Sumber: Eramuslim.com, Kamis, 09/04/2009
Jilbab ternyata masih menjadi momok menakutkan bagi negara besar seperti AS yang mengklaim sebagai negara yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia. Setidaknya ada tiga kasus jilbab yang terjadi di AS saat ini.
Hari Rabu kemarin, seorang polwan Muslim di Philadelphia harus menelan kekecewaan karena pengadilan menolak permohonannya agar diijinkan mengenakan jilbab saat bertugas. Hakim pengadilan menolak permohonan polwan muslimah itu dengan alasan seorang anggota polisi harus menjaga "netralitas"nya dalam masalah agama.
Pengadilan yang melibatkan polwan muslimah Kimberlie Webbs kemarin adalah pengadilan banding yang kedua. Namun Webbs tetap tidak boleh mengenakan jilbab. Kepolisian tempat Webb bekerja melarang polwan mengenakan simbol-simbol agama dan beralasan jika Webb diijinkan mengenakan jilbab, akan menimbulkan "persoalan panjang" di departemen kepolisian.
Kasus jilbab lainnya terjadi di Oklahoma. Namun akhir kasus ini cukup melegakan warga Muslim karena pihak legislatif Oklahoma menolak usulan peraturan yang isinya melarang orang mengenakan jilbab untuk keperluan foto yang akan dicantumkan dalam surat ijin mengemudi atau SIM.
Pihak legislatif Oklahoma mengatakan bahwa larangan semacam itu bertentatangan dengan adanya pengecualian yang dibolehkan dalam masalah keagamaan dan bertentangan dengan hak-hak warga sipil yang tercantum dalam Amandemen Pertama konsitusi AS.
Keputusan legislatif Oklahoma ini disambut baik oleh warga Muslim. "Kami berterima kasih dengan para anggota legislatif atas kepemimpinan dan dukungan mereka terhadap pluralisme dalam hidup beragama dan terhadap Amandemen Pertama," kata Razi Hashmi, Direktur Eksekutif Council on American Islamic Relations (CAIR) cabang Oklahoma.
Sejak usulan untuk melarang penggunaan penutup kepala dalam foto SIM muncul, dewan legislatif Oklahoma menerima sekitar 600 surat penolakan terhadap usulan peraturan tersebut. Penentangan kebanyakan dari kalangan Muslim dan penganut agama Sikh di Oklahoma. Mereka menilai peraturan itu melanggar konstitusi dan kebebasan setiap orang untuk menjalankan ibadah agamanya.
CAIR juga mengatakan peraturan semacam itu akan melukai seluruh pemeluk agama, bukan hanya Muslim tapi juga penganut agama Sikh dan para biarawati gereja yang juga mengenakan penutup kepala.
Sementara itu, sebuah sekolah di distrik Nevada hari Rabu kemarin harus mengeluarkan biaya kompensasi sebesar 400.000 dollar dalam kasus gugatan hak sipil yang diajukan seorang siswi Muslim bernama Jana Elhifny. Elhifny menggugat sekolahnya karena merasa sudah dipermalukan dan didiskriminasikan oleh pihak sekolahnya sehingga ia terpaksa keluar dari North Valley High School.
Elhifny, muslimah berjilbab keturunan Mesir ini menuding pihak sekolahnya gagal untuk mengatasi kasus ancaman pembunuhan dan pelecehan yang dialaminya. (ln/aby)
Tuesday, April 14, 2009
Seorang Polwan Muslimah di AS Dilarang Berjilbab
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:46 AM
1 comments
Labels: berita
Monday, March 30, 2009
Luna Cohen, Yahudi Maroko Menemukan Kebenaran Islam
Sumber: Eramuslim.com, Senin, 23/03/2009
Luna Cohen, lahir di kota Tetouan, Maroko dari keluarga Yahudi. Pada usia 16 tahun, ia sudah meninggalkan rumah rumah keluarga di Maroko untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah khusus perempuan Bet Yaakov di Washington Heights, Manhattan, Amerika Serikat. Bet Yaakov adalah sebuah sekolah Yahudi Ortodoks yang dikenal rasis.
Usia 18 tahun ia memutuskan menikah lelaki yang sampai saat ini menjadi suaminya. Sejak menikah, Luna dan suaminya sampai tiga kali berpindah tempat tinggal di apartemen yang ada di Brooklyn, New York karena ia dan suaminya merasa tidak pernah bahagia tinggal di lingkungan masyarakat Yahudi di tempat tinggalnya. Pasangan suami isteri itu kemudian memutuskan untuk membangun masa depan di Israel. Luna beserta suami yang ketika itu sudah dikaruniai empat anak, akhirnya pindah ke Israel.
Ketika tiba di Israel, Luna dan keluarganya tinggal pemukiman Yahudi, Gush Qatif di wilayah Jalur Gaza. Luna mengaku menjalani masa-masa yang berat karena melihat "cara hidup" orang-orang Yahudi di tempat tinggalnya itu dan meminta pada suaminya agar mereka pindah saja ke Netivot, yang terletak sekitar 23 kilometer ke arah utara di wilayah pendudukan Israel di Palestina.
Di tempat itu, Luna lagi-lagi menyaksikan kehidupan masyarakat Yahudi Israel yang disebutnya tidak berpendidikan. "Mungkin cuma satu dari sejuta anak yang berperilaku baik," kata Luna. Ia menyaksikan bagaimana orang-orang Yahudi di Netivot, sama seperti di pemukiman Yahudi Gush Qatif, membenci orang-orang yang bukan Yahudi yaitu orang-orang Arab Palestina.
"Kami melihat tindakan mereka sebagai tindakan mereka yang buruk dan mau menang sendiri. Pada titik ini, saya dan suami tidak sepakat dengan sikap orang-orang Yahudi itu," ujar Luna.
Hingga suatu hari suami Luna yang juga Yahudi tapi sekuler, pulang ke rumah dan mengatakan bahwa baru saja membaca al-Quran dan memutuskan untuk masuk Islam. Luna tidak tahu, bahwa suaminya selama ini banyak mempelajari Islam lewat dialog yang dilakukannya dengan seorang Muslim asal Uni Emirat Arab yang dijumpainya saat masih tinggal di pemukiman Gush Qatif. Selama dua tahun suami Luna dan kenalan Muslimnya itu berdiskusi tentang Yudaisme dan Islam.
Mendengar pernyataan suaminya ingin masuk Islam, Luna mengaku sangat-sangat syok. "Karena dalam Yudaisme, kami selalu diajarkan untuk membenci agama lain," kata Luna yang sebenarnya mempertanyakan ajaran yang dinilainya "mau menang sendiri" itu.
Tapi sang suami cukup bijak dan mengatakan bahwa Luna boleh tetap memeluk agama Yahudi jika tidak mau masuk Islam, karena dalam Islam, seorang lelaki Muslim boleh menikah dengan perempuan ahli kitab. Suami Luna pun masuk Islam dan memakai nama Islam Yousef al-Khattab.
Dua minggu setelah suaminya masuk Islam, Luna tertarik untuk membaca al-Quran dan ketika ia membacanya, Luna merasa semua pertanyaan yang mengganjal di kepalanya terjawab semua dalam al-Quran. Luna lalu menyusul suaminya mengucapkan dua kalimah syahadat dan menjadi seorang Muslimah. Luna memilih nama Qamar sebagai nama Islamnya.
Karena situasi yang tidak memungkinan buat mereka untuk tinggal lebih lama wilayah Israel, keluarga mualaf itu lalu memutuskan pindah ke Maroko, negara asal Luna pada tahun 2006. Sampai saat ini, pasangan Yousef dan Qamar al-Khattab hidup bahagia di tengah saudara-saudara Muslim Maroko dan menemukan kehidupan sejati setelah menemukan kebenaran dalam jalan Islam. (ln/jewsforAllah)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:47 AM
2
comments
Labels: berita
Thursday, March 12, 2009
Yvonne Ridley: Saya Kagum Dengan Hak-Hak Yang Diberikan Islam pada Kaum Perempuan
Sumber: Eramuslim.com, Kamis, 12/03/2009Banyak orang yang menilai Islam tidak memberikan penghormatan terhadap kaum perempuan. Tapi tidak bagi Yvonne Ridley setelah ia mengenal Islam. Mantan wartawan asal Inggris yang pernah menjadi tawanan Taliban di Afghanistan ini, masuk Islam setelah ia mendalami al-Quran dengan harapan menemukan perintah-perintah Tuhan dalam Islam yang menempatkan perempuan pada posisi rendah. Apalagi ketika itu Ridley juga seorang aktivis feminisme.
Tapi semakin ia mendalami al-Quran, Ridley tidak menemukan apa yang dicarinya, ia malah menemukan ajaran Islam yang luhur tentang kaum perempuan, dimana Islam menempatkan kaum perempuan dalam derajat yang tinggi dan mulia. Inilah yang kemudian mendorong Yvonne untuk memilih menjadi seorang Muslim dan sekarang dikenal aktif berdakwah kemana-mana.
Bagaimana pengalaman Ridley menjadi seorang mualaf dan apa pandangannya tentang perempuan dalam Islam. Berikut petikan wawancara yang dilakukan situs Islamonline dengan Yvonne Ridley;
Seberapa jauh Anda tahu tentang Islam sebelum menjadi seorang Muslimah?
Saya cuma tahu sedikit tentang Islam sebelum menjadi Muslim. Saya hanya tahu dari media massa.
Bagaimana ceritanya Anda masuk Islam?
Saat saya menjadi tawanan Taliban, seorang ulama mendatangi saya. Dia menanyakan beberapa pertanyaan tentang agama dan menanyakan apakah saya mau pindah agama. Saat itu, saya takut kalau saya salah memberikan respon, maka saya akan dibunuh. Setelah berpikir masak-masak, saya berterima kasih pada ulama tadi atas tawarannya yang baik itu dan saya bilang bahwa sulit bagi saya membuat keputusan untuk mengubah hidup saya saat saya sedang menjadi tawanan. Tapi saya berjanji, jika saya dibebaskan dan kembali ke London, saya akan mempelajari tentang Islam.
Akhirnya saya bebas dan saya mulai membaca terjemahan al-Quran. Saya memilih surat-surat dalam al-Quran hanya yang ingin saya baca saja. Saya sangat kagum dengan hak-hak yang diberikan Islam pada kaum perempuan dan inilah yang paling membuat saya tertarik pada Islam.
Setelah memeluk Islam, apakah Anda membutuhkan bantuan dari komunitas Muslim?
Ya dan tidak. Saya mendapat banyak dukungan dari sesama Muslimah. Saya merasa beruntung jika dibandingkan dengan banyak mualaf lainnya. Banyak mualaf yang benar-benar membutuhkan dukungan semangat dan pendampingan hampir setiap hari. Yang menyedihkan, banyak diantara kami yang diabaikan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya cuma ingin mengatakan, tahun-tahun pertama bagi para mualaf adalah saat-saat yang kritis bagi perkembangan mereka sebagai seorang Muslim, jadi sebaiknya para mualaf baru jangan diabaikan begitu ia usai mengucapkan syahadat.
Tantangan apa yang paling berat setelah Anda memeluk Islam?
Belajar menjadi orang yang lebih baik. Mungkin kedengarannya agak aneh, karena saya tidak merasa sebagai orang yang buruk sebelum memeluk Islam. Tapi setelah menjadi Muslim, saya harus belajar tentang etika Islam, misalnya tentang kesabaran dan toleransi. Buat mereka yang sudah mengenal baik siapa saya, pasti tahu betapa beratnya perjuangan saya ketika itu.
Bagaimana reaksi keluarga dan teman-teman ketika tahu Anda masuk Islam?
Mereka semua syok. Bagaimana bisa seorang gadis yang doyan pesta meninggalkan gaya hidup Baratnya dan memeluk Islam? Tapi setelah beberapa waktu, mereka tahu bahwa saya bersungguh-sungguh! Saya lebih sehat dan bahagia, badan saya jadi agak langsing. Mereka melihat bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan saya, saya menjadi orang yang lebih baik. Mereka membantah bahwa ini semua karena Islam. Teman-teman perempuan saya apakah saya punya pacar sehingga terlihat lebih sehat dan bahagia, saya menjawab "Apakah kamu pikir untuk terlihat lebih baik seperti sekarang saya harus punya pacar? Tidakkah kalian bisa menerima bahwa saya telah menemukan sesuatu yang memberikan saya banyak kebahagiaan, kekuatan dari dalam dan spiritulitas?"
Bagaimana Anda menyesuaikan diri dengan Jilbab yang Anda kenakan di Inggris, sementara banyak orang meributkan jilbab?
Saya senang sekali Anda menanyakan hal ini. Banyak orang berpendapat tentang jilbab, terutama kaum lelaki yang tidak perlu mengenakan jilbab. Mereka tidak tahu, betapa besar tantangan yang dihadapi perempuan berjilbab dan berniqab. Ketika seorang perempuan mengenakan jilbab, mereka memperjuangkan Islam, di baris terdepan. Mereka menjadi sasaran tindakan sewenang-wenang. Sedih rasanya melihat beberapa Muslimah yang diserang secara fisik gara-gara perdebatan jilbab terutama yang dipicu oleh para politisi dengan segala pernyataan-pernyataan buruk mereka tentang jilbab. Jilbab adalah kewajiban. Saya salut dengan para muslimah yang mengenakan jilbab, dengan kekuatan, semangat dan keimanan mereka.
Untuk Muslimah yang tidak mengenakan jilbab, saya ingin bilang pada orang-orang di sekeliling mereka agar bersabar dan berilah mereka waktu. Kita semua dalam perjalanan spiritual, beberapa diantara kita mencapai level tertentu dengan cepat dibandingkan yang lainnya. Butuh waktu. Kita selayaknya tidak terlalu kritis terhadap sesama Muslimah yang belum berjilbab, kita sebaiknya mendukung dan menolong mereka.
Saya juga tidak langsung mengenakan jilbab. Butuh waktu buat saya untuk mengenakannya, dan itu itu menjadi bagian dari pertumbuhan dan perkembangan saya sebagai seorang Muslim. Setiap harus selalu ada perbaikan. Jika pembicaraan ini dilakukan kembali 20 tahun mendatang, saya akan bilang bahwa saya masih belajar dan berkembang terus, Insya Allah.
Jika ada non-Muslim yang ingin tahu tentang Islam, apa pesan penting yang harus disampaikan seorang Muslim pada non-Muslim?
Kita harus menyampaikan pada Barat bahwa kaum perempuan tidak ditindas dalam Islam, kaum perempuan bukan makhluk kelas dua. Betul, ada sebagian perempuan yang berada di bawah kendali laki-laki. Tapi di kalangan non-Muslim di Barat, banyak juga perempuan yang tertindas. Masalah kekerasan dalam rumah tangga adalah isu global bagi perempuan, bukan isu Islam.
Banyak isu yang mempengaruhi kaum perempuan Muslim dan Barat. Tapi akan saya katakan pada kaum perempuan non-Muslim bahwa banyak hal yang substansial dibalik jilbab. Jika mereka mau melihat, mereka akan menyadari bahwa banyak Muslimah berjilbab yang sukses, pintar, berbakat dan dikenal di level internasional. Jadi, daripada buang-buang waktu meributkan jilbab, berhentilah dan bicaralah pada para muslimah. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:58 AM
0
comments
Labels: berita
Saturday, March 7, 2009
Jamilah Kolocotronis, Menemukan Cahaya Islam Saat Mengejar Cita-Cita Jadi Pendeta
Sumber: Eramuslim.com, Jumat, 06/03/2009Jamilah Kolocotronis, melalui jalan berliku untuk sampai menjadi seorang Muslim. Uniknya, ia mendapatkan hidayah dari Allah swt mengikrarkan dua kalimat syahadat, justeru saat ia menempuh pendidikan demi mewujudukan cita-citanya menjadi seorang pendeta agama Kristen Lutheran yang dianutnya.
Kisah Jamilah berawal pada tahun 1976. Meski kuliah di sebuah universitas negeri, ia masih memendam keinginan untuk menjadi pendeta. Jamilah lalu mendatangi seorang pastor di sebuah gereja Lutheran dan menyampaikan keinginannya untuk membantu apa saja di gereja. Pastor itu kemudian meminta Jamilah untuk mewakilinya di acara piknik untuk para mahasiswa baru dari negara lain. Dalam acara ini, untuk pertamakalinya Jamilah bertemu dengan seorang Muslim.
Muslim itu bernama Abdul Mun'im dari Thailand. "Ia punya senyum yang manis dan sangat sopan. Saat kami berbincang-bincang, ia seringkali menyebut kata Allah," kata Jamilah.
Jamilah mengaku agak aneh mendengar Mun'im menyebut nama Tuhan, karena sejak kecil ia diajarkan bahwa orang di luar penganut Kristen akan masuk neraka. Saat itu, Jamilah merasa bahwa Mun'im adalah golongan orang yang akan masuk neraka, meski Mun'im percaya pada Tuhan dan berperilaku baik. Jamilah bertekad untuk bisa mengkristenkan Mun'im.
Jamilah pun mengundang Mun'im datang ke gereja. Tapi betapa malu hatinya Jamilah ketika melihat Mun'im datang ke gereja dengan membawa al-Quran. Usai kebaktian, Jamilah dan Mun'im berbincang tentang Islam dan al-Quran. Selama ini, Jamilah hanya mendengar istilah "Muslim" dan memahaminya dengan hal-hal yang negatif. Kala itu, sejak era tahun 1960-an warga kulit putih di AS meyakini bahwa warga Muslim kulit hitam ingin menyingkirkan warga kulit putih.
Selama dua tahun, Jamilah tetap melakukan kontak dengan Mun'im. Lewat aktivitasnya di sebuah Klub International, Jamilah juga bertemu dengan beberapa Muslim lainnya. Jamilah tetap berusaha melakukan kegiatan misionarisnya untuk memurtadkan mereka dan masih punya keinginan kuat untuk menjadi pendeta meski waktu itu, di era tahun '70-an gereja-gereja belum bisa menerima perempuan di sekolah seminari.
Waktu terus berjalan, kebijakan pun berubah. Setelah menyelesaikan studinya di universitas, sebuah seminari Lutheran mau menerimanya sebagai siswa. Jamilah pun langsung mengemasi barang-barangnya dan pergi ke Chicago untuk memulai pelatihan menjadi pendeta.
Tapi, cuma satu semester Jamilah merasakan semangat belajarnya di seminari itu. Jamilah sangat kecewa dengan kenyataan bahwa seminari itu tidak lebih sebagai tempat untuk bersosialisasi dimana pesta-pesta digelar dan minum-minuman keras sudah menjadi hal yang biasa. Jamilah makin kecewa ketika seorang profesor mengatakan bahwa para cendikiawan Kristen mengakui bahwa Alkitan bukan kitab suci yang sempurna, tapi sebagai pendeta mereka tidak boleh mengungkapkan hal itu pada para jamaah gereja. Ketika Jamilah bertanya mengapa, jawabannya tidak memuaskan dan ia diminta menerima saja keyakinan itu.
Jamilah akhirnya memutuskan meninggalkan seminari dan pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk lebih meluangkan waktu untuk mencari kebenaran. Di tengah pencariannya itu, Jamilah diterima kerja sebagai sekretaris di daerah pinggiran St. Louis tak jauh dari rumahnya.
Mencari Kesalahan al-Quran
Suatu hari Jamilah masuk ke sebuah toko buku dan menemukan al-Quran di toko buku itu. Jamilah tertarik untuk membelinya karena ia ingin mencari kelemahan dalam al-Quran. Jamilah berpikir, sebagai orang yang bergelar sarjana di bidang filosofi dan agama serta pernah mengenyam pendidikan di seminari, pastilah mudah baginya menemukan kelemahan-kelemahan al-Quran sehingga ia bisa mempengaruhi teman-teman Muslimnya bahwa mereka salah.
"Saya baca al-Quran dan mencari kesalahan serta ketidakkonsistenan dalam al-Quran. Tapi saya sama sekali tak menemukannya. Saya malah terkesan saat membaca Surat Al-An'am ayat 73. Untuk pertama kalinya saya ingin mengetahui lebih banyak tentang Islam," ujar Jamilah.
Jamilah memutuskan untuk kembali ke universitasnya dulu dan mengambil gelar master di bidang filosofi dan agama. Pada saat yang sama, selain mengunjungi kebaktian di gereja, Jamilah juga datang ke masjid pada saat salat Jumat. Saat itu, Jamilah mengaku belum siap menjadi seorang Muslim. Masih banyak ganjalan pertanyaan memenuhi kepalanya.
Namun Jamilah tetap melanjutkan pencariannya tentang agama. Ia banyak mendapat penjelasan dari teman-temannya di universitas yang Muslim tentang berbagai keyakinan dalam Kristen yang selama ini ketahui. Selain mempelajari Islam, Jamilah juga mempelajari agama Budha. "Saya cuma ingin menemukan kebenaran," kata Jamilah.
Mengucap Dua Kalimat Syahadat
Seiring berjalannya waktu, Jamilah merasakan kecenderungannya pada Islam pada musim panas 1980. Satu hal yang masih mengganggu pikirannya ketika itu adalah mengapa orang Islam harus berwudhu sebelum salat. Ia menganggap itu tidak logis karena manusia seharusnya bisa mengakses dirinya pada Tuhan kapan saja. Namun pertanyaan yang mengganggu itu akhirnya terjawab dan Jamilah bisa menerima jawabannya.
Akhirnya, malam itu Jamilah membulatkan tekadnya untuk menerima Islam sebagai agamanya. Ia pergi ke sebuah masjid kecil dekat universitas. Kala itu, malam ke-9 di bulan Ramadhan, Jamilah mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh sejumlah pengunjung masjid.
"Butuh beberapa hari untuk beradaptasi, tapi saya merasakan kedamaian. Saya sudah melakukan pencarian begitu lama dan sekarang saya merasa menemukan tempat yang damai," tukas Jamilah.
Setelah menjadi seorang Muslim, awalnya Jamilah menyembunyikan keislamannya dari teman-teman di kampus bahkan keluarganya. Menceritakan pada keluarganya bahwa ia sudah menjadi seorang Muslim bukan persoalan gampang buat Jamilah. Begitupula ketika ia ingin mengenakan jilbab. Tapi jalan berliku dan berat itu berhasil dilaluinya. Kini, Jamilah sudah berjilbab, ia tidak jadi pendeta tapi sekarang ia menjadi kepala sekolah di Salam School, Milwaukee. Di tengah kesibukannya mengurus enam puteranya, Jamilah mengajar paruh waktu dan menulis novel bertema Muslim Amerika. (ln/readingislam/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
3:56 AM
0
comments
Labels: berita
Saturday, December 20, 2008
Itali Rancang Undang-Undang Pemakaian Jilbab
Sumber: Eramuslim.com, Rabu, 17/12/2008 01:51 WIB
“Meloloskan undang-undang kebebasan pemakaian jilbab ini akan menjadi sebuah rogres yang besar,” ujar Mohamed Al-Zayyat dari Islamic Relief, Itali, “Undang-undang ini akan memberikan perlindungan legal kepada pemakai jilbab.” Kassab Boshti, wakil ketua Serikat Muslim Itali (Union of Italian Muslims), menimpali, “Undang-undang ini akan menjadi sebuah kemenangan dakwah di Itali jika sudah final.”
Senator Silvana Amati, seorang senator khusus yang menangani konstitusi, telah membeberkan sebuah draft undang-undang pemakaian jilbab di Itali. Dalam draft itu, yang dilarang hanya menutupi seluruh wajah, artinya dengan memakai cadar. Langkah ini menunjukan sebuah sikap toleransi pemerintah Itali kepada warga Muslim. Saat ini muslim di Itali berjumlah lebih dari 1,2 juta jiwa. 20.000 orang di antaranya adalah mereka yang asalnya kembali memeluk Islam. Golongan ini sempat beralih agama, karena lama tinggal di negeri itu
Satu-satunya kendala, dikhawatirkan akan datang dari oposisi sayap kanan Itali. Kelompok ini aktif mengumpulkan suara dari parlemen untuk menolak undang-undang tentang jilbab. Sejak tahun 2004, di negara-negara Eropa bermunculan muslimah yang mengenakan jilbab di sekolah dan wilayah public lainnya. Prancis, setelah berbagai insiden, menjadi negara Eropa pertama yang memelopori kebebasan memakai jilbab. (sa/iw)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:08 PM
0
comments
Labels: berita
Tuesday, June 17, 2008
Mayoritas Rakyat Turki Menentang Larangan Resmi Berjilbab
Meski dikenal sebagi negara sekuler, mayoritas masyarakat Turki menentang larangan resmi berjilbab di kantor-kantor dan universitas. Hal ini terungkap dari hasil polling yang dilakukan Universitas Isik dan Sabanci di Istanbul yang dirilis pada Rabu (14/6).
Sebanyak 2/3 dari 1.846 responden dari 20 kota besar dan kecil yang disurvei, menyatakan mendukung upaya PM Turki, Recep Tayyib Erdogan untuk meredam larangan berjilbab terhadap mahasiswa dan pegawai negeri.
Larangan berjilbab di negara berpenduduk 72 juta jiwa dan mayoritas Muslim ini diberlakukan pada tahun 1997. Saat itu, Presiden Ahmad Necdet Sezer mengeluarkan dekrit yang melarang jilbab di institusi-institusi pemerintahan, termasuk sekolah dan universitas.
Wanita berhijab juga dilarang aktif dalam organisasi-organisasi sosial yang berafiliasi dengan institusi kemiliteran. Bahkan wartawati berjilbab, kerap tidak dipekenankan meliput konferensi pers di institusi-institusi pemerintah.
Kalangan militer, akademisi dan pakar hukum banyak yang berpendapat bahwa larangan berjilbab merupakan pilar utama dari sistem sekular yang dianut Turki.
Namun dari hasil polling yang dilakukan sepanjang Maret sampai April itu menunjukkan, masih banyak rakyat Turki yang konservatif dan peduli dengan isu-isu moral, khususnya larangan berjilbab.
Hasil polling juga menunjukkan, sebagian responden meyakini bahwa kegagalan hidup disebabkan karena kurangnya keimanan. Hampir sepertiga responden mengatakan, anak laki-laki dan perempuan harus dipisahkan di kelas yang berbeda ketika belajar di sekolah. Mereka juga menentang jika anak perempuan mereka menikah dengan laki-laki non Muslim.
Hasil lainnya menunjukkan, hampir setengah dari responden menuding para turis yang datang ke Turki telah memberi pengaruh pada masalah moralitas dan budaya Turki. Para responden mengaku tidak nyaman melihat pemandangan para turis yang telanjang atau setengah telanjang ketika berjemur di pantai-pantai di lokasi wisata.
Lebih dari setengah responden mengaku puas dengan kinerja pemerintahan sekarang yang dikuasi oleh Partai Keadilan dan Pembangunan. Hanya sepertiga responden yang mengaku tidak puas dengan proses demokrasi di negerinya. 40% responden menyatakan lebih senang seorang pemimpin pemerintahan dari kalangan militer.
Angkatan Bersenjata merupakan institusi yang paling dihormati oleh rakyat Turki. Sepanjang 50 tahun sejarah Turki, militer tercatat berhasil menurunkan pemerintahan terpilih secara demokratis, namun kekuasaan militer di Turki dibatasi oleh reformasi yang didukung Uni Eropa.
Lebih lanjut hasil polling menunjukkan menurunnya dukungan masyarakat terhadap keinginan Turki bergabung dengan Uni Eropa, dari 74% beberapa tahun yang lalu menjadi 57%.
Sejak tahun 1960 sampai sekarang, negara yang akan menggelar pemilu pada November 2007 mendatang ini, berjuang untuk bisa menjadi anggota Uni Eropa. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:08 PM
0
comments
Labels: berita
Wednesday, June 11, 2008
Denmark Larang Seorang Hakim Pakai Jilbab di Ruang Sidang
(Sumber: eramuslim.com, Kamis, 15 Mei 2008)
Menteri Kehakiman Denmark Lene Espersen menegaskan larangan mengenakan simbol-simbol keagamaan di pengadilan Denmark. Dengan adanya larangan ini, seorang hakim di Denmark, tidak boleh mengenakan jilbab, mengenakan sorban, topi khas Yahudi, penutup kepala ala Hindu dan tanda salib.
"Kami sudah memutuskan untuk melarang semua simbol keagamaan dan politik, saat sedang melakukan tugas-tugas peradilan, karena seorang hakim harus netral dan tidak memihak," tukas Espersen pada para wartawan, Rabu (14/5).
Menteri Kehakiman Denmark menegaskan larangan ini, menyusul kampanye yang digelar oleh kelompok kanan jauh Partai Rakyat Denmark akhir April kemarin, untuk menolak para hakim yang mengenakan jilbab di ruang pengadilan. Padahal pada bulan Desember lalu, negara yang sebenarnya tidak punya hakim Muslim, ini membolehkan hakim berjilbab saat melaksanakan tugasnya di ruang pengadilan.
Untuk membatalkan aturan itu, Denmark harus membuat aturan baru. Dan pemerintah, dengan dukungan dari Partai Rakyat Denmark, nampaknya akan membatalkan aturan yang dikeluarkan bulan Desember lalu. Espersen rencananya akan mengajukan draft aturannya ke parlemen dalam waktu dekat ini. (ln/al-arby)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:22 PM
1 comments
Labels: berita
Thursday, March 13, 2008
Menlu Yunani, Jilbab Bukan Ancaman Sekularisme
Sumber: Eramuslim.com, Senin, 10/03/2008 10:24 WIB
Pernyataan Menteri Luar Negeri Yunani Dora Bakoyannis tentang jilbab selayaknya membuat lega hati para Muslimah. Menurutnya, jilbab adalah hak para Muslimah yang ingin menjalankan perintah agamanya. Ia juga menolak anggapan yang mengatakan bahwa jilbab merupakan ancaman bagi sekularisme.
Berbicara dalam konferensi perempuan internasional di Ankara, Turki, Bakoyannis menyatakan bahwa kerangka hukum, kebijakan politik, kebijakan pendidikan dan akses mendapatkan informasi dan teknologi baru seharusnya menjamin hak-hak masyarakat dalam pembangunan, lapangan kerja, partisipasi politik, kehidupan sosial dan dalam bidang kewirausahaan.
"Jilbab tidak mengancam hak asasi manusia dan prinsip sekular yang dianut sebuah negara. Larangan jilbab juga tidak menjamin bahwa sebuah negara akan aman, " kata Bakoyannis seperti dilansir situs berita Turki, newstime7.
Seperti diketahui, sejumlah negara-negara Eropa yang menganut sekularisme masih memberlakukan larangan jilbab di sekolah-sekolah dan institusi-institusi publik. Diawali dengan Prancis yang melarang jilbab pada tahun 2004, diikuti dengan negara-negara Eropa lainnya. Di Belgia misalnya, kota Ghent dan Anwwerp melarang Muslimah berjilbab di tempat-tempat umum termasuk sekolah. Turki, baru tahun ini berhasil mencabut larangan jilbab di perguruan-perguruan tinggi.
Dalam pidatonya dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret, Bakoyannis menuding media-media Barat telah berperan menyebarkan sikap anti-jilbab karena ketidakpahaman mereka akan konsep perempuan dalam Islam.
"Secara umum ada pandangan yang salah bahwa Islam memperlakukan perempuan lebih rendah dari laki-laki, karena kesalahan memahami ayat-ayat al-Quran, " sambung Bakoyannis seraya menegaskan bahwa Islam sangat memperhatikan hak-hak perempuan.
"Saya banyak bertemu dengan perempuan-perempuan sukses dari banyak negara-negara Muslim dan bicara banyak hal. Mereka mengatakan bahwa agama Islam memberikan hak-hak dan kedamaian buat mereka, " ujarnya.
Bakoyannis juga mengingatkan bahwa Islam dan Kristen berpedoman pada hak dan kewajiban bagi semua umat manusia tanpa pengecualian. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:06 PM
0
comments
Labels: berita
Thursday, December 20, 2007
Hidayat Nurwahid: Jilbab TNI Sangat Baik, Asal Profesional
Sumber: Eramuslim.com, Kamis, 13/12/2007 13:43 WIB
Wacana TNI wanita berjilbab ditanggapi positif oleh Ketua MPR Hidayat Nurwahid. Ia menilai asalkan tetap mengedepankan profesionalisme, tidak ada masalah tentara wanita menggunakan jilbab, apalagi saat ini baik TNI maupun polri tidak pernah melarangannya
"Kalau dirujuk ke dalam UUD dan Perundang-undangan yang ada, tidak ada sattu pun yang memposisikan polisi atau TNI wanita dilarang berjilbab, "ungkapnya kepada wartawan, di Gedung DPR, Jakarta, (13/12).
Selama ini menurutnya, penggunaan pakaian itu tidak perlu dipermasalahkan, selama penggunaan itu yang bersangkutan dapat melaksanakan tugasnya secara maksimal.
"Sebab di Melbourne Australia saja memperbolehkan berjibab. Intinya profesionalitas seseorang tidak terganggu, karena dia menggunakan jilbab atau tidak, "katanya
Ia mencontohkan, prestasi atlet berjilbab Indonesia yang dikirim ke Sea Games dan meraih emas, tidak pernah dihalangi oleh jibab.
Sebelumnya sambutan positif itu datang dari Sekretaris FPKB DPR Anisah Mahfudz. Ia menilai TNI benar-benar telah membuktikan sebagai lembaga yang serius dan konsen dalam reformasi internal TNI. (novel)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:19 PM
0
comments
Labels: berita
Saturday, December 15, 2007
MUI Jambi Dukung TNI Izinkan Personelnya Berjilbab
Sumber: Eramuslim.com, Rabu, 12/12/2007 18:34 WIB
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jambi mendukung kebijakan pimpinan TNI mengizinkan personelnya berjilbab, karena dinilainya sebagai kemajuan bidang militer di Indonesia.
"Kita sangat mendukung kebijakan pimpinan TNI seperti disampaikan Kadispen Umum Mabes TNI, Kolonel Ahmad Yani Basuki, yang pada prinsipnya tidak ada larangan TNI wanita berjilbab yang aturannya sedang dikaji, " kata Ketua MUI Jambi Prof DR Sulaiman Abdullah, di Jambi, Rabu(12/12).
Menurutnya, jilbab bukan halangan bagi wanita di dalam menjalankan tugasnya, terutama yang berhubungan dengan kegiatan pertahanan dan keamanan.
Seperti diketahui, Busana Muslim dan jilbab sudah diterapkan dan dicontohkan oleh Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) di Aceh, dan terbukti tidak merusak provesionalisme serta mengganggu tugas mereka. Begitupula petugas keamanan gedung, dan anggota polisi pamong praja di Jakarta, memperbolehkan wanita menggunakan jilbab.
Sulaiman Abdullah menyakini, pakaian tersebut akan menambah simpatik masyarakat pada petugas, karena berjilbab adalah salah satu perintah agama yang harus dijalankan.
Karena itu Ia berpendapat, agar busana muslim kini juga sudah menjadi trend atau pakaian nasional yang harus disosilisasikan, bila perlu pimpinan Polri juga melakukan hal yang sama.
"Hampir di semua tempat dan kegiatan banyak wanita menggunakan jilbab, bahkan dalam olahraga sekali pun seperti main bulutangkis, bola voli dan renang, "ungkapnya.
Ia juga mengingatkan, hak wanita muslim yang paling mendasar dalam menjalankan perintah agama itu, dapat dihargai oleh seluruh pengambil kebijakan. (novel/ant)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:17 PM
0
comments
Labels: berita
Wednesday, November 21, 2007
Caleg Muslimah Berjilbab Pertama di Eropa Ikut Dalam Pemilu Denmark
(Sumber: eramuslim.com, Senin, 29 Okt 07 09:09 WIB)“Saya sangat optimis. Saya yakin saya dan partai saya bisa mendapatkan hasil suara yang bagus pada pemilu ini, ” ujar seorang Muslimah calon legislatif tentang Partai Persatuan Denmark.
Muslimah bernama Asma Abdol Hamid itu mengungkapkan keyakinannya akan unggul dalam pemilu yang akan dilaksanakan pada 13 November mendatang. Ia menegaskan takkan membuka jilbab dalam kampanye politiknya hingga menjadi anggota legislatif mendatang.
Asma, yang sebelumnya dikenal sebagai presenter tv Denmark pertama mengenakan jilbab, menyerukan minoritas Islam untuk melakukan aksi positif untuk menjawab tuduhan yang dilontarkan Partai Rakyat Denmark yang berhaluan ekstrim kanan, terhadap kaum Muslim.
Jurubicara partai sayap kanan-ekstrim Partai Rakyat Denmark (DPP), Soeren Krarup, menganggap jilbab Asma sebagai "simbol totaliter" dan menyamakannya dengan "Nazi swastika." Seorang anggota Palemen Eropa dari DPP, Mogens Camre, juga mengatakan, “Asma memerlukan pengobatan psikiatris."
Namun kata-kata kasar itu tidak berpengaruh terhadap Asma, yang bermukim di Denmark sejak usia lima tahun bersama kedua orangtuanya yang warga Palestina. Menurut Asma, kaum Muslimin harus terlibat aktif dalam pemilu dan pemberian suara untuk menentang para ekstrimis melalui lapangan politik.
“Yang saya inginkan adalah kesejahteraan sosial untuk semua rakyat Denmark. Saya menganggap pencalonan diri saya adalah wakil dari seluruh elemen rakyat Denmark dan saya tidak menganggap bagian dari kelompok atau etnis tertentu, ” demikian Asma dalam salah satu kalimat yang menjadi fokus kampanyenya.
Ia juga mengatakan bahwa dirinya akan melihat ke seluruh rakyat Denmark dengan satu sudut pandang, tanpa membedakan apakah dia imigran atau tidak, asalkan dia adalah warga Denmark maka orang tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Asma, Muslimah berusia 25 tahun ada dalam Partai Persatuan Denmark yang menjadi oposisi pemerintah. Karenanya, ia juga menyatakan salah satu programnya adalah melakukan “reformasi pemerintah”.
Asma menegaskan dirinya takkan melepaskan jilbab sebagai identitas keIslamannya, sebagaimana prinsip yang sudah ia tunjukkan beberapa waktu sebelumnya saat ia menjadi presenter tv. Asma yang merupakan warga negara Denmark kelahiran Palestina, telah menimbulkan perdebatan hangat di Denmark saat mendeklarasikan prinsip bahwa ia akan memakai jilbab di parlemen bila ia terpilih dalam pemilu 2009.
Ketika masih menjadi presenter tv, Asma juga sudah menuai kritik dan tuduhan di berbagai media, karena mengenakan jilbab dan menolak berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya. Kini ia kembali muncul ke publik Denmark dalam rangka kampanye pemilu.Jika terpilih, maka Asma adalah perempuan yang menjadi legislatif pertama di Eropa yang mengenakan busana muslimah. (na-str/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:31 AM
0
comments
Labels: berita
Thursday, October 25, 2007
Pertama Dalam Sejarah, Pengadilan Tunisia Menangkan Jilbaber
(Sumber: www.arrahmah.com, 14 Okt 2007)“Saya seperti terbang karena begitu gembira. Idul Fitri tahun ini kami rayakan di hari Jum’at setelah dalam bulan Ramadhan terjadi kebahagiaan yang meliputi semua Muslimah berjilbab di Tunisia. Ini adalah kemenangan besar. ” Ungkapan seperti ini disampaikan seorang Muslimah Tunisia bernama Amane, kepada Islamonline.
Amane adalah muslimah berjilbab yang orang tuanya merelakan dirinya keluar dari kampus tempatnya belajar di Universitas, demi memelihara jilbab yang dikenakannya. Dan kali ini, kegembiraan menyeruak hebat di kalangan Muslimah berjilbab di Tunisia bersamaan dengan hadirnya hari raya Idul Fitri.
Pasalnya, belum lama berselang dikeluarkan keputusan pengadilan yang pertama kali dalam sejarah Tunisia, di mana para jilbaber menang secara hukum di negara yang pemerintahnya melarang jilbab sejak tahun 1981. Sejak tahun itu, para jilbaber dilarang melakukan aktifitasnya di sekolah, kampus dan berbagi instansi umum serta pemerintah, karena dianggap sebagai pakaian kelompok tertentu yang bermakna ekstrim, tidak sesuai undang undang, dan bertentangan dengan kebebasan.
“Ini adalah pernyataan kami yang begitu jelas bahwa kami bukanlah kelompok etnik, kami bukan kelompok ekstrim. Ini adalah penegasan kami bahwa kami juga sebenarnya adalah korban karena hukum telah merugikan kami lantaran tidak dapat menuntut ilmu dengan menggunakan jilbab, ” ujar Amane dengan linangan air mata bahagia.
Seperti ramai diberitakan di media massa Tunisia, pengadilan menyatakan pembatalan keputusan Menteri Pendidikan yang sebelumnya melarang seorang guru perempuan berjilbab bernama Saidah Adalah dari tugasnya mengajar di salah sebuah sekolah menengah umum, selama 3 bulan karena mengenakan jilbab. Muna (29), pegawai pabrik tenun yang juga berjilbab mengatakan dirinya kini sangat bahagia karena tidak perlu diliputi rasa takut jika harus melewati pos keamanan dengan mengenakan jilbab. “Dengan keputusan pengadilan seperti itu, maka saya bisa tenang berjalan dengan memakai jilbab, ” ujarnya.
Lajnah Pembelaan Jilbab di Tunisia, mengeluarkan pernyataan, “Keputusan yang dikeluarkan itu adalah keputusan yang telah lama dinanti para penegak HAM di dalam maupun luar negeri Tunisia. ” Mereka menyerukan agar pemerintah di masa mendatang bisa menghormati keputusan pengadilan tersebut dan menghapuskan undang undang anti jilbab yang tidak sesuai dengan kenyataan di Tunisia.
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:00 AM
0
comments
Labels: berita
Sunday, September 30, 2007
Mendagri Italia Tolak Tuntutan Agar Jilbab Dilarang
Sumber: Eramuslim.com, Jumat, 28/09/2007 12:01 WIB
Di tengah makin meningkatnya gelombang anti-jilbab di Barat, Menteri Dalam Negeri Italia Giuliano Amato menyatakan menolak permintaan agar diberlakukan larangan berjilbab di tempat-tempat umum di negara itu.
"Jika kita mau melarang jilbab di tempat-tempat publik, maka akan segera muncul pertanyaan, 'mengapa seorang biarawati dibolehkan mengenakan apa yang menjadi kebiasaannya, sedangkan muslimah tidak', " ujarnya pada seperti dilansir surat kabar La Stampa.
Mendagri mengatakan bahwa konsitusi Italia menjamin kebebasan beragama dan menjalankan ibadah. Kalau ada larangan berjilbab, maka larangan harus dikenakan pada semua orang baik muslimah maupun biarawati.
"Jika seorang muslimah sakit dan dirawat di rumah sakit, dia tidak boleh mengenakan jilbab, sementara seorang biarawati dibolehkan, " kata Amato yang mencontohkan adanya ketidakadilan penerapan hukum.
Amato menambahkan, ia tidak setuju kalau yang dikenakan adalah cadar, tapi tidak masalah jika yang dikenakan hanya jilbab.
Belakangan ini, kelompok-kelompok kiri gencar mengkampanyekan anti-jilbab yang diidentikan dengan teror dan anti-integrasi. Kampanye itu dilakukan Partai Lega Nord, yang mengumpulkan tanda tangan untuk menentang jilbab. Partai itu juga meminta agar kaum perempuan yang mengenakan cadar ditangkap dan didenda.
Diperkirakan, saat ini ada sekitar 1, 2 juta Muslim di Italia, termasuk 20. 000 mualaf. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
4:12 PM
0
comments
Labels: berita
Monday, July 30, 2007
Siswi Kristen di Mesir Tak Keberatan Kenakan Jilbab
(Sumber: eramuslim.com, Senin, 26 Mar 07 17:46 WIB)Sejumlah siswi beragama Kristen di sebuah sekolah menengah di Mesir membantah tuduhan yang mengatakan bahwa mereka dipaksa memakai jilbab oleh kepala sekolah mereka. Para siswi itu menyatakan, mereka mengenakan jilbab atas kemauan sendiri, bukan karena paksaan.
Tuduhan itu dilontarkan sebuah majalah milik pemerintah dalam artikelnya yang menyatakan bahwa Magdy Fikri, kepala sekolah teknik Al-Ayyat di provinsi Giza, telah memaksa seluruh siswa yang berjumlah 2. 700 orang, 55 di antaranya siswi beragama Kristen, untuk mengenakan jilbab.
Menurut laporan majalah itu, tindakan Fikri membuat menteri pendidikan marah, sehingga Fikri bersama dua guru lainnya di sekolah itu dimutasikan.
"Kami menerima keluhan dari sejumlah orang tua dan siswi, yang mengatakan bahwa kepala sekolah memaksa siswi Muslim dan Kristen mengenakan jilbab, " kata pejabat kementerian pendidikan Mesir, Hussein al-Syaikh.
Namun Fikri tidak percaya keluhan yang diterima kementerian pendidikan berasal dari para siswi-siswinya. "Saya tidak mempercayai bahwa seorang siswi atau salah satu dari kolega saya yang Kristen berada di balik pengaduan itu, " katanya.
"Saya sudah kenal mereka selama bertahun-tahun, mereka tidak akan bersikap seperti itu. Kami, Muslim dan umat Kristiani adalah satu dan tidak saling menjelekkan satu dengan yang lain, " sambung Fikri.
Perkataan Fikri terbukti, karena sejumlah siswi yang beragama Kristen menyatakan bahwa mereka bersedia mengenakan jilbab atas kemauan sendiri, bukan karena paksaan. Para orang tua siswi juga menyatakan mendukung anaknya mengenakan jilbab di sekolah.
"Kami sudah memutuskan untuk mendukung kepala sekolah, menunjukkan pada semua bahwa dia tidak memaksa kami mengenakan jilbab. Semua siswi Kristen di sekolah ini mengenakan jilbab atas kemauan sendiri, " kata Marriam Nabil, salah seorang siswi.
Keputusan mereka mengenakan jilbab, juga bukan semata-mata untuk menunjukkan solidaritas tapi mencontoh apa yang dilakukan perawan suci, Maria.
"Kami mengenakan penutup rambut di dalam dan di luar sekolah seperti ibu-ibu kami. Saya sendiri sudah menutup rambut saya sejak di sekolah dasar. Kami tidak merasa tersinggung jika kami disama-samakan dengan rekan kami yang Muslim, " kata seorang siswi beragama Kristen.
Dukungan terhadap Fikri juga ditunjukkan oleh guru-guru sekolah Kristen, yang mengecam sanksi disipliner terhadap Fikri.
"Fikri adalah salah satu orang yang berkualitas. Ketidakadilan sudah dilakukan terhadapnya dan kami membela dia, " kata Magdy Rasmi, salah seorang deputi sekolah beragama Kristen.
Lotfi Adly, seorang bapak dari siswi yang beragama Kristen mengatakan, dia yakin tidak ada yang salah dengan jilbab. "Anda pikir saya akan senang melihat rambut anak-anak saya tidak tertutup?" tukasnya.
Ibu dari Fayza Awad, siswi beragama Kristen lainnya menambahkan bahwa ia dan anak perempuannya biasa mengenakan penutup rambut, mengikuti bunda Maria.
"Saya mengenakan kudung karena bunda Maria juga menutup rambutnya. Ini masalah penghormatan dan sama sekali bukan paksaan, " ujarnya.
Melihat dukungan dari kalangan Kristen, Menteri Pendidikan Mesir Yousri el-Gamal akhirnya tidak lagi mempersoalkan masalah jilbab di sekolah Al-Ayyat. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
6:31 AM
1 comments
Labels: berita
Thursday, June 21, 2007
Jilbab, Memotivasi Ruqaya al-Ghasara Hingga Meraih Medali Emas
(Sumber: eramuslim.com, Rabu, 13 Des 06)
Berjilbab tak halangi atlit olah raga lari perempuan Ruqaya Al-Ghasara asal Bahrain untuk memenangkan pertandingan. Ruqaya Al-Ghasara mendapat medali emas (11/12) dalam olah raga lari 200 meter dengan kecepatan 23,19 detik dalam pesta olah raga Asian Games ke-15 di Doha, Qatar. Sebelum itu Ruqaya memenangkan medali perunggu dalam lomba lari 100 meter, karena awal start yang kurang tepat.
Stadion olah raga Ali Khalifah seperti bergetar dengan teriakan gembira para penonton yang menyaksikan pertandingan tersebut setelah Ruqaya memenangkan perlombaan. Apalagi menjelang Ruqaya, perempuan berbobot 65 kilogram ini mencapai garis finish. Ia telah mengerahkan seluruh potensi kekuatannya.
Tapi yang lebih istimewa bukan soal dukungan atau bobot tubuh Ruqaya. Yang membuatnya istimewa adalah karena ternyata motivator pertama yang membuat Ruqaya mampu memberikan hasil terbaik adalah, jilbabnya. Ya, Ruqaya satu-satunya pelari perempuan berjilbab yang mampu menunjukkan prestasi istimewa dalam pertandingan lari di kejuaraan tingkat Asia, mungkin juga dunia.
Ia mengatakan, “Alhamdulillah, saya menang. Saya berhak mendapat medali emas dalam lomba lari 200 meter. Alhamdulillah, saya menjadi yang paling kuat dan paling baik.”
Ia lalu menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mendapat masalah dengan jilbabnya saat olah raga lari. Bahkan ia mengatakan, “Saya justru ingin menegaskan bahwa tidak ada masalah berarti memakai jilbab seperti ini, termasuk saat olah raga sebagaimana saya lakukan.”
Ia pun berpesan kepada para Muslimah, “Saya ingin sekali mengatakan pada para Muslimah, bahwa ini adalah kenikmatan sendiri. Memakai pakaian berjilbab adalah sesuatu yang memotifasi saya. Memakai jilbab menegaskan bahwa kaum Muslimah tidak akan mendapat kendala berarti dan justru mereka terdorong untuk lebih banyak terlibat dalam event yang lebih besar.”
Ruqaya mengatakan ini di tengah luapan kegembiraannya atas prestasi yang baru saja dilakukannya. “Saya pesan kepada para Muslimah untuk berolah raga dan ikut dalam pertandingan adu kekuatan. Ini bermanfaat untuk kesehatan kalian dan negara kalian,” katanya lagi.
Ruqaya yang memakai pakaian menutup aurat berwarna putih dan merah menandakan paduan warna asal negaranya, Bahrain. Ia telah meraih sejumlah medali dari berbagai event olah raga. Ia pernah memenangkan medali perak untuk olah raga lari sprint jarak 60 meter, 200 meter, dan 400 meter dalam pertandingan olah raga Asia yang diselenggarakan di Teheran, tahun 2004. Dan kali ini, merupakan medali paling tinggi yang diraihnya selama ini. Ia berharap tahun depan bisa mengikuti olimpiade di Osaka Jepang. “Saya sudah pernah menang di event olah raga Arab, Asia Barat, tapi kemenangan ini adalah prestasi saya yang paling besar, saya ingin meraih medali lebih banyak lagi,” ujarnya.
Menurut pelatihnya, Thagen, Ruqaya adalah murid istimewa yang mempunyai kemampuan yang jarang dimiliki perempuan. Kepada pers Prancis Thagen mengatakan, “Ia telah mulai melakukan olah raga sejak umur 19 tahun, ini berarti ia hanya berlatih serius selama 4 tahun saja. Tapi kemampuan fisiknya di atas rata-rata.” (na-str/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
6:43 AM
1 comments
Labels: berita
Wednesday, June 6, 2007
Jilbab Bukan Penghalang untuk Main Film
Republika, Rabu, 06 Juni 2007
Sana'a--RoL-- Dalam setahun belakangan ini, hujatan dari kalangan kritikus film dan media massa terhadap kalangan aktris Arab yang memutuskan untuk menggunakan hijab (jilbab), kembali mencuat.
Hujatan tersebut mempengaruhi sebagian aktris berjilbab dalam memainkan peran di dunia akting. Permasalahnnya, hujatan tersebut dianggap terlalu 'pedas' hingga menjurus kepada masalah pribadi.
Merespon hujatan itu, aktris papan atas Arab yang memakai jilbab sejak sekitar tiga tahun belakangan ini, Sabirin, menilai hujatan itu tidak berdasar dan hanya bertujuan untuk mempengaruhi kinerja para aktris berjilbab. "Saya tidak mengerti mengapa hujatan ini kembali mencuat kepada saya dan teman-teman seprofesi. Hujatan ini masih berdampak bagi sebagian teman," katanya kepada harian Al-Quds Al-Arabi, Selasa (5/6).
Sabirin yang pernah berperan sebagai artis legendaries, Ummu Kulsum, menilai hujatan yang menyebutkan jilbab mengganggu penampilan para artis sebagai omong kosong.
"Hijab bukan penghalang bahkan sebagian aktris mampu bermain lebih bagus ketimbang sebelum memakai hijab," katanya sambil menyebutkan contoh sejumlah aktris berjilbab yang tampil memukau dalam berbagai serial sinetron. "Aktris semisal Huda Sulthan dan Nahad Samir justru menemukan puncak kebolehannya saat mengenakan hijab sehingga tampil memukau dan selalu dikenang oleh publik," ujar aktris asal Mesir itu.
Dia bahkan balik bertanya apakah jilbab terlarang di dunia peran. "Apakah seorang aktris diharuskan berperan di layar dalam keadaan berduaan dengan suami di kamar dan kamar mandi," katanya lagi.
Aktris cantik yang baru tampil sekali di layar kaca setelah berjilbab itu dalam sinetron bertajuk "Kashkul likolli muwatin" (campur aduk buat setiap warga), menilai banyak media massa menzalimi aktris-aktris berjilbab dengan laporan yang menghujat.
"Media massa menzalimi kami. Seharusnya mereka berhenti menghujat. Biarkan kami meneruskan dunia peran dan membiarkan publik yang menilai hasil karya kami," katanya. (Antara)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
11:53 AM
3
comments
Labels: berita
Saturday, March 24, 2007
Sekolah-Sekolah di Inggris Diberi Otoritas untuk Larang Cadar
(Sumber: eramuslim.com)
Ketegangan antara warga Muslim dan pemerintah Inggris lagi-lagi terjadi, setelah pemerintah membuat usulan agar sekolah-sekolah diberi otoritas untuk melarang penggunaan cadar.
Wacana itu mengemuka bersamaan dengan akan diterbitkannya panduan baru penyelenggaran pendidikan di Inggris yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Ketrampilan (DEFS) dalam waktu dekat ini. Panduan pendidikan yang dirancang oleh Menteri Pendidikan, Alan Johnson itu akan didistribusikan ke seluruh sekolah di Inggris.
Terkait dengan pemberian otoritas pada sekolah-sekolah untuk melarang penggunaan cadar, dalam buku panduan itu disebutkan bahwa sekolah harus mampu mengindentifikasi setiap siswa-siswi agar bisa menjaga ketertiban. Selain itu, agar pihak sekolah bisa dengan mudah mengetahui jika ada penyusup.
"Jika wajah siswa-siswi tidak bisa dikenali untuk alasan tertentu, guru kemungkinan tidak bisa menilai bagaimana perhatian mereka terhadap pelajaran dan untuk melibatkan mereka dalam diskusi serta aktivitas-aktivitas lainnya, " demikian bagian isi panduan baru tersebut, seperti dikutip surat kabar Daily Mail, edisi Selasa (20/3).
Departemen Pendidikan dan Ketrampilan Inggris membuat panduan pendidikan baru setelah mencuat kasus gugatan terhadap sekolah yang melarang penggunaan cadar. Gugatan itu diajukan oleh seorang siswi Muslimah berusia 12 tahun terhadap sekolah Buckinghamshire. Namun gugatan itu ditolak pengadilan dengan alasan cadar menimbulkan resiko keamanan.
DEFS menyatakan siap menerima saran-saran dan pendapat sampai tanggal 12 Juni, sebelum menerbitkan panduan itu secara resmi.
Warga Muslim Tidak Diajak Konsultasi
Mengemukanya wacana tentang larangan bercadar di sekolah-sekolah ini, tentu saja menimbulkan kekecewaan warga Muslim di Inggris. Mereka menyayangkan sikap pemerintah yang tidak berkonsultasi dulu sebelum melontarkan rencana itu.
"Tidak ada konsultasi dengan komunitas Muslim sebelum panduan ini disosialisasikan, " kata Massoud Shadjareh, ketua Islamic Human Rights Commission (IHRC) dalam pernyataan resmi di situsnya.
Kelompok advokasi yang berbasis di London ini, khawatir panduan tersebut justeru akan kontra produktif.
"Meski panduan ini hanya mempengaruhi sebagian kecil komunitas Muslim, hal itu bisa mendorong para orang tua untuk memberhentikan anak-anaknya dari sekolah yang memberlakukan larangan cadar. Mereka akan mengajar anak-anaknya di rumah atau mendaftarkan hanya ke sekolah-sekolah Islam, " tukas Shadjareh.
Menurutnya, pemerintah tidak sensitif dengan keberadaan hampir dua juta warga Muslim di negeri itu. Para menteri yang terkait dengan masalah pendidikan dianggap gagal memberikan panduan yang layak seperti yang diminta para juru kampanye hak asasi manusia, tentang kewajiban sekolah dalam masalah busana dan jilbab bagi siswi muslimah.
Sementara itu, juru bicara Muslim Council of Britain bidang pendidikan Tahir Alam menyatakan, semua pihak harus peka dalam merespon isu-isu semacam ini. Selama ini, kata Alam, banyak sekolah-sekolah yang mampu memecahkan isu-isu kasus-kasus seperti itu, secara internal. Dan seharusnya, tetap dibiarkan seperti itu. (ln/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
1:29 PM
0
comments
Labels: berita
Wednesday, March 21, 2007
Kaum Islamis dan Sekuler Tunis Satu Suara: Larangan Jilbab Melanggar HAM
(Sumber: eramuslim.com, Senin, 12 Mar 07 08:30 WIB)Kaum oposisi Tunis yang terdiri dari para politisi dan kaum intelektual, melanjutkan aksi menekan pemerintah yang telah menetapkan larangan terhadap jilbab. Uniknya, aksi ini justru dipelopori oleh kalangan Islamis dan sekuler.
Mereka menelurkan sebuah dokumen bersama, antara lain menetapkan bahwa menggunakan jilbab adalah hak individu yang tidak boleh dilarang bagi wanita yang ingin mengenakannya.
Ketetapan bersama itu dianggap para pengamat, sebagai langkah balik dari kalangan sekuler dan kiri yang sebelumnya telah menyatakan secara prinsip, menolak jilbab. Dalam ketetapan itu, mereka juga mengkritisi soal banyaknya hak-hak perempuan berjilbab yang terlanggar, baik di bidang pengajaran, bekerja, dan juga terkait hak persamaan mereka dengan pria. Dalam soal ini, pengamat menganggap telah terjadi perubahan pemikiran di kalangan Islamis. Karena sebelum ini kalangan Islamis tegas menyatakan perbedaan antara hak perempuan dan laki-laki dalam hal-hal tertentu.
Dokumen bersama yang dideklarasikan oleh kelompok yang menamakan diri mereka kelompok “Perhimpunan 18 Oktober untuk HAM” dan dokumen mereka bertajuk, Tentang Hak -hak Perempuan dan Persamaan Hak antara Perempuan dan Laki-laki. Nama 18 Oktober diambil karena awal pertemuan arus ini terjadi pada 18 Oktober 2005. Anggotanya terdiri dari kalangan lintas pemikiran dan politik, baik Islamis maupun sekuler. Utamanya adalah Harakah Nahdhah yang mewakili arus Islamis di Tunis, Partai Demokrat Modern beraliran sekuler, juga Partai Buruh Komunis Tunisia.
Mushtafa ben Jafar, kepala partai Demokrat Modern mengatakan, “Ini adalah dokumen yang memiliki nilai sejarah penting. Karena dokumen ini telah berhasil dibuat setelah melakukan kesuksesan dalam dialog dan kajian terhadap masalah-masalah yang diperselisihkan selama ini antara arus Islam dan sekuler, terhadap masalah hak perempuan. ”
Jafar menegaskan pada para wartawan, bahwa, “Dokumen ini telah menghilangkan perselisihan terhadap masalah perempuan yang telah dihidupkan oleh pemerintah selama 20 tahun hingga semakin memperdalam perselisihan dan perbedaan antara arus politik oposisi, yang dipelopori oleh arus Islam dan arus sekuler. ”
Sementara Zeyad Daulatay, salah satu pimpinan Harakah Nahdhah Islamiyah, mengakui urgensi dokumen ini sebagai, “kesepakatan pertama dalam sejarah di wilayah Arab dan bahkan dunia Islam. Di mana dalam dokumen itu, kalangan sekuler dan Islamis sama-sama sepakat terhadap hal yang satu, yang paling sering menjadi akar perselisihan antara mereka, yakni dalam masalah hak perempuan. ” Kepada Islamonline, ia mengatakan, “Kesepakatan ini membuka pintu untuk rakyat dari berbagai aliran untuk bergabung bersama guna membahas masalah lain yang selama ini diperselisihkan, seperti masalah demokrasi, masalah agama dan negara, dan juga masalah lainnya. ”
Kelompok Islamis dan sekuler Tunisia ini membeberkan sejumlah kasus yang merugikan perempuan Tunisia, antara lain, perbedaan mencolok antara hak untuk perempuan dan laki-laki di Tunis menyebabkan tingkat buta baca tulis di kalangan perempuan sangat banyak. Selain itu juga soal kesempatan bekerja wanita, di mana upah untuk perempuan berbeda 14% daripada upah untuk kaum laki-laki. Bahkan perbandingan itu bisa mencapai 18%. Kelompok tersebut menuntut pemerintah menghapus undang-undang yang melarang perempuan berjilbab sehingga tidak mendapatkan haknya. (na-str/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:05 AM
1 comments
Labels: berita
Tuesday, March 13, 2007
Pemain Berjilbab Dikeluarkan dari Pertandingan Bola, FIFA Turun Tangan
(Sumber: eramuslim.com, Rabu, 28 Peb 07 17:24 WIB)FIFA tengah membahas masalah penggunaan jilbab bagi pemain sepak bola wanita yang ikut bertanding dalam event internasional. Hal ini berawal dari kasus penggunaan jilbab seorang pemain bola wanita telah memunculkan perbincangan heboh di Kanada.
Kasus ini sampai melibatkan pejabat Quebec, dan bahkan sejumlah petinggi sepak bola di lokasi itu menuntut FIFA untuk memberi batasan resmi soal jilbab dalam olah raga paling digandrungi masyarakat dunia ini.
Perbincangan seru tentang jilbab di lapangan hijau mulai terjadi ketika salah seorang pemain bola bernama Asmahan Mansour (11), remaja asal Kanada, dikeluarkan dari lapangan, karena menolak melepaskan jilbabnya saat bertanding.
Menurut harian Lo Journal Du Montreal yang terbit di Kanada (27/2), masalah ini menjadi panas saat Jean Charest kepala kementerian Quebec Kanada berbicara dan mendukung keputusan wasit pertandingan yang menghentikan pemain berjilbab. Menurut Charest, “Hakim melakukan tindakan yang benar, karena dia ingin menerapkan peraturan permainan dengan serius. ”
Namun demikian kasus penghentian itu, dibantah oleh pelatih Asmahan yang bernama Louis Maneiro. Ia menyatakan menolak keputusan hakim dan bahkan tindakan protes itu juga didukung sejumlah tim lain yang merasa toleran dengan apa yang dilakukan oleh pelatih Asmahan, dan menganggap bahwa keputusan wasit adalah pelanggaran terhadap HAM.
“Wasit hanya melihat bahwa saya wanita Muslimah berjilbab. Karena itu saya tidak berhak ikut serta dalam dunia sepak bola selama tidak melepas jilbab di setiap pertandingan, ” ujar Asmahan.
Di sisi lain, Maneiro mengatakan tidak ada peraturan resmi dari FIFA yang melarang penggunaan jilbab saat pertandigan. Ia menjelaskan pelarangan hanya disebutkan dalam peraturan seperti larangan menggunakan perhiasan apapun, gelang, atau materi tertentu seperti kaca mata yang bisa membahayakan.
“Jika ada peraturan resmi bahwa wanita berjilbab terlarang main dalam pertandingan FIFA, niscaya tidak akan pula ada pertandingan sepak bola perempuan di negara-negara Islam, yang pasti melibatkan kaum perempuan berjilbab di lapangan, ” tambahnya. (na-str/iol)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:11 AM
16
comments
Labels: berita
Monday, February 26, 2007
AM. Fatwa Protes Keras Larangan Jilbab Bagi Petugas Medis
(Sumber: eramuslim.com)
Wakil Ketua MPR AM. Fatwa memprotes keras pelarangan jilbab bagi perawat di Rumah Sakit (RS) Kebonjati, Bandung.
"Tidak pantas larangan menggunakan jilbab itu diterapkan di negara Indonesia yang menjunjung tinggi nilai demokrasi beragama, " ujar Fatwa di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/2).
Menurutnya, seharusnya pihak RS tidak membuat atuaran yang bertentangan dengan ajaran agama. Seyognyanya semua pihak bijak dalam membuat peraturan.
"Jangan sampai melarang seseorang menggunakan jilbab, sekalipun masih dalam melaksanakan tugas. Karena jilbab itu tidak akan menganggu dan mengurangi prestasi seseorang dalam bekerja, " tegas dia.
Oleh karena itu, tambah Fatwa, pelarangan jilbab tidak bisa diterima.
"Larangan memakai jilbab di RS Kebonjati, Bandung tidak beralasan, " katanya. Ia yakin, paramedis yang memakai jilbab tidak akan membuat RS rugi.
"Atribut-atribut dari RS memang perlu sebagai tanda dan sarana pengenal, namum pengaturan itu tidak perlu bersifat kaku, " saran Fatwa, yang juga politisi Partai Amanat Nasional (PAN). (dina)
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
5:14 AM
1 comments
Labels: berita
