(Sumber: www.syariahonline.com)
Pertanyaan:
Assalamualaikum wrwb...
Ustadz, saya mau bertanya. Selama ini saya memakai jilbab panjang hingga pinggang dan ibu saya tidak menyukainya. Menurutnya asalkan bagian depan sudah menutup dada saja sudah memenuhi kewajiban. sudah berbagai alasan saya kemukakan namun ibu tetap tidak mau terima dan bahkan menyatakan tidak akan ridho jika saya tetap tidak menaikkan jilbab saya. Benarkah apa yang diperintahkan ibu saya? Apakah saya berdosa jika tetap menggunakan jilbab panjang yang berarti tidak mengindahkan perkataan ibu?
Atas jawabannya saya ucapkan jazakumullah khairan katsiran,
Wssalamualaikum wrwb.
Nisa
Ciganjur
Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillahi rabbil `alamin, washshalatu wassalamu `ala sayyidil mursalin, wa ba`du,
Kalau mengacu kepada jumhur ulama, sebenarnya batas aurat wanita itu adalah selurh tubuh kecuali wajah dan tapak tangan.
Sedangkan apakah harus mengenakan model jilbab panjang sampai ke pinggang, sebenarnya tidak ada keharusan. Memang salah satu syarat pakaian wanita itu haruslah tidak sempit, lebar dan luas. Namun intinya adalah agar jangan sampai mencetak lekuk tubuh.
Maka bila memang pakaian dan kerusung sudah dianggap bila memenuhi syarat itu, secara hukum sudah gugur kewajibannya. Adapun ada sebaik kalangan yang berpendapat haruslah jilbab itu sampai pinggang dan menutupi hampir semua bagian tubuh, kami lebih berpendapat merupakan bab afdhaliyah, yaitu keutamaan.
Masalah keutamaan ini berbeda dengan masalah kewajiban. Sebab yang namanya kewajiban itu sifatnya pasti dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sedangkan afdhaliyah itu bisa saja dilakukan manakala tidak ada orang lain yang komplain. Namun jangan sampai dalam rangka mengejar afdhaliyah, kita malah jadi bermasalah dengan orang lain. Kita merasa benar karena menurut kita, kita sedang berusaha menjalankan perintah Allah SWT dan Rasulullah SAW, namun syariah Islam juga tidak melupakan masalah kehidupan sosial kita juga.
Dalam kasus anda, barangkali dalam pandangan ibu anda, jilbab yang sampai ke pinggang itu berlebihan, paling tidak untuk dikenakan di lingkungan anda. Ada banyak komentar orang tentang hal itu sehingga terkesan malah menjadi sumber fitnah.
Sebagai musliman yang baik, tidak ada salahnya bila anda mencermati hal-hal seperti ini, sebab jilbab panjang bukan kewajiban mutlak, sedangkan ridha dari orang tua sudah tidak ada khilaf dari siapapun tentang kewajibannya. Silakan anda berpikir lebih dalam dan dengan hati yang tenang. Semoga Allah SWT memberikan jalan keluar yang tepat. Amien.
Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Tuesday, February 14, 2006
Ibu Tidak Ridho Dengan Jilbab Panjang
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
11:29 PM
1 comments
Labels: tanya-jawab
Monday, February 13, 2006
Doa Perempuan (Miranda Risang Ayu)
DOA PEREMPUAN
Allah
Yang Maha Kasih dan Maha Sayang
tolong dengar kata-kataku.
Masih bolehkah kusapa Engkau seperti dulu:
Kekasih?
aku ingat
Kauhadir bersama langit dan bumi,
bersama air, angin, tetumbuhan dan kupu-kupu
dan di hadapan sekuntum bunga yang baru mekar
Kita tersenyum
hingga lenyap bumi lenyap semu
dalam wewangian.
aku ingat
Kauhadir bersama pekat malam
tanpa bulan tanpa perapian tanpa peraduan
dan aku lelap dalam sujud-Mu yang panjang
hingga hadir peri-peri kecil mengetuk pintu mengucapkan salam.
Itu semua ketika
aku berpaling dari segala yang bukan.
kumasak air dan air itu milik-Mu.
kutatap lekat perkawinan sayur-mayur di belanga
dalam ingatanku kepada-Mu.
kudekap anak-anak
titipan-Mu.
kubangun mimpi-mimpi
untuk kehadiran-Mu.
Dan kurasakan
Kau tersenyum
ketika ingatanku kepada-Mu
membuatku menemukan puasa tanpa berbuka
dalam tidur dan jagaku
yang terjadi semata-mata
karena kekuasaan-Mu.
Tetapi kini
kurasa aku memang tidak layak lagi
berkata-kata.
Lihat luka-luka yang kubuat
karena kebodohanku sendiri
yang cuma manusia.
Ternyata alam semesta masih milikku, aku merajainya
harta-benda rumah pakaian milikku, aku menimbunnya
keluarga anak-anak milikku, aku takut kehilangan mereka
perkiraanku milikku, aku mempercayainya
mimpi-mimpi milikku, aku rekayasa wujudnya
diriku milikku, kucemburui cerminnya
dan harga diriku juga milikku, enggan hancur aku oleh kefanaannya.
Bertahun-tahun, Tuhanku, kubuat harapan-harapan indah
seharusnya, demi hidup-Mu pada kematianku.
tetapi ternyata
hanya untuk buaianku.
kusalahkan orang-orang
sangkaku demi kebenaran-Mu
tetapi ternyata
hanya untuk kebenaranku.
kubuat pembenaran-pembenaran
maksudku untuk meninggikan-Mu
tetapi ternyata
untuk kebanggaanku.
Semua ternyata hanya
untuk memperpanjang nafasku saja.
betapa hinanya kemanusiaanku ini.
Tuhan,
dalam tubuh-tubuh manusia yang kelaparan
dalam tubuh-tubuh perempuan yang diperkosa
dalam tubuh-tubuh anak-anak yang hancur daging dan hatinya
dalam tubuh-tubuh yang
adalah kelaparan, kesakitan dan kedunguanku sendiri
Kau Maha Tahu
aku tidak mampu menghirup udara lagi.
setiap tarikan nafasku bau bangkai
setiap tangisku adalah darah busuk
dan seluruh tubuhku
adalah aib.
Tuhan
tolong jangan lupakan aku.
Demi ingatanku kepada-Mu, yang adalah anugerah-Mu
Katakan langit dan bumi adalah Kasih-Sayang-Mu,
cukuplah bencana berguncang
sampai di sini.
Katakan semua manusia satu,
cukuplah sumpah-serapah berdarah
berkecamuk di dalam ini.
Katakan esok
semua kelemahan terampuni
cukuplah penyesalan
membuat kesadaranku tenggelam
dalam ampunan-Mu.
Penyesalan ini
semoga abadi.
Penyesalan ini
semoga bukan ada
karena kesalahan-kesalahan lagi
Tetapi ada
karena Kau adalah Tuhan
dan kami ingin lebur
dalam Maha Kasih dan Sayang-Mu.
Tuhan Sayang,
aku minta selendang gendongan
untuk menimang dan membesarkan
kehidupan baru
yang mulai tumbuh
di sela-sela reruntuhan ini.
Boleh kan?
Miranda Risang Ayu
8 Agustus 1998
(Doa untuk Perdamaian Gelora Saparua, Bandung.
Didedikasikan untuk setiap orang yang tergilas roda reformasi)
[Sumber: Pojok Kanayakan]
Posted by
Muslimah Berjilbab
at
10:36 AM
0
comments
Labels: puisi
