(Emha Ainun Nadjib)
KotaSantri.com : Kalian berdzikir "Subhanallah"
Maha Suci Allah, Maha Suci Allah
Apa benar kalian mensucikan Aku?
Apa benar kehidupan kalian mensucikan Aku?
Apa benar watak dan perilaku kalian, kebudayaan dan kemajuan bangsa kalian - mensucikan Aku?
Kalian berdzikir "Alhamdulillah"
Segala puji bagi Allah, Segala puji bagi Allah
Apa benar perekonomian kalian memuji Aku?
Apa benar gedung-gedung kalian, kantor-kantor kalian, pertimbangan dan keputusan kalian, kasih dan sepak terjang kalian - memuji Aku?
Kalian berdzikir "Wa lailaha illallah",
Tiada tuhan selain Allah
Hai hamba-Ku, apa benar Akulah yang kalian tuhankan?
Apa benar Aku faktor primer dalam bagan strategi sejarah kalian?
Apa benar Aku yang nomor satu di dalam kerangka akal dan susunan pikiran kalian
Apa benar cinta kalian mendasar kepadaKu?
Apa benar Aku sedang menarik hati kalian, dibanding uang, keuntungan dan kekuasaan dunia?
Kalau Aku ikut Kontes Idola, apakah kalian kirim sms untuk memenangkan Aku?
Kalian berdzikir "Allahu Akbar"
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar
Wahai hamba-Ku, apa tanda kebesaranKu di negeri penyembah berhala yang kalian bangga-banggakan ini?
Di bagian mana dari kebudayaanmu,
Di sebelah mana dari langkah politikmu
Di sudut mana dari gedung-gedung megah industrimu
Yang mencerminkan keunggulanKu?
Kau lakukan kedhaliman di sana-sini
Merata di seantero negeri
Kedhaliman yang samar sampai yang transparan
Kedhaliman struktural, sistemik
Bahkan kedhaliman yang telanjang dan kasat mata
Kedhaliman bahkan kepada dzatKu
Kepada hakekat dan syariat eksistensiKu
Kemudian kalian ucapkan "Allahu Akbar"
Tanpa sedikitpun rasa malu
Bahkan masjid-masjidmu, yakni rumah-rumah suciKu
Kalian pakai untuk menendangku
Sebagian dari kalian membangun rumahKu dengan sisa-sisa uang perampokan struktural
Sebagian dari kalian menegakkan rumahKu dengan biaya hasil mengemis-ngemis di tengah jalan
Kalian mengemis atas namaKu,
Kalian melantikku sebagai Sang Maha Pengemis
Di masjid-masjid kalian tertulis : Allah yang Maha Fakir Miskin.
Oleh karena itu setiap orang perlu menaruh rasa belas kasihan kepadaKu
Dan jika datang seorang koruptor membereskan semua pembiayaan masjid itu,
dialah yang kau puji-puji dan kau sanjung-sanjung
(sumber: www.kotasantri.com)
Sunday, September 27, 2009
Berdzikir Hamba-Ku, Berdzikir!
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
6:58 PM
1 comments
Labels: puisi
Sunday, July 19, 2009
Doa Ibu untuk Anaknya
(Jalaluddin Rakhmat)
Ya Ghaffar, ya Rahim
Kau letakkan di rahim kami anak-anak ini
Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungan kasih-sayang kami
kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami
Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami
Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami
Tuhan kami, kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu
kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
hawa nafsu telah menyeret kami untuk menelantarkan buah hati kami
tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berzikir kepada-Mu
tidak sempat kami tuntun mereka untuk membesarkan asma-Mu
tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu
Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan
meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongan dan kesepian
Kami memoles wajah-wajah kami dengan kepalsuan
membiarkan anak-anak kami meronta dalam kebisuan
Kami terlena memburu kesenangan
sehingga tak kami dengar lagi mereka menangis manja
sambil memandang kami dengan pandangan cinta
seperti dulu, ketika mereka mengeringkan air mata mereka
dalam kehangatan dada-dada kami
Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami
menjadi pemberang, pembangkang, dan penentang-Mu
Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka
keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima kasih
Sebelum Engkau ampuni mereka, Ya Allah ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami
Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka
dengan dekapan kasih sayang kami
berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka
ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi-Mu
Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu
dan memohon kepada-Mu seusai salat kami
untuk keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan anak-anak kami
Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu
mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini.
Izinkan kami membasahi tempat sujud kami
dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami
Ya Allah, ya Jabbar, ya Ghaffar
Anugerahkan kepada kami para pemimpin kami kearifan
untuk mendidik anak-anak negeri ini dalam
kesalehan Berikan kepada mereka petunjuk-Mu
sehingga mereka menjadi suri teladan bagi kami dan anak-anak kami
Limpahkan kepada mereka perlindungan-Mu
supaya mereka melindungi kami dengan keadilan-Mu
Jauhkan mereka dari kezaliman
sehingga kami dapat mengabdi-Mu dengan tentram dan aman
Ya Rahman, ya Rahim
Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak-anak kami
Peliharalah anak-anak kami yang kecil
Kuatkanlah anak-anak kami yang lemah
Sucikan kalbu mereka
Bersihkan kehormatan mereka
Sehatkan badan mereka
Cerdaskan akal mereka
Indahkan akhlak mereka
Gabungkanlah mereka bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu
yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci, dan sahabatnya yang mulia
yang berbakti kepada orangtuanya yang bermanfaat kepada bangsanya
yang berkhidmat kepada sesama manusia
Wahai Zat yang nama-Nya menjadi pengobat
yang sebutan-Nya penyembuhan
yang ketaatan-Nya kecukupan
sayangi kami yang modalnya hanya harapan
dan senjatanya hanya tangisan
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
9:57 AM
1 comments
Labels: puisi
Monday, January 26, 2009
Pribadi Berdzikir
Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Ilham
dalam album Tausiyah Dzikir & Nasyid, 2004.
Pribadi berdzikir
Zikir menjadi kepribadiannya
Alloh tujuannya
RasuluLlah Saw teladan dalam hidupnya
Dunia inipun menjadi surga sebelum surga sebenarnya
Bumi menjadi mesjid baginya
Rumah, kantor bahkan hotel sekalipun menjadi musholla baginya
Tempat ia berpijak meja kerja, kamar tidur hamparan sajadah baginya
Kalo dia bicara, bicaranya dakwah
Kalo dia berdiam, diamnya berzikir
Napasnya tasbih
Matanya pernuh rahmat Alloh, penuh kasih sayang
Telinganya terjaga
Pikirannya baik sangka, tidak sinis, tidak pesimis dan tidak suka
memvonis
Hatinya SubhanaLlah diam-diam berdoa
Doanya diam-diam
Tangannya bersedekah
Kakinya berjihad
ia tidak mau melangkah sia-sia
kekuatannya silaturahim
Kerinduannya tegaknya syariat Alloh
Kalo memang haq tujuannya, maka sabar dan kasih sayang strateginya
Asma amanina cita-cita tertinggi teragung syahid di jalan Alloh
Dan..
Sungguh menarik
Kesibukannya ia hanya asyik memperbaiki dirinya
Tidak tertarik mencari kekurangan apalaagi aib orang lain
Hadirilah majelis-majelis zikir
Raihlah kepribadian berzikir
Dengan selalu hadir menikmati hidangan hidayah Alloh terlezat…
ZikruLlah
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
9:18 AM
0
comments
Labels: puisi
Tuesday, February 19, 2008
Doa
(Chairil Anwar)
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
dipintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
*****
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:12 PM
0
comments
Labels: puisi
Wednesday, August 1, 2007
Do'a Pesakitan
(by: Emha Ainun Najib)
GUSTI,
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa
GUSTI,
inilah tawanan Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya
GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari Mu
takkan tertandingi
GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu malu
GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah Mu
GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan Mu ?
GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal
GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti
EMHA AINUN NAJIB - 1991
Dari kumpulan puisi:
Seribu Masjid, Satu Jumlahnya
Tahajjud Cinta Seorang Hamba
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
7:05 PM
1 comments
Labels: puisi
Friday, December 8, 2006
Mencari Sebuah Masjid
Taufik Ismail
Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan
atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan
dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya
menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentasng sebuah masjid yang letaknya di mana
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa
Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian
yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita
Aku rindu dan mengembara mencarinya
Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana
Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya
Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata
'Inilah masjid yang dalam pencarian Tuan'
dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air yang terasa, bukan dingin kiranya
demikian air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran
---
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
7:12 AM
1 comments
Labels: puisi
Monday, August 14, 2006
Beri Satu Detik
Oleh: Anonim
(Sumber: sebuah mailing list)
Beri satu detik
sepasang mata tuk menatap
sebelum tertutup rapat
selamanya
Beri satu detik
sepasang tangan tuk beramal
sebelum bersedekap
selamanya
Beri satu detik
sepasang kaki tuk mendekatiNya
sebelum membujur
selamanya
Beri satu detik
mulut ini tuk berdoa,membaca ayat-ayatMu , ya Allah
gigi dan lidah bernyanyi dzikir
sebelum tergagap menjawab
siapa Tuhanmu?
Beri satu detik
otak ini tuk fikirkanMu,hapalkan ayat-ayatMu
hati ini tuk mengakuiMu
sebelum terlambat sadar atau terlupa
apa agamamu?
siapa pelindungmu?
padahal sudah di dalam kubur...
Beri satu detik yaa Rabb
waktu laksana pedang,
jika kamu tak memanfaatkannya
maka ia akan menebasmu
waktu pada hari-hari kita
bagaikan daun yang gugur dari tangkai nya
jatuh melayang menuju tanah
tak kan kembali ke dahan nya
akan ada angin semilir
yang memberinya petualangan sejenak
sebelum jatuh dan lapuk
sadarlah,
pada tiap detik yg dilalui
hari kemarin tak kembali
hidup di dunia hanya sekali
we only have one way ticket
---
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
7:29 AM
0
comments
Labels: puisi
Sunday, July 23, 2006
Bila Ibu Boleh Memilih
Oleh: Ratih Sanggarwati (Ratih Sang)
(Sumber: www.percikan-iman.com)
Anakku...
Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar
karena mengandungmu
Maka
ibu akan memilih mengandungmu?
Karena dalam mengandungmu
ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah
Sembilan bulan nak...
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata
Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu harus operasi caesar, atau ibu harus berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat ibu rasakan
Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua
Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa sakit,
Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah...
Saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,
Mendengarkan ayahmu mengumandangkan adzan,
Kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita
Rasulullah di telinga mungilmu
Anakku...
Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,
Maka ibu memilih menyusuimu,
Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak bisa rasakan
Anakku...
Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat
Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan...
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana
Maka maafkanlah nak...
Maafkan ibu...
Maafkan ibu...
Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yang hilang
Percayalah nak...
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu
Percayalah nak...
Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu...
---
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:02 AM
1 comments
Labels: puisi
Tuesday, April 25, 2006
Hijab = Terkekang?
Oleh: Hanies
(Sumber: www.ukhuwah.or.id)
Banyak yang bilang...
hijab adalah bentuk pengekangan terhadap wanita...
Banyak juga yang bilang...
dengan berhijab wanita tidak bebas dalam berbuat...
benarkah itu semua tujuan diturunkannya perintah berhijab?
Allah ta'ala telah berfirman...
memerintahkan setiap wanita yang beriman...
'tuk mengenakan hijab atau kerudungnya bila keluar rumah...
atau ketika bertemu dengan mereka yang bukan muhrimnya...
agar mereka lebih mudah dikenal dan tidak mendapat gangguan
Ya...dengan berhijab...
Wanita Muslimah menunjukkan identitasnya...
menunjukkan kebanggaan dan izzah sebagai pemeluk Dienullah...
menunjukkan kesungguhan dan ketaatan sebagai hamba-Nya...
menunjukkan penjagaan terhadap kehormatan dan kesucian
dirinya
Dengan berhijab...
bukan berarti Muslimah terkekang hidupnya...
bukan berarti Muslimah tak lagi punya kebebasan...
bahkan dengan hijab yang melindungi kehormatannya...
Muslimah bisa menunjukkan potensi diri yang sebenarnya
Muslimah yang berhijab...
tidak lagi dihormati karena kecantikannya...
tidak lagi dinilai dengan penampilan dirinya...
tapi naluri dan daya pikirnyalah yang sekarang menentukan...
yang menjadi tolok ukur orang lain dalam menilai dirinya
Muslimah yang berhijab...
terbebas dari belenggu tuntutan penampilan...
terbebas dari segala pelecehan harga dirinya...
Bebas dan merdeka yang berbeda dengan wanita lainnya...
bebas dan merdeka sebagaimana kodratnya sebagai wanita
Maha Benar Allah atas segala Firman-Nya...
Maha Bijaksana Allah atas segala Perintah-Nya...
Maha Adil Allah atas segala Keputusan-Nya...
Maha Penyayang Allah atas segala Hukuman-Nya...
Maha Kuasa Allah atas segala-segalanya
--
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:53 PM
1 comments
Labels: puisi
Monday, February 13, 2006
Doa Perempuan (Miranda Risang Ayu)
DOA PEREMPUAN
Allah
Yang Maha Kasih dan Maha Sayang
tolong dengar kata-kataku.
Masih bolehkah kusapa Engkau seperti dulu:
Kekasih?
aku ingat
Kauhadir bersama langit dan bumi,
bersama air, angin, tetumbuhan dan kupu-kupu
dan di hadapan sekuntum bunga yang baru mekar
Kita tersenyum
hingga lenyap bumi lenyap semu
dalam wewangian.
aku ingat
Kauhadir bersama pekat malam
tanpa bulan tanpa perapian tanpa peraduan
dan aku lelap dalam sujud-Mu yang panjang
hingga hadir peri-peri kecil mengetuk pintu mengucapkan salam.
Itu semua ketika
aku berpaling dari segala yang bukan.
kumasak air dan air itu milik-Mu.
kutatap lekat perkawinan sayur-mayur di belanga
dalam ingatanku kepada-Mu.
kudekap anak-anak
titipan-Mu.
kubangun mimpi-mimpi
untuk kehadiran-Mu.
Dan kurasakan
Kau tersenyum
ketika ingatanku kepada-Mu
membuatku menemukan puasa tanpa berbuka
dalam tidur dan jagaku
yang terjadi semata-mata
karena kekuasaan-Mu.
Tetapi kini
kurasa aku memang tidak layak lagi
berkata-kata.
Lihat luka-luka yang kubuat
karena kebodohanku sendiri
yang cuma manusia.
Ternyata alam semesta masih milikku, aku merajainya
harta-benda rumah pakaian milikku, aku menimbunnya
keluarga anak-anak milikku, aku takut kehilangan mereka
perkiraanku milikku, aku mempercayainya
mimpi-mimpi milikku, aku rekayasa wujudnya
diriku milikku, kucemburui cerminnya
dan harga diriku juga milikku, enggan hancur aku oleh kefanaannya.
Bertahun-tahun, Tuhanku, kubuat harapan-harapan indah
seharusnya, demi hidup-Mu pada kematianku.
tetapi ternyata
hanya untuk buaianku.
kusalahkan orang-orang
sangkaku demi kebenaran-Mu
tetapi ternyata
hanya untuk kebenaranku.
kubuat pembenaran-pembenaran
maksudku untuk meninggikan-Mu
tetapi ternyata
untuk kebanggaanku.
Semua ternyata hanya
untuk memperpanjang nafasku saja.
betapa hinanya kemanusiaanku ini.
Tuhan,
dalam tubuh-tubuh manusia yang kelaparan
dalam tubuh-tubuh perempuan yang diperkosa
dalam tubuh-tubuh anak-anak yang hancur daging dan hatinya
dalam tubuh-tubuh yang
adalah kelaparan, kesakitan dan kedunguanku sendiri
Kau Maha Tahu
aku tidak mampu menghirup udara lagi.
setiap tarikan nafasku bau bangkai
setiap tangisku adalah darah busuk
dan seluruh tubuhku
adalah aib.
Tuhan
tolong jangan lupakan aku.
Demi ingatanku kepada-Mu, yang adalah anugerah-Mu
Katakan langit dan bumi adalah Kasih-Sayang-Mu,
cukuplah bencana berguncang
sampai di sini.
Katakan semua manusia satu,
cukuplah sumpah-serapah berdarah
berkecamuk di dalam ini.
Katakan esok
semua kelemahan terampuni
cukuplah penyesalan
membuat kesadaranku tenggelam
dalam ampunan-Mu.
Penyesalan ini
semoga abadi.
Penyesalan ini
semoga bukan ada
karena kesalahan-kesalahan lagi
Tetapi ada
karena Kau adalah Tuhan
dan kami ingin lebur
dalam Maha Kasih dan Sayang-Mu.
Tuhan Sayang,
aku minta selendang gendongan
untuk menimang dan membesarkan
kehidupan baru
yang mulai tumbuh
di sela-sela reruntuhan ini.
Boleh kan?
Miranda Risang Ayu
8 Agustus 1998
(Doa untuk Perdamaian Gelora Saparua, Bandung.
Didedikasikan untuk setiap orang yang tergilas roda reformasi)
[Sumber: Pojok Kanayakan]
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
10:36 AM
0
comments
Labels: puisi
Saturday, December 3, 2005
Doa Imajiner (Ratih Sang)
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah:
“Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir:
“Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah….”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah:
“Ya Allah….. jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja:
“Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum.”
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa:
“Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah:
“Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya.”
Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan:
“Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku, karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku.”
Ketika kupanjatkan doa-doa itu, aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata……
“Engkau ingin suami yang baik dan sholeh sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah?
Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?”
“Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu.
Jangan egois begitu……masak engkau ingin anak yang sholehah
hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu….tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku.”
“Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?…… prestige? …… atau….engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya?
Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,
Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya.”
“Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat?
Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku.”
“Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu,
seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku.
Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan.”
“Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu.
Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya.
Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya.”
“Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu,
berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya.”
Lantas…… aku malu…… dengan imajinasiku sendiri….aku malu……
aku malu akan tuntutanku…….
Maafkan aku ya Allah……lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.
(Ratih Sanggarwati, Gunung Geulis, 25 Desember 2002)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:13 PM
2
comments
Labels: puisi
Friday, May 20, 2005
Wanita...
Oleh: Nies
(Sumber: www.isnet.org)
Wanita...
sering diibaratkan bunga...
sering dilambangkan sumber keindahan...
sering dinilai penyejuk mata dan rasa...
sering dianggap pembawa ketentraman hati dan jiwa
Tapi tak jarang pula...
dia dianggap sumber petaka...
sumber segala kemaksiatan yang ada...
tempat masuknya berbagai godaan dunia
bahkan kedudukannya direndahkan pula
Mana yang benar...
mana yang sesungguhnya pantas buat wanita?
Atau kedua-duanya memang ada padanya?
sebagai sumber ketentraman... duka nestapa...
sebagai sumber kebaikan... juga kemaksiatan?
Wanita... mengapa?
Wanita...
memang sering dianggap lemah...
padahal dibalik kelemah-lembutannya...
ada kekuatan sungguh besar yang dia punya
yang mampu memutih-hitamkan dunia...
lihat saja sejarah yang telah membuktikannya
Wanita...
sadarilah akan dirimu...
akan potensimu...
yang belum tergali itu
Bangkitlah dengan penuh keyakinan...
bersama keimanan kepada-Nya yang penuh...
bersama keikhlasan pengabdian yang sungguh-sungguh...
'tuk hanya mencari ridho Ilahi selalu
Wanita...
kedudukanmu tidaklah lebih rendah dari siapa pun juga
engkau punya hak yang sama sebagai hamba-Nya...
engkau pun akan mendapatkan pahala dari-Nya sebagaimana pria...
setiap kau laksanakan kewajiban kepada-Nya dengan niat yang ikhlash
Allah tiada akan menganiayamu sedikit pun...
pun Dia tak akan membeda-bedakan derajatmu...
kecuali derajat taqwalah yang Dia lihat pada dirimu
Bangkitlah wahai Muslimah...
carilah ilmu setinggi-tinginya...
ilmu agama dan ilmu-ilmu lainnya
dan manfaatkanlah apa yang engkau punya...
dengan niat yang ikhlas dan mulia...
dengan cara yang dibenarkan Syari'ah...
dengan tujuan 'tuk mendapatkan ridho Ilahi semata
Jadilah engkau sumber segala yang terbaik di dunia dan akhirat
Semoga Allah SWT selalu memberimu petunjuk dan hidayah dalam langkah
hidupmu kepada-Nya
Amiin yaa Ar-Rohmaan...amiin yaa Al Ghoffar...
*****
(puisi ini ana persembahkan buat semua Muslimah di mana pun berada, terutama peringatan dan ajakan buat ana sendiri yang dho'if dan sering khilaf)
Wassalamu'alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuhu,
ukhtukum fillah.
(College Station, 6 Dzulhijah 1416 H)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
12:56 AM
0
comments
Labels: puisi
Saturday, March 19, 2005
Baby, it's all good! (A modern hijab poem)
Author: unknown
(Source: www.islamfortoday.com)
What do you see when you look at me
Do you see someone limited, or someone free
All some people can do is just look and stare
Simply because they can't see my hair
Others think I am controlled and uneducated
They think that I am limited and un-liberated
They are so thankful that they are not me
Because they would like to remain 'free'
Well free isn't exactly the word I would've used
Describing women who are cheated on and abused
They think that I do not have opinions or voice
They think that being hooded isn't my choice
They think that the hood makes me look caged
That my husband or dad are totally outraged
All they can do is look at me in fear
And in my eye there is a tear
Not because I have been stared at or made fun of
But because people are ignoring the One up above
On the day of judgment they will be the fools
Because they were too ashamed to play by their own rules
Maybe the guys won't think I am a cutie
But at least I am filled with more inner beauty
See I have declined from being a guy's toy
Because I won't let myself be controlled by a boy
Real men are able to appreciate my mind
And aren't busy looking at my behind
Hooded girls are the ones really helping the Muslim cause
The role that we play definitely deserves applause
I will be recognized because I am smart and bright
And because some people are inspired by my sight
The smart ones are attracted by my tranquility
In the back of their mind they wish they were me
We have the strength to do what we think is right
Even if it means putting up a life long fight
You see we are not controlled by a mini skirt and tight shirt
We are given only respect, and never treated like dirt
So you see, we are the ones that are free and liberated
We are not the ones that are sexually terrorized and violated
We are the ones that are free and pure
We're free of STD's that have no cure
So when people ask you how you feel about the hood
Just sum it up by saying, 'Baby its all good'
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:28 AM
1 comments
Labels: puisi
Monday, January 10, 2005
Acehku, Dukaku
(sumber: friendster bulletinboard)
(by: Abdurahman Faiz)
Gelombang apakah yang menerjangmu, Acehku?
Orang-orang berlarian lumat digulungnya
rumah rumah sempurna diratakannya
keceriaan, kehidupan tiba-tiba lumpuh
mata kita pecah
Gelombang apakah yang membuat kita menangis,
Acehku?
tak ada makanan atau minuman,
pakaian, rumah dan pekerjaan sirna
anak-anak meratap mencari ayah ibu
di antara jasad yang terkapar
Gelombang apakah itu, Acehku?
Begitu kuat menghantam dada
sesak kita berjejalan dengan luka
dan aroma mayat
airmata yang seolah tak selesai
Cinta dan bantuan mengalir, Acehku
tak putus semoga tak putus
jadi mari tangkap kembali cahaya itu
kita buka pintu-pintu ketabahan
bagi hikmah, asa yang menyala
Di serambi cinta kita, Acehku
wajah-wajah pucat dan menggigil
senantiasa akan menemukan rumahnya
sebab kau, aku, kita satu
Gelombang paling duka, Acehku
Cinta paling dalam kami, Acehku
: Bangkit!
(6 Januari 2005)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:26 PM
0
comments
Labels: puisi
Saturday, January 8, 2005
Aceh: Mengapa Harus Dihukum?
(Sumber: RoL, Selasa, 04 Januari 2005)
Aceh: Mengapa Harus Dihukum?
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Aceh, bumimu
mengandung kekayaan
minyak, emas, tembaga, kayu, dan mungkin yang lain.
Sebagian telah dikuras
untuk engkau berikan kepada Indonesia
secara paksa atau suka rela.
Sementara engkau sendiri
menderita dan menjerit,
sampai hari ini.
Aceh,
dari sisi sejarah,
engkau adalah bumi pahlawan,
laki-laki dan perempuan.
Mereka telah menyerahkan segala yang terbaik
untuk membela kehormatan dan martabat manusia,
sebagai wujud dari harga diri
untuk melawan si kafe dan kezaliman.
Aceh,
juga dari sisi sejarah,
engkau adalah wilayah
yang tersingkat dijajah Belanda.
Perang Aceh
berakhir pada 1912.
Sejak saat itulah engkau resmi dijajah,
tapi hanya 30 tahun.
Pada 1942 si kafe pontang-panting dihalau Jepang,
tanahmu lepas dari Belanda.
Aceh,
di masa revolusi kemerdekaan,
engkau kembali menunjukkan keperkasaanmu,
kerena engkau pantang dijajah,
Belanda sangat takut kepadamu.
Engkau bela republik dengan darah,
engkau sumbang Indonesia dengan harta
untuk beli pesawat,
demi kemerdekaan
yang telah engkau perjuangkan
dalam rentang waktu berbilang musim.
Aceh,
pada tahun 1950-an,
engkau berontak
karena merasa dilecehkan Jakarta.
Perang saudara berlangsung
selama beberapa tahun,
dengan meninggalkan korban dan dendam,
untuk kemudian berdamai.
Tapi tidak bertahan lama,
engkau kembali melawan,
dengan sisa-sisa kekuatanmu yang terpecah dan terbelah.
Sebagian besar rakyatmu
ingin tetap bersama Indonesia,
karena engkau turut mendirikannya,
sekalipun engkau telah dianiaya.
Aceh,
perang saudara belum usai,
luka-luka tubuhmu
masih memancarkan darah segar.
Tanpa dinyana, tanpa ada tanda-tanda,
alam tiba-tiba mengamuk dengan garang.
Akibat gesekan lempeng bumi,
lahirlah gempa dan tsunami
yang meluluhlantakkan tubuh dan jiwamu,
sebagian wilayahmu menjadi rata dengan bumi.
Sekitar 200.000 rakyatmu menjadi mayat
sebagai syuhada',
berserakan di mana-mana,
akibat kemurkaan alam.
Indonesia meratap tanpa air mata,
karena sudah kering.
Dunia berduka dan terluka,
perih sekali!
Sebuah pertanyaan
tetap saja terjawab:
mengapa Aceh harus dihukum?
Bukankah ia telah berkorban dan berkorban
untuk kepentingan Indonesia?
Sebuah rahasia
yang belum dibukakan Langit
kepada kita semua.
Allahu a'lam!
Yogyakarta, 1 Januari 2005
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
9:06 AM
0
comments
Labels: puisi
Friday, January 7, 2005
Membaca Tanda-tanda
by: Taufik Ismail
(sumber: Friendster Bulletinboard)
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas
Dari tangan
Dan meluncur lewat sela-sela jari kita
Ada sesuatu yang mulanya
Tak begitu jelas
Tapi kini kita mulai merindukannya
Kita saksikan udara
Abu-abu warnanya
Kita saksikan air danau
Yang semakin surut jadinya
Burung-burung kecil
Tak lagi berkicau pagi hari
Hutan kehilangan ranting
Ranting kehilangan daun
Daun kehilangan dahan
Dahan kehilangan hutan
Kita saksikan zat asam
Didesak asam arang
Dan karbon dioksid itu
Menggilas paru-paru
Kita saksikan
Gunung memompa abu
Abu membawa batu
Batu membawa lindu
Lindu membawa longsor
Longsor membawa air
Air membawa banjir
Banjir membawa air
Air
Mata
Kita telah saksikan seribu tanda-tanda
Bisakah kita membaca tanda-tanda?
Allah
Kami telah membaca gempa
Kami telah disapu banjir
Kami telah dihalu api dan hama
Kami telah dihujani abu dan batu
Allah
Ampuni dosa-dosa kami
Beri kami kearifan membaca
Seribu tanda-tanda
Karena ada sesuatu yang rasanya
Mulai lepas dari tangan
Dan meluncur lewat sela-sela jari
Karena ada sesuatu yang mulanya
Tidak begitu jelas
Tapi kini kami
Mulai
Merindukannya
---
Saudaraku, tunjukan nilai persaudaraanmu
Dengarkan rintihan dan tangisan rakyat Aceh
Panjatkan doa untuk mereka
Berikan hal terbaik yang kita punya...
---
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
9:15 AM
0
comments
Labels: puisi
Monday, November 1, 2004
Bila Aku Jatuh Cinta
(sumber: dari sebuah mailing list, maaf lupa milis mana, sudah lama)
Allahu Rabbi
aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
12:23 PM
2
comments
Labels: puisi
