. Dan, pada saatnya nanti, Insya Allah kami siap.
Namun, sekarang Sari sudah lebih dulu berjilbab. Sedangkan aku? Ya Allah, kenapa hidayah-Mu baru sampai ke Sari? Kapan hidayah itu datang padaku? Tak terasa mataku membasah.
“Uci!”
Aku menoleh, Clara berlari menghampiriku.
“Dapet salam balik,” katanya sambil cengengesan.
“Emangnya siapa yang ngirim salam,” balasku, pura-pura cuek. Namun tak urung dadaku berdebar-debar juga. Pasti dari ....
“Tuh, orangnya di sana,” bisik Clara sementara telunjuknya mengarah ada gerombolan cowok yang ada di bawah pohon, di depan kelas 2-5. Dadaku berdesir begitu raut wajah Dani memandangku dari sana.
Gimana?” tanya Clara dengan nada menggoda.
Aku tahu, wajahku pasti merah, kuning, ijo, saat itu. Dan, bayangan Sari yang baru saja masuk ke ruang laboratorium membuat aku tak berani berkomentar apa-apa.
“Tau, ah!”
“Eh, gimana sih, udah disalamin juga, Ci, katanya...”
Buru-buru aku bergegas masuk ke Lab, sementara Clara berlari mengejarku.
Hampir semua teman-teman di kelasku tahu, kalau aku menaruh hati pada Dani, anggota tim basket sekolah. Dan semua orang juga tahu kalau Dani adalah tipe cowok yang pendiam, cool, terutama di hadapan cewek. Tak heran kalau beberapa orang menawarkan diri jadi comblangku, termasuk Clara, Alex, dan dahulu... Sari.
“Dari mana aja, Ci? Aku nyariin kamu dari tadi,” sambut Sari begitu aku sampai dan duduk di sampingnya. Aku cuma bisa menjawabnya dengan senyum, mengatur napas, menenangkan hati sambil berharap Pak Suratama cepat memulai praktikum. Sari kemudian asyik dengan diktatnya. Kami kemudian tenggelam dalam praktek biologi kelompok sampai tiba-tiba, Clara datang bergabung (padahal dia bukan kelompokku).
Seraya pura-pura memperhatikan hasil uji larutan asam dengan kertas lakmus, Clara mendesakku dengan gaya comblangnya yang profesional (diam-diam aku jadi kagum dengan kegigihannya).
“Ayo, Ci. Kapan Lagi. Doski udah ngasih lampu ijo, tuh. Eh, orangnya susah lho, buat deket sama cewek. Tapi percaya deh, orang kayak gitu, sekali jatuh cinta bakalan setia sampe mati,” katanya berbisik.
Aku diam tak berkutik. Dalam berpikir, Sari yang berdiri di sebelahku pasti bisa mendengar semua kata-kata Clara barusan. Duh, malu nggak, sih? Dan membuat lebih malu lagi, tabung reaksi di tanganku hampir lepas begitu saja. Untung Sari cepat menggapainya sebelum ia menyentuh lantai. Uhf! Hampir saja.
“Lain kali ati-ati, Non,” ujarnya sambil tersenyum tanpa menatap wajahku.
Aku melirik Clara. Anak itu buru-buru ngabur sebelum terjadi accident selanjutnya.
“Uci!” panggil Alex sambil berjalan ke arahku. Wah, bawa kabar apa lagi dia hari ini. Dadaku kembali berdebar, gimana enggak, selain comblangku yang kedua dia juga teman sekelas Dani. Kini cowok bermata sipit itu sudah berdiri di depan mejaku.
“Mau ujian matematik ni, tapi Dani lupa nggak bawa penggaris. Pinjem ya,” katanya.
“Ambil nih, pensilnya sekalian, tip-ex perlu nggak?” tiba-tiba Agus sudah ada di sampingku dan menyodorkan semua barang-barang milikku itu ke Alex. Tanpa basa-basi lagi, Alex langsung melesat ke kelasnya.
Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Diam dengan hati berbunga-bunga. Tapi, jangan-jangan semua ini hanya ulah comblang-comblangku saja, pikirku curiga.
“Clara, emangnya bener kalo Dani.....”
“Tuh kan, elo nggak percaya sih, sama gue. Kemaren waktu kita papasan sama doski di kantin, dia kasih senyum e elo, tapi elonya malah diem. Dia kan jadi bingung,” cerocos Clara agak keras. Aku celingukan kanan-kiri, nyariin Sari. Enggak ada. Amaaan.
“Terus...,” aku harap-harap cemas.
“Elo serius nggak, sih? Kan kasihan
dia.”
Aku tercenung, berbagai rasa berkecamuk dalam hati. Antara senang, berbunga-bunga sekaligus cernas dan gelisah.
“Eh, tapi tenang aja, Ci. Kayaknya malah dia yang suka sama elo. Kemaren aja dia nanya-nanyain elo ke Alex,”
sambung Clara.
“Alex bilang apa?”
“Pokoknya beres, deh,” Clara mengedipkan sebelah matanya dengan centil.
Hatiku semakin tak tenang.
Hari ini, pagi-pagi sekali aku telah sampai di sekolah. Nggak tahu kenapa belakangan ini aku jadi begitu bersemangat tiap berangkat sekolah. Apa karena Dani?
Sampai sekolah, gerbang telah terbuka lebar, nggak tahunya sepagi ini pun sekolah sudah ramai. Kulihat beberapa
di antara mereka sedang sarapan di kantin, dan di depan pintu mushala beberapa sepatu berjajar rapi. Aku tidak menemukan sepatu Sari di sana, berarti anak itu belum datang karena sejak berjilbab Sari selalu menyempatkan diri salat duha sebelum pelaiaran dimulai. Tiba-tiba, di ujung koridor aku menemukan sosok yang hari-hari belakangan ini selalu menarinari di benakku. Dani! la berjalan ke arahku dan tersenyum ketika kami berpapasan. Manis sekali. Jantungku tentu berdebar-debar dengan debaran yang lebih dahsyat dari biasanya.
“Hai!” sapanya ramah, tapi terdengar canggung. “Ci, saya mau balikin ini,” Dani mengeluarkan alat-alat tulisku yang kernarin dibawa Alex dari saku bajunya.
“0 ...” aku menerimanya dengan gugup. Kejadian ini benar-benar mengejutkanku.
“Tadinya mau dibalikin kernarin, tapi saya nggak nemuin kamu.”
Aku manggut-manggut, “Nggak apaapa, kok. Gimana ulangan matematiknya? Bisa?” aku berusaha untuk sebiasa
mungkin.
Dani tersenyum lagi, “Tau deh, kayaknya sih ... enggak.” Aku tertawa kecil.
“Thank’s, ya,” katanya sebelum kami berpisah, masih dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya yang tampan.
Aku cuma bisa mengangguk sambil membalas senyumannya. Tapi, di dalam hati aku seperti ingin berteriak keras-keras “Clara! He’s so sweet.”
Siangnya, habis-habisan aku curhat ke Clara. Ya, soalnya sama siapa lagi, masa sama Sari, sih? Wah, nggak berani aku. Tapi anehnya, setelah kejadian itu, aku sering merasa bersalah. Entah bersalah pada siapa, Sari-kah, atau Allah?
Di bulan Februari, menjelang valentine’s day, hari-hariku semakin merah jambu. Dani telah sering bersikap manis padaku. Walau kami belum meresmikannya, tapi sikap Dani padaku cukup membuat seisi sekolah tahu, cepat atau lambat kami akan segera memulai hari-hari indah, mengisi masa SMA. Namun pada saat yang sama pula, rasa bersalahku pada sesuatu yang belum jelas, semakin menjadi. Aku merasa seperti telah mengkhianati seseorang. Seseorang yang begitu dekat. Entah siapa.
Kadang, perasaan itu kemudian berganti dengan getar-getar yang aneh, kemudian gelisah yang tak menentu. Ditambah lagi bayangbayang wajah Dani dengan senyum manisnya. Kalau sudah begitu, aku sering berdiam diri beberapa saat,
mencoba menjernihkan pikiran. Seperti ada sesuatu yang tak beres terjadi di dalam hatiku.
Aku mencoba beristighfar untuk meredakan semua perasaaan aneh itu. Cara itu kuperoleh dari buku kecil yang dipinjamkan Sari beberapa hari yang lalu. Dengan berzikir kepada Allah, hati kita akan tenang, begitu kata buku itu.
Dapat kuduga, di hari Valentine, Dani memberi sesuatu yang istimewa padaku, demikian juga Sari. Kupandangi dua benda berwarna senada, merah jambu yang kini tergeletak di atas meja belajarku. Satu dari Dani, satunya lagi dari Sari. Dani memberikan sekuntum bunga mawar merah dari kain satin yang indah. Ditangkainya tergantung kartu mungil bertuliskan:
‘With my mind. Love, Dani.’
Sedangkan satunya lagi jilbab berenda warna merah jambu yang sangat manis. Di dalam lipatannya ada tulisan tangan Sari yang berbunyi,
“Let’s start together. Love, Sari.”
Kata Sari ketika menyerahkan bingkisan itu, ini bukan kado Valentine karena bagi Sari, hari-harinya bersamaku selalu Valentine. Ah, Sari...
Bagiku, dua benda ini tak hanya sebuah kado dari orang-orang tercinta, melainkan juga suatu pilihan yang satu sama lainnya bertolak belakang. Setiap pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda dan aku tahu konsekuensi itu. Tak pernah kuduga aku akan dihadapkan pada situasi yang membingungkan seperti ini.
Sambil menimang-nimang bunga pemberian Dani, dan bercermin dengan mengenakan jilbab pemberian Sari, aku terus berpikir. Aku tak ingin mengorbankan salah satunya. Artinya, kamu ingin berjilbab dan sekaligus juga pacaran dengan Dani? Suara batinku. Apa nanti kata orang, berjilbab kok, pacaran? Suatu pertanyaan retoris yang sering kulontarkan juga.
Aku selalu protes tiap kali melihat cewek berjilbab, tapi berjalan mesra dengan cowok.
Dulu, setiap mendengar protesku itu, Sari selalu bilang, “Ci, jilbab kan nggak cuma sepotong kain yang menempel di kepala. jilbab juga sebagai langkah awal untuk lebih taat pada Allah, termasuk... nggak pacaran. Moga-moga nanti kita kalau udah berjilbab nggak gitu, ya?”
Dadaku terasa sesak, mengapa Allah mendatangkan Dani di saat-saat seperti ini? Tiba-tiba, mataku tertuju pada sehelai kertas yang jatuh dari lipatan jilbab yang diberikan Sari.
Ya, Allah! Aku terhentak, kertas itu ku tulis ketika masih kelas satu. Isinya bait-bait lagu yang pernah diajarkan Mbak Rara saat mengikuti Studi Dasar Islam Terpadu. Tak terasa air mataku mengalir ketika membacanya dan melantunkannya kembali.
Sayup-sayup, aku seperti mendengar suara Sari bernyanyi.
Tak hanya pakaian, ataupun hiasan,
Tapi lebih lagi
Jilbab putih ini akan mengantarkan
Diri kita pada ridha ilahi
Bersihkan hatimu
Luruskan akhlakmu
Jadilah Muslimah
Penuh dengan kharisma
Semoga Allah, bersama kita
Ya Allah, kapan lagi akan Kau tunjukkan jalan pada Uci kalau tidak sekarang ini, jerit batinku.
“Kapan lagi, Ci. Dani udah terus terang ke elo. Gue nggak bisa ngebayangin, berapa cewek yang bakalan patah hati melihat kalian berdua. “
“Iya, kapan lagi, Ci. Kita nggak tahu, kapan hidayah Allah akan datang lagi. Dan hidayah itu hanya diberikan kepada orang yang Dia cintai dan orang itu juga mencintai Allah. Sari yakin, Uci pasti mau menerima hidayah itu. Kita harus mulai berbenah diri dari sekarang karena maut nggak pernah bilang, kapan akan datang.”
Bayangan Clara dan Sari hilang dan muncul bergantian. Juga wajah manis Dani. Dani yang selalu tersenyum ramah padaku, Sari dengan jilbab putihnya serta Clara dengan kalung salibnya. Ya Allah, tiba-tiba saja aku teringat dengan kalung perak yang selalu menghiasi leher Clara!
Kami berpelukan. Air mata Sari jatuh ke jilbab putihku. Aku pun begitu, jilbab Sari basah oleh butiran air mata yang tak bisa dibendung. Aku begitu rindu pada Sari. Belakangan ini, sejak ia berjilbab, persahabatan kami merenggang. Apalagi setelah hadirnya Clara dan Dani. Tapi sekarang, kami akan bersama-sama lagi. Semoga Allah memudahkan jalan yang kupilih.
“Uci!” panggil Alex. Aku terkejut. Kulihat Alex berjalan di samping Dani, mendekati kami. “Ci, kata die nih, elo makin manis, lho...” canda Alex sambil menyikut Dani. Dani tersenyurm ke arahku. Duh, ya Allah, beratnya. Aku berdebar-debar lagi.
“Tenang aja, Ci. Tadi pagi anak-anak udah ngebilangin dia. Lantaran elo udah berjilbab, dia kudu pake peci biar serasi. Eh, Dani-nya mau tuh. lya, nggak, Dan?” cerocos Alex cuek.
Dani cuma tersenyum sambil menatapku.
Ada setitik bimbang dalam hati ini. Ya Allah, kuatkan Uci.
“Gimana, Ci. Diterima nggak? Dani udah nggak sabar, tuh,” desak Alex sambil senyum-senyum. Sebagai comblang, mungkin ia merasa telah bekerja dengan sukses.
“Wah, telat ..., Uci udah nerima yang lain,” cetus Sari tiba-tiba.
Alex melongo, “Ya Alex yang Nashara itu tentu bingung. Seperti ada jarum menusuk-nusuk hatiku saat itu, tapi buru-buru kuenyahkan.
“Terima kasih bunganya ya, Dan,” kataku sambil menundukkan wajah. Aku tak ingin wajah manis Dani terusterusan menari-nari di benakku.
Dani mengangguk, “Hanya itu?” mungkin begitu pikirnya.
Tapi, biarlah Sari atau Bambang yang ikhwan akan menjelaskan pada Dani.
Sepintas kulihat wajah Dani agak serius, “Eh, Ci, kita masih bisa temenan kan?”
Aku melirik ke arah Sari.
“Ya jelas dong, masa mau musuhan?” jawab Sari sedikit bercanda.
Aku menarik napas lega. Sari selalu saja bisa mencairkan suasana. Diamdiam, jauh di dalam lubuk hati, aku bertekad untuk menjaga jarak dengan Dani selagi masih ada penyakit di dada ini. ***
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
8:36 AM
2
comments
Tuesday, May 23, 2006
Cinta & Kecantikan
(sumber: posting di sebuah milis)
"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.
Kemudian orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki barupun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yangtelah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuatsesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau tak kan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri ditepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahandan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kakuitu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. (penulis: unknown)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
8:01 AM
1 comments
Sunday, April 16, 2006
Air Mata Mutiara
(Taken from Milist Daarut Tauhid oleh Muthi)
Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.
"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita,bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu."
Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahwa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.
Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.
Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.
Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.
**********
Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.
Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu..
"Airmataku diperhitungkan Tuhan.. dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."
Semoga........
Taken from Milist Daarut Tauhid
Salam,
Muthimuthi_nuriah@yahoo.com
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
2:05 PM
3
comments
