Oleh: Halimah Taslima
Pada tahun 2000 aku punya tetangga baru. Orangnya bergaya terbuka, maksudku dalam hal berpakaian. Celana yang dikenankannya setinggi lututnya, dan bajunya pun “you can see”. Orangya memang putih dan semampai. Ketika dia masuk keperkampungan jilbab, dia merasakan dirinya sangat langka. Sebut aja namanya Anne ( nama samaran ).
“Sekarang kamu berjilbab. Kalau boleh tahu apa penyebabnya?” Iseng aku bertanya pada Anne setelah sama-sama pulang dari belajar ngaji.
“Khan kamu tahu, dulunya auratku terbuka. Tapi setelah aku mejadi warga kampung ini, aku seperti minder sendiri.” Dia senyum-senyum sambil mensejajari langkahku yang terbilang cepat. Waktu menunjukkan jam 6 sore, aku harus tiba di rumah sebelum Magrib tiba.
Anne rajin mengikuti pengkajian rutin di kampung itu. Ketika kami belajar ngaji untuk memperbaiki tajwid kami, maka dia pun tidak ingin ketinggalan. Subhanallah! Dari seorang wanita yang tidak begitu paham ber-islam, akhirnya bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri.
Anne termasuk beruntung, karena bisa menggapai hidayah Allah S.W.T. Sebaliknya, ada seorang wanita, yang telah bergabung beberapa tahun pada pengkajian rutin, tetap saja tidak mampu menutup auratnya secara penuh. Bila berada di teras depan rumahnya, jilbabnya terlupakan.
Faktor teman memang mempengaruhi Anne, tapi tidak dengan yang lainnya. Ada beberapa warga di kampung jilbab seperti tak tersentuh oleh hidayah. Mereka hanya menutup aurat bila menghadiri ta’lim ataupun undangan. Selain itu? Tentu saja seperti kebanyakan wanita dalam berpakaian.
Ketika saya pulang dari menghadiri Ta’lim di siang hari, saya melihat Asni ( nama samaran ) duduk di teras depan rumahnya .Terlintas dalam benak :”Mengapa wanita yang satu ini belum istiqomah.” Saya hanya mampu mendo’akan, semoga pengkajian rutin yang diikutinya tetap dia lakoni. Hanya itu yang dapat saya lakukan.
Asni secara pelan tapi pasti, mulai meninggalkan jilbab. Silaturahim ke tetangga dekatnya mulai dia lakukan tanpa jilbab.Hasilnya? Dia mengundurkan diri dari dunia pengkajian dengan banyak dalih. Wallahu’alam, bila Allah tidak memberikan petunjuk kepada seseorang, maka kita pun tak kan mampu mengubahnya. Walau pun kita ingin.
Teringat tentang wejangan seorang ustadz :”Langkah syaitan itu sedikit, tapi pasti. Artinya dia menggoda manusia mulai dari yang paling ringan. Hingga manusia yang di godanya tidak merasa telah melakukan suatu kemungkaran. Pelan tapi pasti, menandakan usaha syaitan bersifat iqtiqomah hingga tujuannya berhasil”.
Dua wanita yang sama tinggal di kampung “jilbab”, ternyata tidak sama dalam menyikapi lingkungannya. Teringat saya akan tulisan Imam Al-Gazali di bukunya Ihya Ulumuddin bahwa : “Hati manusia itu bagaikan cermin. Hidayah Allah S.W.T di umpamakan cahaya. Maka, bila cermin itu kotor, walhasil cahaya seterang apapun tidak akan mampu menembus cermin itu.”
Ternyata Hidayah Allah selalu bersinar sepanjang masa, tapi untuk menemukannya diperlukan suatu keadaan yang harus kita miliki. Seperti yang telah di andaikan oleh Imam Al-Gazali, hati kita haruslah bersih sebagaimana cermin yang telah dibersihkan. Untuk mencapai itu memang diperlukan kemauan dan kesadaran yang kuat.
Karena kita tahu hati ini akan selalu kotor, apalagi di jaman sekarang yang merupakan jaman serba boleh. Setiap orang dapat mengekspresikan dirinya dalam berbusana. Dapat kita lihat juga pada tayangan televisi yang seharusnya terlarang, untuk ditayangkan di negeri berpenduduk mayoritas muslim ini.
Maka benarlah, bila Allah S.W.T telah berfirman : “Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan jiwa.” Saya lupa ayatnya, tapi firman ini membuat saya sadar, dan memberikan suatu makna pada diri, bahwa hati ini memerlukan suatu pembersihan yang berkelanjutan, agar hidayah Allah mudah kita genggam. Amin.
Halimah Taslima
Forum Lingkar Pena ( FLP) Cab. Sengata
halimahtaslima@gmail.com
Sunday, August 23, 2009
Sebuah Kisah Dari Kampung Jilbab
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:41 AM
1 comments
Labels: hikmah
Wednesday, August 12, 2009
Kecantikan Asma
Selasa, 24 Maret 2009 00:11
Angin membelai wajahnya, terasa sejuk sapaan pagi itu. Langit masih tersaput kelabu yang malu-malu di intip sang surya.
Jahrah membuka jendela kamarnya tepat setelah shalat pagi ini. Dia menarik nafas dengan lembut, merona wajahnya di depan jendela.
"Alangkah sempurnya sang Pencipta alam ini!". Suaranya lirih terdengar bagaikan bisikan dari syurgawi, dia sangat terpukau.
“Apakah aku tertinggal lagi?” Matanya mencari-cari. Dipandanginya langit yang mulai memerah, langit tak lagi nampak muram. Sang surya telah menemaninya.
Kebiasaan untuk menyapa alam setiap pagi, terasa kurang lengkap bila belum menangkap segerombolan burung yang terbang melintasi halaman rumahnya. Pagi ini dia merasakan sedikit kekosongan. Burung pipit biasanya selalu bernyanyi untuknya.
“Mungkin besok aku dapat melihatnya lagi”. Diayunkannya langkahnya keluar kamar. Suaminya terlihat segar. Habis mandi rupanya. Tercium wewangian kesukaannya.
Jahrah melebarkan langkah, takut terlambat ke dapur. “Beberapa minggu ini aku sering membuat nasi goreng. Bikin special aja ya?” Jahrah bergumam sendiri.
Tangannya yang lincah membuat omelet telur dicampur jagung rebus. Tak lupa dia membakar roti yang dioles mentega. Sambil bersenandung kecil menyanyikan lagunya Aa Gym yang berjudul “Jagalah Hati”.
Ketika dia melihat mesin cuci disudut dapur dekat dengan pintu kamar mandi, dia bergegas melangkahkan kaki dan menekan tombol “ON”. Tadi malam dia lupa mencuci pakaian. Jahrah sangat bersyukur dengan kemajuan tekhnologi sekarang yang sangat membantu pekerjaannya. Memasak sambil mencuci pakaian bisa dilakukan dalam satu waktu.
Jahrah menata meja makan serapi mungkin, dihidangkannya omlet dipiring yang berwarna hijau yang senada dengan seprai meja makan yang berwarna hijau pula. PIringnnya agak lebar, dihiasinya potongan tomat segar berwarna merah disekeliling piring. Tak lupa ditaburkannya potongan daun seledri diatas omlet kesukaan suaminya.
Roti bakar hangat, ditambah teh wangi yang hangat, membuat suaminya bersemangat memakan sarapannya. Didampingi istrinya yang telah mengganti baju dapurnya dengan pakaian yang rapi.
Jahrah tidak ingin kalah rapi dengan teman-teman kerja suaminya yang perempuan. Mereka pasti rapi dan wangi di kantor suaminya. Oleh karena itulah Jahrah tidak pernah lupa untuk menyemprotkan sedikit wewangian, agar suaminya merasa nyaman bersamanya.
“Trim’s honey”, kata Harun suaminya sambil mengecup kening istrinya. Harun sangat mencintai istrinya. Harun sangat menghargai perhatian istrinya yang selalu membuatnya merasa nyaman. Dirangkulnya lama… seakan tidak ingin melepaskan dekapannya. Serasa daun-daun hijau ditetesi embun pagi, memberi kesejukan, ketenangan, rasa nikmat yang teramat dalam.
---------------ooo-------------
Harun sampai di kantor dengan perasaan nyaman. Ketenangan yang tidak di dapatkan begitu saja. Istrinya selalu mengingatkannya berdo’a, dan selalu berpesan : “Bang, ingatlah jika kamu bekerja adalah ibadah. Bukan semata-mata hanya ingin mendapatkan materi.” Hatinya selalu sejuk dan bersyukur di anugerahi istri yang sholeha. Tak ada sedikit pun penyesalan dalam menentukan pilihan, walaupun banyak rekan yang tidak setuju.
Memasuki kantornya, dia pun tak lupa mengucapkan puji dan syukur ke hadirat-Nya, bersyukur atas perjalanannya yang aman dan selamat sampai di tempat kerja.
“Hai.. lihat Harun nih! Temannya pada memperhatikannya dan melihat jam yang ada di dinding kantor ruang tunggu. Tepat jam 8 pagi!
Temannya selalu meledeknya karena Harun terlalu “on time” jam kerjanya. Datangnya tepat jam 8. Pulang pun jam 4 sore, tepat!
“Kamu seperti robot aja, masa datang dan pergi seakan memakai remote control!” Rame! Kawannya berseloroh di suatu acara makan siang bersama di kantornya.
“Remote control apaan tuh! Jadi orang itu jangan ngaret! Datang dan pulang on time, menandakan aku telah bekerja maksimal. Bayangkan kalian semua, tiap hari lembur terus. Kasihan yang di rumah, dapat cape’nya aja. Iya nggak?! Dengan terkekeh Harun mencounter balik lawan bicaranya.
Kawan-kawannya sih, sudah tahu betapa belagunya si Harunn. Harun sosok yang seriusan dalam bekerja. Untuk urusan cari istripun dia termasuk yang sangat selektif. Makanya umur 35 tahun baru dapat yang diinginkannya.
“Kamu nggak salah pilih ? Banyak yang lebih cantik. Misalnya Amy, Ninning, Jamilah dan….” Bakri terhuyung hampir jatuh. Harun mendorongnya agak kuat, untuk menghentikan ucapannya.
“Kamu ini bagaimana sih? Masa cewe-cewe murahan begitu yang di sodorin! Nggak dimintapun mereka datang. Aku lelaki yang suka tantangan dan orisinil. Bukannya seperti mereka yang make up setebal satu meter, pakaian yang kurang kain, bicarapun mendesis-desis!” Monyong bibir Harun memperagakan cewe-cewe genit yang dibicarakannya tersebut.
Harun ingat ketika dia memutuskan untuk menikahi Jahrah, banyak sekali nada-nada sumbang yang mempertanyakan pilihan Harun.
“Kamu khan seorang eksektuif?, mengapa pilih istri yang wajah maupun penampilannya biasa-biasa saja?.”
Harun biasanya hanya tersenyum dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dia merasa tidak perlu menjelaskan bahwa istrinyalah yang membuat dia mendapat hidayah. Istrinya mampu menularkan semangat untuk selalu memperbaiki diri, mengingatkan untuk selalu mensyukuri apapun yang dimiliki.
“Kenapa kalian pada sewot pada pilihanku? Yang akan nikah itu aku!” Ditunjuknya dadanya, Harun senyum simpul.
“Huh…perjaka ting-ting!” Serempak suara temannya memberikan balasan.
Maklum, teman-temannya semua pada nikah. Urusan mencarikan jodoh untuk Harun semua pada kompak. Kompak untuk membandingkan, gadis mana yang cocok untuknya. Kelihatannya semua pada repot untuk menilai : Apakah ada keluarganya yang masih gadis : Temannya punya teman yang masih gadis, ataupun penjelajahan di sekitar rumah. Seperti orang yang akan kampanye aja tuh.
“Di dunia ini hanya ada satu tempat yang selalu aku rindukan!” Dengan mimik wajah yang serius dia memelototi teman kantornya.
“Alah…kamu itu, semua orang udah tahu, kamu kan orang rumahan. Mau terus ngemong istri!”
---------------ooo---------------
“Aku sudah siap menyambut suamiku!” Jahrah memperhatikan penampilannya. Berputar-putar di depan cermin. Kemudian sedikit tercenung. Wajahnya pias, tersirat kecemasan yang dalam.
“Wajahku mulai berkerut. Ada kerutan kecil di sudut-sudut mata.” Dengan cemas dia mulai menyentuhnya. Dia merasa penuaan mulai mendatangi. Ada kebimbangan yang dalam. Hening sejenak. Tak tahu apa yang akan dilakukannya.
Dia tahu, teman-teman suaminya sangat detail memperhatikannya. Bila acara kumpul bareng, seakan Jahrah ingin diterkamnya. Keinginan untuk menyatu, tertapis tatapan yang kurang bersahabat. Ada sejumput luka di relung hatinya.
Kadang dia kasihan pada Harun. Berulang kali dia menolak dengan berbagai alasan, tapi Harun selalu mampu membuatnya takluk dengan keinginannya.
Ketika ponselnya berdering, Jahrah langsung meraih teleponnya yang telah diletakkan di meja didepannya. Mejanya bundar berwarna coklat dialas kain bundar yang berwarna hijau yang terbuat dari kayu jati.
“Wa’alaikum salam”, Jahrah menjawab telepon dengan santai menjulurkan kakinya dilantai teras, yang terbuat dari ubin yang berwarna hijau muda yang diberi ornament bunga-bunga kecil dan berwarna merah campur kuning.
“Maaf ya bu, jika sore hari saya tidak bisa”, Jahrah menjawab dengan lembut untuk menolak permintaan rapat mendadak ibu-ibu majlis ta’lim di lingkungannya.
“Maaf ya bu, saya tidak bisa hadir. Suamiku belum datang!” Dengan lembut Jahrah menolak.
Jika pergi dari rumah, dia akan selalu minta restu suaminya. Perasaannya akan bimbang, bila dia tidak yakin suaminya mengijinkannya.
“Assalamu’alaikum”, Harun menghampiri istrinya dan merangkul pundaknya.
“Bidadariku, sambutlah kandamu yang lelah ini. Obatilah hati yang rindu ini!” Senyuman Harun melebar, ketika dilihatnya Jahrah sedikit manyun.
“Ah… baru datang, udah godain! Malu didengar anak-anak.” Akhirnya bibir Jahrah merekah kembali. Senyumnya segar. Wajahnya bercahaya terpantul cahaya sore yang berpamitan.
Ada kesegaran pada istrinya di sore ini dan membuat lelahnya seakan hilang. Inilah yang selalu dirindukannya. Pulang disambut istri. Wangi lagi!
Kata orang cemburu hal biasa dalam rumah tangga. Kecemburuan adalah bumbu penyedap untuk kemesraan yang monoton. Kecemburuan sekali-kali diperlukan agar bisa survive menjalani bahtera yang bernama rumah tangga.
Kecemburuan perlu ada dan perlu dikelola. Kehangatan, rasa sayang, terutama cinta pada pasangan tetap dapat mekar. Seperti tanaman yang harus selalu disiram, dipangkas batang yang mengganggu, mengganti tanahnya agar tumbuhnya lebih subur.
Untuk urusan cemburu, Jahrah jauh dari sifat itu. Dia type wanita yang selalu berbicara dengan fakta. Kata orang, perempuan selalu bicara dengan hati, maka Jahrah pengecualiannya.
Rasa cemburunya kadang selintas hadir bila suaminya berbincang-bincang dengan perempuan cantik di dekatnya. Kolega suaminya sepertinya nggak ada yang jelek di matanya. Mereka semua anggun dan professional. Dibanding dirinya? Orang rumahan, apa yang dapat dibanggakannya? Tapi kecemburuanya mampu dialihkan dengan tepat.
Pada awal pernikahan, Jahrah mengalami kecemburuan yang tak diinginkannya. Seperti mata tombak yang tak mau lepas dari ulu hati. Dalam, berdarah! Dibawa dalam tangis diam-diam.
“Kenapa aku ini? Kenapa aku menangis? Apa yang salah?” kata-kata itu selalu diucapkannya untuk menetralkan jantungnya yang ingin melompat. Badan serasa terhimpit berton-ton dinding batu. Mulutpun ingin mengeluarkan sumpah serapah.
Jahrah tidak ingin merasakannya, tapi badannya tak ingin di ajak kompromi. Dia berontak dengan suara hatinya. Berusaha menghembuskan nafas berkali-kali. Dia pun pasrah. “Aku cemburu!” Desisnya di depan cermin.
Kedatangan sepupu Harun setiap minggunya, membuat jantungnya berdegub kencang. Ada keinginan untuk menolak kehadirannya, tapi tak mampu berucap. Hanya sesungging senyum, mengulurkan tangan. Menyambut kedatangan tamu yang tak diinginkannya.
Asma, begitulah nama tamu itu. Asma dan Harun sangat akrab. Menurut Jahrah, itu tidak etis. Mungkin sebelum Harun menikah, itu hal yang wajar.
“Kamu tidak suka dengan kedatangannya?” Berbisik Harun pada suatu senja. Jahrah terlihat sedikit kikuk, wajahnya bagai rembulan yang kehilangan cahaya. Matanya pun lebih sering memandangi ujung jemarinya yang lentik.
Walaupun baru sebulan pernikahan mereka, rupannya Harun sudah mengenal kondisi istrinya bila ada sesuatu yang kurang pas dihati. Istrinya bertype terbuka. Apapun suasana hatinya, akan terpancar pada wajahnya.
Asma, yang matanya yang indah selalu berbinar-binar, wajahnya putih. Pipinya selalu bersemu merah jika disanjung. Badannya proposional, rambutnya hitam lurus sampai di pinggang. Bila dia mau, mungkin dia bisa jadi aktris sinetron yang terkenal. Dia menyukai pakaian yang agak tertutup, walaupun tidak berjilbab. BIcaranya lembut dan indah didengar ditelinga. Bicaranya santun. Jahrah selalu memperhatikan raut wajah suaminya yang juga bersinar bila bercakap-cakap dengannya.
Ingin sekali dia mengatakan pada suaminya :” Kedatangan Asma membuatku tak nyaman!”
Minggu ini, Asma kembali berkunjung. Membawakan kue pisang belanda kesukaan suaminya.
“Enak nggak? Asma menanyakan pada Harun tentang kue olahannya.
“Kalau kamu yang bikin, pasti enak deh!” Dengan bercanda Harun melempar pandang pada Jahrah.
Harun tertegun sejenak, dia melihat rona mendung meliputi wajah istrinya. Pias, mungkin itulah kata yang tepat. Ada sedikit rasa bersalah pada dirinya. “ Bagaimana aku harus bersikap?”. Harun Membatin.
Harun pun terdiam sejenak, membuat Asma sedikit terheran.
“Hai…bisa-bisanya ngelamun sambil makan!” Asma menggoyangkan kedua telapak tangan di depan wajahnya.
“Nggak tuh, Cuma berusaha menikmati kuenya! Apa nggak boleh!?” Harun berusaha mengelak pertanyaan itu, takut ketahuan jika dia sedang mengalami rasa yang serba salah.
Asma saudara sepupu dan teman terdekat saat kecilnya. Rasa sayang itu, tidaklah mungkin bisa dihilangkan. Kenangan masa kecil yang indah bersama Asma membuatnya kadang tersenyum sendiri.
Kunjugan Asma yang rutin, merupakan hal yang disenanginya. Tapi Harun tahu, istrinya menyimpan sebuah beban. Pilihan sulit untuk menentukan sikap. Melarang Asma datang, berarti membuatnya kangen. Kangennya sering dibawa dalam mimpi.
Bukan kedekatan suaminya yang ditakutkan, tapi Jahrah takut pesona Asma akan melunturkan ikatan cinta mereka. Kedekatan sebagai seorang saudara, mungkin akan berbalik menjadi api asmara yang tak bisa dipadamkan.
Sejujurnya Jahrah tidak menyukai kunjungan Asma ke rumahnya. Tapi Asma selalu rutin berkunjung setiap minggu ke rumahnya dan selain berbincang dengan suaminya juga akrab dengan kedua putrinya. Jadi ketika Asma di rumahnya, Jahrah berusaha tetap hangat walaupun jauh didasar hati dia sangat tersiksa. Jahrah selalu menekankan pada dirinya bahwa Asma adalah saudara suaminya. Asma tidak punya salah padanya. Asma sempurna dimatanya karena Allah yang memberikan kecantikan itu. Kenapa harus membenci Asma?
Begitulah Jahrah selalu mendinginkan hatinya.
“Cantik sekali hari ini. Semoga pernikahan ini langgeng sampai kakek nenek!” Jahrah menyalami Asma.
Hari ini dia begitu tulus berucap. Tidak ada beban. Serasa ikatan yang menghimpit kemudian lenyap bersama debu yang berterbangan.
Itulah pertemuan terakhir Jahrah dengannya. Hingga beberapa tahun, Jahrah seakan melupakan sosok yang sering membuat tidurnya terjaga di malam hari.
-------ooo-------
Masa 3 tahun cukup lama dilewati. Serasa baru kemarin Asma mengalami kecelakaan. Kecelakaan yang hanya menimbulkan beberapa goresan pada tubuhnya, tapi berakibat fatal pada syarafnya. Saat kecelakaan itu, Asma mengalami muntah-muntah dan pingsan beberapa jam.
Pertemuan ini merupakan pertemuan pertama setelah Asma pulang kampung. Barulah Jahrah bertemu kembali dengan suasana yang sangat berbeda. Pertemuan yang membuat Jahrah tidak berkedip memandang Asma.
Bibirnya kelu untuk menyapa. Jantungnya berdegup kencap. Bukan cemburu seperti yang pernah dialaminya diawal perkawinannya, tapi keterkejutan Jahrah ketika Asma menyalaminya dengan senyum.
“Lama nggak ketemu ya…Asma kangen!”
“Kami juga kangen lho! Udah 3 tahun nggak ketemu.” Jahrah merangkul Asma dengan erat. Kecemburuan yang pernah singgah di hatinya, membuatnya sedikit bersalah. Kondisi Asma yang luarbiasa mengejutkan, membuatnya berfikir ulang tentang sebuah “kecantikan”.
“Lihat kunci rumahku?”. Asma bertanya pada orang disekililingnya. Dia pun sibuk merogoh kantong roknya, lalu mencari di atas meja tamu. Bolak balik ke kamar, dapur dan halaman. Nggak ketemu.
Orang serumah memandang sedih padanya. Pikun Asma mulai lagi. Tidakkah dia menyadari dirinya tinggal di rumah ini, rumah orangtuanya. Ada setetes air bening jatuh di pangkuan Jahrah.
Jahrah melihat Asma seperti perempuan berumur 50an. Asma yang baru berusia 30 tahun, terlihat kurus dan kusam. JIka kita berbincang padanya sering tidak nyambung. Asma seringkali lupa dengan apa yang telah dilakukannya.
“Oh… aku tinggal di sini ya?” Asma bergumam sendiri. Ada senyum lembut di sudut bibirnya.
“Permisi, aku belum sholat dzuhur. Maaf aku tinggal.” Kesopanan yang dimiliknya tetap ada.
Kecantikan Asma memang memudar, tapi sifat dasar yang dimilikinya masih ada : Lembut, Sopan dan suka tersenyum tetap ada padanya.
Jahrah pun mendapat pencerahan arti sebuah kecantikan. Kecantikan tidak ada yang abadi. Kepribadian seseoranglah yang akan dibawa mati.
Asma meninggal dalam usia 32 tahun, dengan memberikan pelajaran tentang bagaimana kita seharusnya memandang kehidupan yang hanya sekali ini, membuat Jahrah tambah dekat dengan sang Pencipta.
(Teriring salam untuk semua yang aku kasihi di kota Samarinda : Alika, Ecce, Ayi, Jirin, Yuni)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
10:56 AM
0
comments
Labels: hikmah
Tuesday, June 16, 2009
Keledai Membaca...
Keledai Membaca ...
Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata, "Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."
Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.
Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.
"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."
Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca?"
Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."
"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya?"
Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya."
***
Semoga kita tak seperti itu;
ketika membuka al Qur'an, membaca tanpa mengerti isi nya,
ketika berdoa tak mengerti apa pula yg di amin kan,
ketika sholat tak faham pula apa yg diucapkan,
ketika menjalani kehidupan sehari hari tanpa tahu tujuan nya...
Semoga,
kita dapat membaca,
tidak seperti keledai membaca...
---
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
2:47 AM
0
comments
Labels: hikmah
Saturday, April 25, 2009
Kepada Anakku Yang Durhaka
Oleh: Imran Ahmad
Sumber: warnaislam.com, Selasa, 07 April 2009
Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ketempat (rumah sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.
Anakku tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …
Wahai anakku, sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku … karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut didalam kamarku.
Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …
Diantaranya :
Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??
Sesungguhnya kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …
Sesungguhnya kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …
Kedua : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan memohon dengan merendahkan diri
kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu .. ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang tidak pernah lupa dan tidak tidur …
Ibumu yang terluka
Di dapat dari Abuz Zubeir Al Hawaary, Lc.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
10:51 AM
0
comments
Labels: hikmah
Friday, March 13, 2009
Hijab
Oleh: Muhammad Nuh (muhammadnuh@eramuslim.com)Seorang anak memperhatikan tingkah ibunya yang menurutnya aneh. Ia heran kenapa kalau akan keluar rumah, ibunya selalu menutup rapat seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan di dalam rumah pun, jika tamu datang, ibunya segera melakukan hal yang sama: berhijab.
“Ibu aneh!” ucapnya sambil mencari-cari reaksi dari sang ibu. Ibu anak itu pun menoleh ke arah buah hatinya. Ia memeriksa dirinya untuk menemukan sesuatu yang agak lain. Tapi, tidak ia temukan.
“Aneh? Apanya yang aneh, sayang?” sambut sang ibu ketika yakin kalau tak ada satu pun dari dirinya yang lain dari yang lain.
“Kenapa ibu menutup rambut, tubuh, lengan, dan kaki kalau mau keluar? Padahal, ibu tidak cacat. Rambut ibu bagus, lengan dan kaki ibu pun tidak ada yang perlu disembunyikan!” ungkap sang anak begitu gamblang. Mungkin, inilah kesempatannya untuk bisa mengeluarkan kebingungannya selama ini.
Sang ibu pun senyum. Ia mendekati anaknya perlahan. Sambil mengulum senyum itu, sang ibu mencari-cari jawaban yang pas buat si anak.
“Anakku, ibu tidak sedang menutupi kecantikan, apalagi keburukan. Justru, ibu mengenakan kecantikan baru untuk memperindah kecantikan fisik ibu yang tidak seberapa. Inilah busana kecantikan dari Yang Maha Sayang!” ucap sang ibu sambil menatap buah hati di depannya yang masih tampak bingung.
**
Inti dari dinamika hidup anak-anak manusia adalah memproduksi sesuatu yang indah. Bagus. Paling baik. Keindahan akan semakin indah ketika karya anak manusia telah melalui berbagai halangan, ujian, cobaan; menggosok batu cincin keindahan amal menuju peringkat keindahan yang lebih tinggi.
Namun, itu saja belum cukup. Karena keindahan yang bisa dihasilkan manusia tidak seperti kemolekan alam melalui birunya laut, keserasian cakrawala, dan liukan indah sebuah pegunungan.
Keindahan amal manusia tidak berhenti pada sesuatu yang tampak. Justru, keindahan akan kian bernilai ketika ia tidak lagi mudah terlihat, tidak gampang terjamah. Itulah busana kecantikan amal dari Yang Maha Sayang, dan hanya untuk Yang Paling Penyayang.
Muhammad Nuh (muhammadnuh@eramuslim.com)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:53 AM
0
comments
Labels: hikmah
Wednesday, February 25, 2009
Kalung Fatimah
Oleh : Muhammad Bajuri
(Sumber: RoL, 25 Juni 2002)
Suatu hari, kepada Rasulullah saw datang seorang tamu ibnu sabil yang kehabisan bekal. Karena di rumahnya tidak ada sesuatu yang layak untuk diberikan, maka nabi meminta Bilal agar mengantar tamu itu ke rumah Fatimah. Di rumah putri nabi itu juga tidak ada sesuatu, maka dengan hati tulus dan ikhlas, Fatimah memberinya kalung hadiah pernikahannya dengan Ali. ''Ambillah kalung ini dan juallah! Mudah-mudahan harganya cukup memenuhi keperluanmu!'' kata Fatimah.
''Berapa hendak kamu jual kalung itu?'' tanya Ammar bin Yasir.
''Aku akan menjualnya dengan tukaran roti dan daging sekadar untuk mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku, dan uang satu dinar untuk menemui istriku,'' kata si tamu.
Ammar berkata, ''Baiklah, aku membeli kalung itu dengan harga 20 dinar, ditambah 200 dirham, ditambah sebuah baju, serta seekor unta agar kamu dapat menemui istrimu.''
Setelah itu Ammar berkata kepada budaknya, Asham. ''Wahai Asham, pergilah sekarang menghadap Rasulullah. Katakan bahwa aku menghadiahkan kalung ini dan juga kamu kepadanya. Jadi, mulai hari ini kamu bukan budakku lagi, tetapi budak Rasulullah.''
Ternyata Rasulullah pun berbuat sebagaimana Ammar. Ia menghadiahkan kalung itu dan juga Asham kepada Fatimah.
Fatimah sangat bahagia menerima hadiah dari ayahandanya, sekalipun dia tahu bahwa kalung ini semula memang miliknya. Dia sadar, ternyata kebaikannya yang hanya sekadar memberi kalung mendapat balasan berlebih dari Tuhan, yaitu dengan ditambah seorang budak. Lalu Fatimah berkata kepada Asham, ''Wahai Asham, kamu sekarang bebas dari perbudakan dan menjadi manusia merdeka, aku melakukan semua ini karena Allah semata.''
''Mengapa kamu tertawa seperti itu,'' tanya Fatimah yang merasa heran melihat Asham tertawa terbahak-bahak.
''Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung yang beriwayat ini. Ia telah mengeyangkan orang yang lapar. Ia telah menutup tubuh orang yang telanjang. Ia telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya ia telah membebaskan seorang budak,'' jawab Asham.
Rasulullah bersabda, ''Siapa saja yang ingin doanya dikabulkan dan kesusahannya dihilangkan, maka bantulah orang yang sedang kesulitan.'' (HR Ibnu Abi ad-Dunya)
Wallahu'alam bis shawab.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:21 PM
0
comments
Labels: hikmah
Friday, December 26, 2008
Rindu Sang Nenek
(sumber: dari sebuah mailing list, maaf lupa mailing list mana, sudah lama)
Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur.
Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.
Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuantua itu datang. Pada hari itu, sang nenek datang dan langsung masuk masjid. Usai shalat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya.
"Jika kalian kasihankepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."
Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: 1. Hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; 2. Rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup.
Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.
"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."
Kisah ini dituturkan oleh seorang Kiai Madura, D. Zawawi Imran, yang membuat bulu kuduk kita merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Alloh swt.
Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasululloh SAW?
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:53 PM
0
comments
Labels: hikmah
Wednesday, December 17, 2008
Sepuluh anugerah Ilahi
Mutiara Berserak (3)
Abu Bakar ra. mengatakan:
Apabila seseorang telah dianugerahi
Sepuluh anugerah dari Ilahi
Sungguh ia telah dilindungi
Dari malapetaka yang menyelimuti
Dan termasuk hamba yang dekat dengan Ilahi
Serat memperoleh penghargaan "orang suci"
Pertama, kejujuran abadi disertai ketulusan hati
Kedua, kesabaran sempurna disertai
rasa syukur sepanjang masa
Ketiga, kondisi fakir disertai sikap zuhud
yang selalu hadir
Keempat, tafakur tentang mahluk
disertai lapar yang mengetuk
Kelima, kegelisahan jiwa disertai ketakwaan
pada Sang Esa
Keenam, kesungguhan hati disertai
sifat rendah hati
Ketujuh, ramah tamah disertai dayang
dan penuh kasih
Kedelapan, cinta sejati disertai upaya mawas diri
Kesembilan, ilmu manfaat disertai
kemauan ntuk berbuat
Kesepuluh, iman yang teguh disertai akal yang kukuh.
Quoted from:
"Menuju Pintu Tuhan, Mutiara Berserak",
Ibnu Hajar Al Asqalani,
A. Nasikhin Syaba (terj),
Risalah Gusti, Surabaya, Agustus 2000, cet i.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:49 PM
0
comments
Labels: hikmah
Tuesday, November 18, 2008
Kegelapan dan penerangnya...
Mutiara Berserak (2)
Abu Bakar ra. berkata :
Ada lima kegelapan dan lima penerangnya,
Kegelapan pertama cinta harta,
penerangnya dengan bertakwa
Kegelapan kedua laku maksiat,
penerangnya dengan bertobat
Kegelapan ketiga di alam kubur,
penerangnya dengan berdzikir
Kegelapan keempat alam akhirat,
penerangnya dengan bertaat
Kegelapan kelima jembatan shirath,
penerangnya dengan i'tiqad.
---
Quoted from :
"Menuju Pintu Tuhan, Mutiara Berserak",
Ibnu Hajar Al Asqalani,A. Nasikhin Syaba (terj),
Risalah Gusti, Surabaya, Agustus 2000, cet i.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
7:49 PM
0
comments
Labels: hikmah
Sunday, September 14, 2008
Only For Allah
(Source: www.jannah.org)
On the morning of Thursday, November 6, 1997 my identity became clear not only to me, but to every person I would encounter from that day forward. I decided to wear the hijab and begin to develop myself as a more conscientious Muslim woman. It was on that very day that I revealed to the world that I am a Muslim and that I was no longer afraid to be who I was.
For those of you who are unfamiliar with the term, hijab, it literally means 'barrier' or 'something that covers or conceals completely'. In today's non-Islamic societies, the true meaning of the hijab is often replaced with such notions as scarves, kerchiefs, or 'head-pieces' - as one of my co-workers eloquently put it. Many people are simply uneducated about the why Muslims must dress modestly and because of this profound lack of knowledge and understanding many stereotypes and misconceptions arise.
I am not going to go into the intricate details about the purpose of the hijab or submerse myself in the ongoing debate as to whether or not the hijab is an obligatory practice for Muslim men and women. There are many fabulous books available that go through the ins-and-outs of appropriate Muslim dress. Better yet, I implore all of you to pick up a Qur'an, and read over the verses concerning modesty and dress.
In surah 24: Al Nur (or The Light), verses 30-31 it says:
"Say to the believing men that they should lower their gaze and guard their modesty: that will make for greater purity of them: And Allah is well acquainted with all that they do. And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty: they should not display their ornaments except what must ordinarily appear thereof; that they should draw their veils over their bosoms and not display their beauty..."
Today, I am simply here to share with you my personal experiences in hope that you may find some meaning and sense of inspiration in what I have to say.
Raised in a Muslim family, I was brought up with the basic, fundamental principles and values that Islam instills. I was taught to pray, to fast, to be kind-hearted, generous and to share the deen of Allah graciously with those around me. The thought of one day 'covering my head' occasionally popped into my mind, but the thought that almost always followed was - "Not until I'm ready!" I never really understood what hijab meant. I often thought that it was man's clever way of keeping woman under his control.
I soon came to realize that I very wrong. In fact, the hijab was the perfect outlet for women to seek liberation, respect and ultimate freedom from sexual harassment and the liking. For years and years I would wake up extra early to style my hair according to what was 'in' at the time. I would spend over an hour caking make-up onto my face, trying to look beautiful - but never quite sure for who? Each morning I would eventually make my way out into the world - not really prepared to be judged, solely on my physical appearance, by every person I was to encounter along my path.
Now that I look back at who I was then, it makes me grateful to Allah (SWT) to see how far he has brought me. For a time, I was confused and somewhat lost, as are many young women in non-Islamic nations - trying desperately to fit in to a society that dictates that beauty is naked, emaciated teenagers on a billboards selling perfume and underwear. I recently read that some of those models and actors that I once adored, practically have to kill themselves to look the way they do. From face-lifts to lipo-suction. Some even go as far as having their ribs removed so they can have tiny waists!
The harder I tried to fit in, the more frustrated I became. It finally dawned on me that the images being flashed in front of me 24 hours a day could not possibly be true representations women's liberation. I was convinced that there had to be a simpler answer somewhere.
It was at this point that I decided it was time to put some more thought into this whole 'hijab' issue. And I did. For 3.5 years I contemplated the thought of wearing hijab, but the fear inside of me was overwhelming. I was afraid of what my friends would say. I was afraid of what my professors and colleagues might think. I was terrified that I would be harassed at work, or even worse - fired! All of these thoughts raced through my mind, day in and day out. Each time I seriously though about doing it I would say, "But, I'm not ready yet!" A very convenient excuse I must say!
I finally said to myself, "Jennifer, look at the big picture!" Now, when I say big picture, I don't mean next week, or in a few months or even 25 years down the road. I mean the akhira - the hear-after. I asked myself a very straightforward question. Who am I going to fear? These strangers who I know not or Allah? I finally convinced myself that it was time for me to take this step closer to Allah, as difficult as it may have seemed at the time.
As I was having my very last doubt the verse in Surah Al Baqarah (verse 286, I believe), continued to penetrate my heart: "La yukalif Allah nafsin ila was3ha". "On no soul doth Allah place a burden greater than it can bear". These are the very words that gave me the courage to finally make the right choice. It was at that very moment that I said, "Allah, I will wear this hijab because I believe in my heart that you have asked me to do so. Please guide me and give me the strength to do this."
Just over a year has gone by now and I can honesty tell you that I have never felt more free or more at peace with myself and the world around me. In all fairness I will be honest and tell you that it wasn't an easy thing to do. Quite frankly, it was probably the most difficult challenge I've had to face in my life. Isn't it ironic how that works? The things that will benefit us most and that make the most sense are often those we fail to realize or have difficulty accepting.
I've had to deal with a variety of off-the-wall comments. But what it all boils down to is me making a personal decision to increase my faith and become what I believe to be a better Muslim. To me the hijab not only represents modesty, purity, righteousness and protection but truly is the ultimate state of respect and liberation. Alhamdou lilah, I am free!
I am a Muslim woman
Feel free to ask me why
When I walk
I walk with dignity
When I speak
I do not lie
I am a Muslim woman
Not all of me you'll see
But what you should appreciate
Is that the choice I make is free
I'm not plagued with depression
I'm neither cheated nor abused
I don't envy other women
And I'm certainly not confused
Note, I speak perfect English
Et un petit peu de Francais aussie
I'm majoring in Linguistics
So you need not speak slowly
I run my own small business
Every cent I earn is mine
I drive my Chevy to school & work
And no, that's not a crime!
You often stare as I walk by
You don't understand my veil
But peace and power I have found
As I am equal to any male!
I am a Muslim woman
So please don't pity me
For God has guided me to truth
And now I'm finally free!
Reprinted with Permission
(c) Jenn Zaghloul 1998 [only4allah@hotmail.com]
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
2:48 PM
0
comments
Labels: hikmah
Sunday, September 7, 2008
Nyaman Dengan Berjilbab
(Sumber: KotaSantri.com)
Nama saya Nakata Khaula. Saya seorang pelajar dari Jepang yang menimba ilmu di Perancis. Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali dengan Islam, termasuk tentang shalat dan penggunaan jilbab. Namun setelah mendengarkan khutbah di sebuah Masjid di Paris, tentang makna pemakaian jilbab pada wanita, saya mulai tertarik dengan Islam dan jilbab.
Ketika saya kembali ke pangkuan Islam, agama asli semua manusia, perdebatan sengit tengah terjadi di sekolah-sekolah Perancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan terutama keturunan imigran Timur Tengah hingga beberapa waktu lamanya. Saya melihat bahwa sebagian orang menganggap jilbab adalah bagian dari budaya yang dapat dilepas jika kita berada di dunia Barat dan dipakai ketika kita berada di negara Muslim. Ini salah besar! Seorang muslim bukanlah bunglon yang harus menyesuaikan dirinya dimana ia berada; menanggalkan jilbabnya dan mengganti prinsipnya dalam berpakaian. Jilbab adalah pakaian, sama halnya dengan orang Barat menggunakan jaket dimana terserah mereka akan menanggalkannya atau tidak.
Tahap pertama, saya hanya mengenakan jilbab kecil yang saya gunakan setiap saya memasuki masjid. Kemudian saya merasakan kenyamanan dan menggunakannya tiap hari, kapan saja dan dimana saja. Di Paris, saya menggunakan jilbab modis yang ala kadarnya, sekedar penutup kepala.
Dua pekan sesudah saya masuk Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan sastra Perancis, dan sebagai gantinya saya memilih kajian Arab dan Islam. Ternyata, Jepang masih awam perihal Islam dan Muslim. Kembalinya saya ke Jepang membuat saya nampak dikucilkan. Herannya, ini justru membuat keislaman saya semakin meningkat dan saya semakin bersemangat untuk mendalami Islam.
Langkah pertama yang saya lakukan begitu tiba di Jepang adalah membuang pakaian lama saya yang ketat dan buka-bukaan. Kemudian, bersama teman saya, kami membuat rancangan pakaian sederhana yang mirip dengan pakaian Pakistan. Mulailah saya mengenakan pakaian Muslim Pakistan, kemana saya pergi. Saya juga tidak merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya.
Sesudah enam bulan di Jepang, hasrat untuk mempelajari Islam dan Arab semakin meningkat dan akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Kairo. Disana, pakaian saya yang tergolong sangat sopan di Jepang menjadi biasa-biasa saja atau malah sedikit ketat di Mesir. Seorang saudari Muslim di tempat dimana saya tinggal, mengajarkanku untuk berpakaian yang lebih pantas. Tadinya saya menganggap wanita itu berlebihan karena memakai penutup wajah (cadar). Akan tetapi setelah saya bercermin, saya sadar bahwa saya yang kelihatan aneh, karena memakai jilbab dengan pakaian yang tidak pantas untuk dipakai diluar rumah.
Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap untuk menutup wajah saya, meski saya tahu bahwa menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata. Dulu sebelum mengenal Islam, saya begitu akrab dengan pakaian model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif. Namun, tak disangka, long-dress yang saya pakai di Kairo ini begitu nyaman dipakai dan saya masih tetap bisa aktif, bahkan lebih anggun dan santai.
Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara makan malam, karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saya melihatnya juga demikian ketika sekumpulan saudari-saudari baruku di Kairo, berpakaian hitam. Saya pun juga demikian. Namun, ketika saya kembali ke Jepang, saya sedikit demi sedikit menyamarkan pakaian hitam dan tidak terlalu sering memakainya. Saya menganggap bahwa setiap budaya memiliki cirinya sendiri. Di Jepang, memakai pakaian hitam akan sedikit mengejutkan. Kemudian, saya membuat beberapa pakaian putih dan beberapa warna yang cerah. Ternyata, orang Jepang lebih mudah menerima warna-warna ini dan mengira saya seorang suster Buddha.
Seringkali saya ditanya mengenai alasan saya mengenakan baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Saya lalu menjelaskan bahwa saya memakai pakaian seperti ini untuk kenyamanan diri saya. Tubuh yang tersembunyi dalam balutan baju yang longgar dan tertutup akan membuat saya jauh dari godaan pria yang tidak tahan godaan. Dan sering pula, orang yang menanyakan hal itu menjadi tertarik dengan Islam dan ingin bercakap-cakap lagi tentang Islam. Dengan sekejap jilbab ternyata mampu membuat orang secuek orang Jepang terpancing keingintahuannya tentang Islam.
Awalnya, ayah saya sempat cemas dengan keislaman diri saya. Pakaian longgar dan kepala tertutup rapat itu sempat membuatnya khawatir. Namun setelah saya jelaskan bahwa saya melakukan hal ini dengan senang hati, ia mulai mengerti dan menghargai pilihan saya. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman ketika melihat adik perempuan saya hanya memakai celana pendek.
Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan mereka ketika di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan agar perempuan selalu cantik di depan suaminya dan tidak berdandan terlalu mewah ketika keluar dari rumah. Ini sebuah tatanan yang indah dan anggun, sehingga melanggengkan hubungan suami istri di dalam kehidupan rumah tangga. (diedit dari fosmil.org) (wida)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:18 PM
0
comments
Labels: hikmah
Tuesday, August 5, 2008
Perempuan Terbaik
(Sumber: www.eramuslim.com)
Wahai bunda
hanya Tuhan saja yang dapat membalas jasamu erana Tuhan saja yang tahu penderitaanmu
(Nasyid dari Nowseeheart)
Saat itu saya masih empat belas tahun. Untuk pertama kalinya, saya harus berpisah 'jauh' dengannya, perempuan terbaik yang pernah kenal. Tatkala tangan-tangan itu melambai, rasa bersalah berdentam-dentam di rongga dada. Ugghhh... kenapa saya tega meninggalkannya sejauh itu. Belum terbayang, kapan lagi saya akan kembali bertemu dengannya.
Sebelum perpisahan jarak 'jauh' itu, jarang sekali bunda enggan memberi izin, bila saya minta izin bepergian. Suatu ketika, saya pamit untuk pergi camping, mengikuti kemah pramuka Sabtu-Minggu di dekat gua stalagnit di kampung kami. Untuk pamitan dua hari itu pun, izinnya didapat dengan alot sekali.
"Hati-hati ya nak... jangan merusak alam, jangan berbuat macam-macam hati-hati... jangan..."
Berkali-kali nasehat itu diperdengarkan, risau sekali beliau akan keselamatan puteranya. Padahal, namanya juga acara anak SD, camping perkemahan Sabtu-Minggu itu di back-up puluhan guru pembina. Jumlah guru yang menyertai camping hampir sama banyak dengan jumlah murid, sebagai bukti keseriusan pihak sekolah untuk menjamin keselamatan kami. Tapi, namanya bunda, ia tetap saja penuh kekhawatiran pada keselamatan anaknya. Raut wajahnya tampak sangat mencemaskan puteranya yang berkeras untuk tetap pergi.
***
Tak lama berselang setelah perpisahan 'Sabtu-Minggu' itu, perpisahan 'jauh' benar-benar terjadi. Kali itu bukan camping di pinggir kecamatan. Tapi saya harus terbang menyeberangi lautan. Untuk melanjutkan studi ke sekolah dambaan. Tak terbayangkan bagaimana perasaan bunda melepas bocah kecilnya sejauh itu.
Satu tahun berselang, di sebuah libur panjang sekolah, saya kembali bertemu bunda. Sejuk wajahnya dan binar ketulusannya masih sama. Pehatian dan kasih sayangnya pun belum berubah. Cuma mungkin penampilannya sedikit berubah. Kilau perak mulai terselip di rambutnya.
Sejak saat itu, dengan dalih cita-cita, berulang kali saya meninggalkanya. Berulang kali beliau harus membekap kerinduan, memasung rasa kasih pada buah hatinya. Pada saat saya tergelak tertawa dengan konco sekodan, mungkin bunda sedang tenggelam dalam isak tangis kerinduannya. Saya sendiri, bukan tidak rindu padanya, warung bubur kacang ijo gang Masjid mungkin pelampiasan paling manjur, kalau rasa kangen padanya sedang meradang. Maklum setiap libur sekolah bunda selalu setia menanti dengan bubur ijo kesukaan puteranya. Jauh hari sebelum puteranya datang, berkilo-kilo kacang ijo sudah dipesannya untuk putera tersayang, yang belum jelas tanggal kedatangannya.
Saat melihat ibu-ibu lanjut yang berjalan sendiri di keramaian pasar, ingin rasanya menyapa mereka, mengajak bersenda-gurau, sambil berharap bunda juga diperlakukan ramah pula oleh lingkungannya. Kala menjumpai nenek yang beringsut membawa belanjaannya, terketuk keinginan untuk menawarkan bantuan, karena terbayang bunda yang tertatih-tatih dengan bebannya. Jika sudah mengkhayal begini, pertanda kerinduan padanya telah mengkristal. Cuma doa yang mampu dirangkum saat itu, semoga Allah Yang Menguasai langit dan bumi, menjaga dan menyayangi bunda.
Bila melihat pertikaian di tengah kampung kami, berbicang dengan bunda adalah solusi terbaik.
"Jangan pikirkan apa pelakuan orang yang mendzalimi kita, pikir saja kekhilafan kita, coba memperbaiki diri, jangan menghiraukan kata-kata sampah yang datang dari kaum jahil, persekongkolan para pendengki para itu sudah jelas sejak perang Khandaq. Belajarlah untuk menjadi hamba yang tulus, yang tak terganggu dengan perlakuan manusia, tapi niat karena-Nya harus benar, jangan pernah berharap pada makhluk."
Plong. Kepala yang tadinya cekot-cekot sepulang melihat perseteruan di balai desa langsung terobati.
Berbicara tentang ketulusan, ketulusan seorang ibu mungkin nomor satu. Saat bayi lemah tanpa gelar kesarjanaan itu lahir, dengan penuh khidmat, kasih sayangnya mengalir lancar tanpa pamrih. Menabur benih kebaikan kepada makhluk yang 'bukan siapa-siapa' memang aneh di era kapitalisme ini. Tapi itulah bunda, yang tak melihat apa yang akan didapatnya dengan membesarkan kami. Memperoleh senyum manis kerabat saat kenduri tetangga mungkin sudah lumrah, tapi mendapatkan perhatian penuh kasih bunda saat demam meradang menjelang subuh, itu baru luar biasa.
***
Dari Abu Hurairah Radiyallahu 'anhu berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu."
Tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau menjawab, "Ibumu"
Kemudian tanyanya lagi, "Kemudian siapa?"
Beliau mejawab, "Bapakmu."
(Muttafaq 'alaih).
***
Mu. Abdur Razzaq
Untuk bunda, perempuan terbaik yang saya kenal.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:19 PM
0
comments
Labels: hikmah
Thursday, July 10, 2008
Janji untuk Ibu
(Sumber: Eramuslim, 18/02/2005)
Pautan dua cinta yang terikat kuat antara ibu dan anak sepertinya takan pernah putus. Tetapi kekokohannya bukan tidak mungkin usang dan kendur. Dan selalu anak yang mengendurkan tali kasih itu. Ibu, rasanya terlalu mulia untuk dituduh mengusangkan kekokohan pautan cinta suci yang berakar di hatinya.
Ibu tidak pernah mengumbar janji untuk menyayangi anaknya. Derai air mata dan cucuran peluhnya jauh lebih nyaring mengatakan "sayang" ketimbang janji manis atau bahkan omelannya ketika si anak berulah. Baginya cinta dan sayang selalu ada untuk anak-anaknya, hingga ia tak perlu lagi janji, karena janji hanya untuk sesuatu yang belum tersedia.
Tetapi janji adalah suara sehari-hari yang sampai ke telinga seorang ibu dari mulut anak-anaknya. Dan sering kali janji itu jauh lebih memekakan telinga daripada menjernihkan mata karena melihat bukti dari janji-janji itu.
Seorang anak yang merasa sudah cukup sukses suatu ketika berucap janji kepada ibu yang disayanginya. "Ibu, kalau sudah punya cukup uang saya ingin sekali mengongkosi ibu dan ayah naik haji." Ibunya tersenyum. Dari ujung matanya kristal-kristal bening meleleh. Didekapnya buah hati yang memiliki niat baik itu. Tanpa suara. Hanya dadanya yang bergemuruh memikul haru yang begitu besar. Bayangan masa-masa kecil anaknya yang menyimpan banyak kenangan manis lalu pun hadir. Disusul bayangan kerinduan yang sangat untuk berziarah ke baitullah. Dalam hatinya ia berucap, "Semoga niat sucimu terkabul, sayang." Dan sebuah kecupan mendarat di dahi puterinya yang cantik itu.
Waktu pun berlari menyisakan hitungan hari, hingga pada suatu saat keberuntungan berpihak pada puteri cantik pemilik niat baik itu. Bersama suami dan anak-anaknya ia kembali ke tanah air dari tugas dinas suaminya. Tentu di kantong keluarga kecil itu telah terkumpul cukup uang. Hal ini dipahami oleh sang ibu. Seketika hatinya berbunga menyambut kepulangan anak, mantu, dan cucunya.
Namun meski demikian, pantang bagi si ibu untuk mengungkit janji yang pernah diucapkan puterinya tentang naik haji itu. Ia tak ingin selaksa amalnya terkotori oleh sedikit pun pamrih. Namun, puterinya yang cantik itu seperti lupa dengan janji yang diucapkannya. Seminggu, sebulan, dua bulan, dalam hati, seorang bunda menunggu-nunggu anaknya yang mungkin akan memberikan buku ONH (Ongkos Naik Haji) atas namanya dan suaminya. Waktu pun berlalu tanpa suara, seperti tak berani janji kapan peristiwa itu akan terjadi. Hingga tibalah suatu hari, hati seorang bunda pecah dalam diam ketika anaknya itu membeli sebidang tanah seharga tiga kali ongkos haji untuk dibuat kolam ikan dan tempat peristirahatan keluarga kecilnya bila pulang ke desa.
Tak tahu sebesar apa gemuruh yang bergelombang di dada ibu, hanya dia yang tau, karena ia tetap tersenyum di depan semua anaknya. Tak terkecuali di depan puterinya yang cantik itu. Ia tak pernah menagih janji anaknya, bahkan sekedar mengungkit pun tidak. Tapi, entah isyarat apa ketika ikan-ikan di kolam anaknya tak pernah menghasilkan keuntungan. Rumah peristirahatannya pun menjadi hanya sebatas rumah kosong yang tidak banyak memberi manfaat. Lalu, entah isyarat apa ketika anak-anak yang lain yang ikut menggunakan uang anak perempuan ibu itu untuk berbagai usaha, tak satu pun dari mereka yang sukses. Alih-alih, sebuah kesalah-pahaman keluarga terjadi meretakan keharmonisan keluarga ibu yang diingkari janji itu.
Entah isyarat apa. Apakah itu akibat sakit hati ibu karena anaknya sendiri telah mengingkari janji untuknya? Hanya "mungkin" jawabannya. Karena senyum ibu tidak pernah berubah untuk semua anaknya; do'a ibu tidak pernah berganti untuk semua buah hatinya, selalu untuk kebaikan; dan pangkuan serta pelukannya selalu terbuka untuk seluruh belahan jiwanya. Tapi apakah seorang ibu tidak bisa sakit hati? itu juga pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Karena ibu juga manusia biasa, tapi sangat luar biasa jasanya. Terlalu mahal semua jasanya untuk ditukar dengan janji-janji kosong. Mungkin kekebalan hati seorang ibu telah mampu menyembunyikan sepedih apapun sakit hatinya, namun Allah tetaplah Dzat yang Maha Adil yang telah mentakdirkan Rasul-Nya bersabda: "Keridhoan Allah ada dalam keridhoan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah ada dalam kemurkaan Allah."
Mungkin lautan kasih sayang ibu terlalu dalam untuk sekedar menenggelamkan sebesar apapun kesalahan anak-anaknya hingga tak muncul kepermukaan. Tetapi sebagai anaknya, kita harus memahami sifat manusiawi ibu kita, bahwa beliau juga punya hati yang sakit jika tergores. Dan yang pasti Allah adalah Dzat yang Maha Adil, dan tidak pernah lupa dengan janji-janji yang tertuang dalam ajaran-ajaran Rasul-Nya. Jadi, berhati-hatilah memelihara janji yang pernah diucapkan di hadapan bunda.
Wallahu a'lam.
***
Zamzam M. Ma'mun
Seketika setelah mendengar teteh menjanjikan ongkos naik haji untuk Umi dan Apa. "Teh, Semoga Allah memberi taufiq untuk menepati janjimu pada Umi dan Apa."
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
7:53 AM
0
comments
Labels: hikmah
Saturday, July 5, 2008
Kenapa Mesti Malu?
Oleh Seriyawati
(Sumber: eramuslim.com)
Hari itu seperti biasanya saya mengantar dan menjemput Kiki, anak perempuan saya latihan Shorinji kempo. Dan ketika menjemputnya, saya melihat dia berbicara dengan temannya, seorang anak laki-laki yang sama-sama belajar kempo.
Saya tidak begitu menaruh perhatian pada mereka dan tetap menunggu anak saya selesai berbicara.
"Ada apa, Ki?" tanya saya setelah Kiki mendatangi saya.
"Teman Kiki bilang, 'Kenapa Mama memakai pakaian seperti itu di Jepang? Apa ngga malu?" jawab Kiki.
"Terus Kiki, jawab apa?" tanya saya lagi.
"Mama nggak malu, kok. Mama pakai baju orang Indonesia.., " jawab Kiki.
"Ini pakaian orang Islam, Kiki, bukan pakaian orang Indonesia. Memang Mama ngga malu, kok. Nggak usah malu. Ya, jangan malu... " jelas saya.
Sambil mengayuh sepeda menuju pulang, saya bertanya lagi.
"Terus... Teman Kiki bilang apa lagi?" tanya saya tertarik.
"Dia cuma bilang, 'Oohhh'...."
"Hebat ya Kiki, bisa ngomong gitu sama temannya..., " puji saya.
"Lagipula kenapa harus malu, ya... " kata saya lagi.
"Oh ya, Kiki malu ngga dengan Mama?" tanya saya ingin tahu.
"Ngga... " sahutnya kalem.
Syukurlah. Saya menarik napas lega diam-diam.
***
Suatu hari saya mengajak anak-anak ke rumah teman.
Begitu memasukkan tiket, kereta listriknya datang dan segera pergi lagi meninggalkan kami yang tergopoh-gopoh menuruni tangga mengejarnya.
Tetapi akhirnya kereta listrik itu berangkat tanpa kami di dalamnya.
"Yaaahhh... Kita harus nunggu 10 menit lagi, " kata saya kecewa.
Anak-anak pun terlihat kecewa.
Sewaktu menunggu kereta bawah tanah datang, saya lihat anak-anak saya berbisik-bisik.
"Ada apa, sih?" Rasa keki membuat saya mengajukan pertanyaan.
"Itu ada teman Kiki. Miraretakunai...(ngga mau dilihat sama dia). "
"Kenapa? Kiki malu?" tanya saya seakan tahu apa yang dikhawatirkannya.
"Kalau ketemu nanti Kiki jadi harus ngomong begini begitu, " kata Kiki.
"Ngomong begini begitu, apa maksudnya, Ki?" tanya saya keheranan.
"Iya, Kiki kan jadi harus nerangin kenapa Kiki pake ini, " katanya sambil memegang jilbab warna biru mudanya.
"Tapi kan... Kalau dia teman Kiki yang baik, yah ngga apa-apa dong kalo lihat Kiki pakai jilbab?" tanyaku menyelidik.
"Hmmm..., " sahut Kiki pelan bernada ragu.
"Cuma malas aja kok ngejawab tanya-tanya, teman Kiki itu."
"Memangnya Kiki malu ya dilihat teman sekolah sedang pakai jilbab?"
tanya saya. Saya lihat Kiki diam sejenak dan menggeleng.
"Nggak, inilah Kiki yang sebenarnya. (Hontou no Kiki no shotai). Kenapa Kiki mesti malu!" jawabnya tiba-tiba.
"Begitu, dong!" kata saya membanggakannya.
***
"Bukan kita yang mesti malu dengan pakaian yang kita pakai. Lagipula kenapa kita mesti malu? Bukankah kita memakai pakaian yang memang disuruh Allah. Kalau kita pakai baju yang kelihatan pahanya, bahunya,
lehernya, nah orang yang pakai itu yang harusnya malu. Iya, ngga, Ki?"
tanya saya minta persetujuannya.
Tapi kenapa ada teman mama yang ngga pakai jilbab?" serbu Kiki.
Glek. Saya terdiam sejenak.
"Iya, mungkin mereka belum tahu, Ki. Mereka belum tahu bagaimana nyaman dan enaknya memakai ini. "
Tangan saya menunjuk pakaian panjangnya.
"Yang mama yakin, kalau mama memakai ini, perasaan mama tenang. Ngga ada perasaan bersalah, dan yang penting mama ngga mau dimarahi Allah. "
"Dimarahi Allah, Ma?" tanya Kiki bernada kaget.
"Iya. Kan, kalau ngga ikut kata Allah, nanti Allah marah, ngga sayang sama kita... "
"Mama pernah baca di buku, katanya orang yang ngga memakai jilbab akan dijauhkan dari surga, dan takkan mencium baunya surga. Wah, takkan mencium bau surga... Artinya jauh dari surga, malah ngga masuk surga dong ya... " jelas saya.
"He! Ngga mau ah... Kiki mau masuk surga, " kata Kiki antusias.
Jauh di dalam hati saya merenung. Masih banyak PR yang mesti saya siapkan yang harus saya ajarkan kepada anak-anak saya. Betapa Islam itu indah dan penuh keringanan-keringanan bagi penganutnya. Tidak ada keberatan-keberatan yang tak bisa dipikul hamba-hamba-NYA. Bukankah Allah takkan memberi cobaan di luar kesanggupan hamba-NYA?
Rasulullah salallahu 'alaihiwassalam bersabda, "Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Dan malu adalah salah satu cabang iman. "
Rasulullah juga bersabda, "Malu itu tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan. "
" Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Hal itu agar mereka lebih mudah dikenal dan karena itu mereka tidak diganggu" (al-Ahzab, 59).
Nagoya, Maret 2007
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:16 PM
0
comments
Labels: hikmah
Monday, June 16, 2008
Hijab Story - by Tara Dahane
Hijab Story
Muslim convert Tara Dahane relates how she came to wear hijab.
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
I want to share my story about my journey to wear hijab in the hope that some aspiring sister will glean strength from it, insha'allah. Sisters, you can do it! Just keep in mind that you need to please Allah (swt) before you please anybody.
I converted to Islam May 1996 after having been reading about it for almost 6 years. I have never regretted it only wish that I had took shahada sooner. I did not wear hijab at first, only to wear to the mosque and during prayer times. I was aware that the condition of being a Muslimah required covering modestly yet I couldn't act on it because of my fear of other people. I was afraid of how they would treat me such as looking upon me in pity, in utter disgust, or just plain hatred. Actually my first bad encounter with hijab happened with my sister. She picked me up from the mosque one day and when I got inside the car she told me to "take that "s***" off my head" I am soooo glad that the people standing out in front of the mosque and especially my hubby did NOT hear what she said. Needless to say, I refused to take off my hijab until I got home.
Over the next three years my iman [faith] would increase gradually as I pursued knowledge in Islam more. In 1999 my iman was even stronger than the preceding years so much so that the hijab issue began to trouble me. It worried me so much because I actually thought of myself as "sinning" I had a choice to make, who was I supposed to be afraid of Allah or other people? Of course Allah is number one so my next step was the issue between head covering and face covering. I researched the Quran, ahadith, articles, spoke with other muslimahs who wore hijab, even to the brothers. My conclusion was based on the fact that yes hijab is obligatory based on two ayat in the Quran, Al-Ahzab 33:59 and An-Nur 24:30-31, as well as the hadith of Asmaa (RA) the daughter of Abu Bakr came to the Rasulullah (SAW) while wearing thin clothing. He approached her and said: "O Asmaa! When a girl reaches the menstrual age, it is not proper that anything should remain exposed except this and this." And he pointed to the face and hands. I believe face veiling is optional as you are striving to emulate the Mothers of the Believers who by the way were special and no one can ever be like them. I believe that there is no sin for not wearing the face veil but rather it is a symbol of more modesty and a higher reward, insha'allah.
Armed with this I planned to wear my hijab in to work the first day of Ramadan. I had even layed out my veil and pins the night before so I didn't have the excuse of "forgetting" to wear it. Once I arrived at work I became more nervous because there were people looking at me in the parking lot already! With each step I got closer and closer to the building where I worked and strangely more and more calm. Until I was on the elevator and in my office in no time. I breathed a sigh of relief that I hadn't ran into anyone in the halls though. And my did I have a surprise waiting for me. Each co-worker that passed me by just treated me like they always did on a normal day. One even remarked that my veil was beautiful and at least two asked me if it was a special occasion (I had to laugh at that one) At the end of the day I couldn't believe that I had worked myself up about nothing all of these years!
It was truly a success to wear hijab and I feel beautiful because I am doing a thing that pleases Allah (swt) I even get more respect when I am out. I don't care what people think anymore. If I find them staring at me I look back and smile. I am more often than not surprised to see them smiling back at me. For the ones that consider me a source of amusement, the feeling is mutual!
I recommend this book on hijab: "Dearest sister: why not cover your modesty" by Abdul Hameed Al-Balali translated by Wael F Tabba.
That's all folks! FiAmanAllah,
Tara
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
6:34 AM
0
comments
Labels: hikmah
Thursday, June 5, 2008
Banyak Jalan dengan Berjilbab
(Source: Republika online, Jumat, 04 Maret 2005)
Amelia Fitri
Dulu dia 'peramu' gosip di acara infotainment di sebuah stasiun televisi swasta. Kini, dia mengidamkan menjadi pemandu acara yang Islami. ''Ah, itu dulu. Aku sudah meninggalkannya,'' tutur Amelia Fitri, wanita keturunan Padang yang lahir di Jakarta, saat beberapa orang mengenalinya sebagai presenter sebuah acara infotainment di televisi. Penampilannya kini jauh berubah, berkerudung dan baju panjang. Amelia mendapat hidayah. ''Aku ingin memenuhi kewajiban sebagai Muslimah. Allah mendengar keinginan saya,'' tuturnya kepada Republika.
Saat keinginan untuk berubah pun makin kuat, ''Aku beranikan diri memutuskan memakai jilbab. Aku pakai pas hari pertama puasa tahun lalu,'' ujar mantan presenter program perjodohan di TPI ini. Amelia pun akhirnya kini tampil beda. Dia benar-benar 'berhijrah' ke dunia yang baru. Dia sudah meninggalkan seluruh kegiatannya sebagai presenter yang berhubungan dengan gosip, kasak-kusuk selebriti, dan acara infotainment lainnya. Dia amat bersyukur karena keluarga mendukung langkahnya. Yang lebih menggembirakan, suaminya, Emilson Agus Filkar, menyemangatinya, bukan malah menentangnya.
''Yang kaget bukan keluarga, tetapi teman-temanku. Namun mereka akhirnya mengerti,'' tambah Amelia. Bahkan, beberapa teman mengikuti langkahnya. Bahkan, kini ada empat kawan dekatnya yang sekarang turut menggunakan jilbab. Teman-temannya pantas terkaget-kaget dengan perubahan penampilan Amelia. Maklum, mantan finalis Wajah Femina ini terbiasa tampil modis. Apalagi, dia sangat aktif menjadi presenter di beberapa stasiun televisi. Dalam mingggu yang sama, ia menjadi presenter di tiga program acara yang berbeda di tiga stasiun televisi, Hotshot di SCTV, Transbeat di Trans TV, dan Strikes Bowling di Metro TV.
Anak kedua dari pasangan H Herman Bartal dan Hj Wilisma ini tak takut kehilangan penghasilan dengan meninggalkan seluruh kegiatan itu. Dia yakin Allah SWT sudah memberi jatah rezeki pada setiap manusia.
Setelah menikah, Amelia memang benar-benar ingin memperbaiki diri sebagai Muslimah. Dia pun menolak tawaran menjadi wartawan di sebuah stasiun televisi. ''Saya khawatir tak bisa membagi waktu untuk kerja dan suami. Apalagi, dalam kontrak selama menjadi wartawan tak boleh hamil atau memiliki anak,'' katanya. Amelia mengaku keputusannya menolak tawaran menjadi reporter sudah tepat. Apalagi, bila mengingat dia harus siap 24 jam atau kerja hingga dini hari. ''Bayangin aja. Waktu itu saya baru menikah. Kalau harus kerja seperti itu, mana ada waktu buat melayani suami?'' tutur lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo Beragama ini.
Setelah menggunakan busana Muslimah dengan berjilbab, Amelia justru lebih percaya diri. Orang juga lebih respek padanya. ''Dulu orang kalau godain bilangnya 'halo cewek' atau pakai ehem...ehem. Sekarang kalau mo godain bilangnya assalamu 'alaikum. Itu kan namanya ndoain kita. Ya, kan?'' ujarnya. Jalan untuk menjemput rezeki juga ternyata tak berhenti, tetap ada. Buktinya, dia mendapat tawaran menjadi bintang iklan Nivea. ''Padahal, saya kan berjilbab. Aku dikontrak selama setahun,'' katanya. Jadi, jilbab tak menghalangi orang untuk berkarya atau beraktivitas.
Sebelum berjilbab, Amelia memang sempat membintangi beberapa iklan. Di antaranya iklan Wella Hair, produk epiderma, Sangobion, Citibank, dan BCA.
Bencana gempa dan gelombang dahsyat tsunami makin menambah keyakinan Amelia untuk menjadi orang yang lebih baik di hadapan-Nya. Melihat berita dan tayangan musibah itu, dia makin yakin kematian benar-benar ada. Datangnya juga begitu cepat dan tiba-tiba. Tapi, orang harus punya bekal sebelum mati. ''Aku ingin punya bekal yang cukup,'' tuturnya.
Kesadaran Inneke Koesherawati dengan penampilannya sekarang juga meneguhkan niatnya untuk menjadi Muslimah yang lebih baik. ''Dia benar-benar berubah. Padahal, dulu aku antipati banget sama dia. Sekarang aku kagum dengan dia,'' katanya. Dia pernah berbincang dengan Ratih Sanggarwati pada suatu kesempatan. Dia bilang, di dunia hiburan itu godaannya sangat besar dan banyak. Yang mengesankannya saat itu, Ratih sangat yakin dengan berjilbab masih bisa beraktivitas. ''Dia aja yang lebih glamor bisa berubah, kenapa aku nggak, yang orang biasa-biasa saja?'' tuturnya.
Saat ini Amelia punya banyak waktu untuk belajar, termasuk belajar agama. Dia juga mulai aktif mengikuti kegiatan pengajian di lingkungan rumahnya. Bahkan, sepekan sekali ia juga mengikuti Pengajian Salsabila di Bintaro, di luar lingkungannya. Dia tak ingin busana Muslimah dan jilbab hanya menjadi tren. Setiap Muslimah harusnya menyadari itu termasuk kewajiban. ''Kalau udah pakai jilbab, ya harus menjalani konsekuensinya. Baju juga nggak boleh ketat-ketat lagi, apalagi tingkah laku.''
Satu hal yang mengganjal hatinya. ''Saya suka risih kalau sedang di mal-mal atau pas di bioskop melihat ada cowok-cewek yang gandengan, dan sang cewek pakai jilbab pula,'' tutur Amelia. Memang, bisa jadi mereka pasangan suami-istri. ''Tapi, kesannya kok kurang enak dilihat, ya.'' Hampir tiga bulan Amelia tampil dengan identitas barunya. Dia sudah sangat menikmatinya.
Kini dia memulai dunia baru, membuka butik. Dia merekrut beberapa orang karyawan. Sebagian dari mereka dipekerjakan untuk membuat sepatu. Yang lain, membuat tas dan beragam jenis baju, termasuk baju Muslimah. ''Aku memang masih ingin menjadi presenter. Tapi, temanya tak lagi yang kayak dulu. Aku ingin mengisi acara yang Islami. Biar aku tambah ilmu,'' tuturnya. Semoga harapan Amelia segera terwujud! (rhs )
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:19 PM
0
comments
Labels: hikmah
Thursday, April 10, 2008
Emas dan nilai diri
(sumber: dari sebuah milis)
Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorangsufi tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Guru, saya tak mengerti mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di masa seperti ini berpakaian sebaik-baiknya amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak tujuan lain."
Sang sufi hanya tersenyum; ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata,"Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Bisakah kamu menjualnya seharga satu keping emas?"
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu, "Satu keping emas? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu."
"Cobalah dulu, sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil."
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak. Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor, "Guru, tak seorang pun berani menawar lebih dari satu keping perak."
Zun-Nun, sambil tetap tersenyum arif, berkata, "Sekarang pergilah kamu ke toko emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga, dengarkan saja bagaimana ia memberikan penilaian."
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, "Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar."
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar lirih, "Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobatmuda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya 'para pedagang sayur, ikan dan daging dipasar' yang menilai demikian. Namun tidak bagi 'pedagang emas'. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu butuh proses wahai sobat mudaku. Kita tak bisa menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas."
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:41 PM
0
comments
Labels: hikmah
Sunday, March 9, 2008
Air Mata Rosulullaah...
(sumber: posting Ukht Siti Latifah di sebuah milis)
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu.
Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku -- peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB :
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin...
Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia. Namun gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
6:09 AM
1 comments
Labels: hikmah
Monday, February 18, 2008
Allah Menjawab Doa Dengan Cara-Nya
(sumber: friendster bulletinboard)
Pada suatu hari, seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Dia biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi. Karena salah satu kelerengnya hilang. Tiba-tiba anak itu berkata: "Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?"
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.
Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan dengan demikian melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya: "Sayang apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?"
"Tidak Bi", jawab anak itu, "Tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi."
Alangkah indahnya iman anak itu. Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendakNya. Masalah terbesar dari doa adalah bagaimana membiarkannya mengalir dan mengizinkan Allah menjawab dengan cara-NYA. (Gundolo Sosro)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:22 PM
0
comments
Saturday, August 11, 2007
Tidak...! (Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia)
Oleh: Nunuk
(Sumber: www.kotasantri.com)
Tidak... bagi perbuatan yang dapat menyia-nyiakan umurmu, seperti senang membalas dendam dan berselisih dengan perkara yang tidak ada kebaikan di dalamnya.
Tidak... bagi sikap yang lebih mengutamakan harta benda dan mengumpulkannya, ketimbang sikap arif untuk menjaga kesehatanmu, kebahagiaanmu, dan waktu istirahatmu.
Tidak... bagi perangai yang suka memata-matai kesalahan orang lain, menggunjing aib orang lain (ghibah) dan melupakan aib diri sendiri.
Tidak... bagi perangai yang suka mabuk kepayang dengan kesenangan hawa nafsu, menuruti segala tuntutan dan keinginannya.
Tidak... bagi sikap yang selalu menghabiskan waktu bersama para pengangguran, dan memboroskan waktu berjam-jam untuk bergurau dan bermain.
Tidak... bagi perilaku acuh terhadap kebersihan dan keharuman tubuh, serta masa bodoh dengan tempat tinggal dan ketertiban lingkungan.
Tidak... bagi setiap minuman yang haram, rokok, dan segala sesuatu yang kotor dan najis.
Tidak... bagi sikap yang selalu mengingat-ingat kembali musibah yang telah lalu, bencana yang telah terjadi, atau kesalahan yang terlanjur dilakukan.
Tidak... bagi perilaku yang melupakan akhirat, yang lalai membekali dirinya dengan amal saleh untuk menyongsongnya, dan yang lengah dari peringatan tentang kedahsyatannya.
Tidak... bagi perangai membuang-buang harta benda dalam perkara-perkara yang haram, berlaku boros dalam perkara-perkara yang mubah, dan perilaku yang dapat memangkas perkara-perkara ketaatan.
(Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia - DR. Aidh al-Qarni)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
9:57 AM
0
comments
Labels: hikmah
