Wednesday, July 25, 2007

Jilbab & Olah Raga: Wanita Menjadi Atlit

(Sumber: www.syariahonline.com)

Pertanyaan:

Salam alaikum, gimana sih cara berjilbabnya wanita sebagai atlet olah raga (tenis meja) agar prestasi dan agama tetep ok?

You Nee
Keputih 1a/19

Jawaban:

Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba�d.

Olah raga itu sangat baik untuk kesehatan, sehingga memang dianjurkan untuk dilakukan dengan rutin. Dengan olah raga, maka pisik kita menjadi sehat dan kuat. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda :

Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai dari mukmin yang lemah. (HR. Muslim)

Sebab olah raga itu punya beberapa manfaat antara lain bisa melancarkan peredaran darah, menguatkan paru-paru dan organ pernafasan lainnya, membantu proses pencernaan makanan, menambah nafsu makan, menguatkan jantung dan otot-otot, menyegarkan pikiran dan lainnya.

Salah satu daya tarik olah raga memang terletak pada prestasi yang bisa diraih. Namun bukan berarti olah raga itu semata-mata hanya mengejar prestasi.

Bertanding, berlomba dan beradu kemahiran yang terkait dengan olah raga pada hakikatnya boleh-boleh saja. Namun semata-mata maraih prestasi tentu bukan tujuan utama olah raga. Ada banyak riwayat yang sampai kepada kita tentang bagaimana dahulu para shahabat dan salafus shalih melakukan kegiatan seperti ini dan termasuk dengan melakukan semacam lomba diantara mereka. Misalnya memanah, melempar tombak, berkuda, berkelahi/gulat, berlari dan sejenisnya.

Namun sekali lagi, kemenagan dan prestasi sama sekali bukan dari tujuan utama dari aktifitas berolahraga. Sehingga kita belum pernah mendengar adanya turnamen nasional atau kejuaraan international dalam hal olah raga di kalangan mereka.

Wanita Menjadi Atlet

Salah satu hal yang paling perlu mendapat perhatian dalam kaitannya wanita menjadi atlet memang masalah busana. Sebab umumnya busana yang dikenakan para atlit wanita itu sama sekali tidak memenuhi syarat dalam Islam. Bahkan bisa jadi sudah menjadi semacam ketentuan baku dari lembaga penyelenggara event pertandingan.

Padahal ada kewajiban bagi wanita muslimah untuk menutup seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing. Ketentuan ini bersifat mutlak, karena didukung oleh kitab suci terbesar di dunia dan dikuatkan dengan sabda nabi yang paling agung. Sehingga bila untuk menjadi atlet, seorang wanita harus memperlihatkan auratnya di muka umum dan ditonton oleh laki-laki asing yang bukan suami atau mahramnya, tentu tidak bisa dibenarkan dalam agama.

Maka pilihannya hanya dua kemungkinan. Pertama, wanita itu harus menutup rapat seluruh tubuhnya kecuali wajah dan tapak tangan. Tentang bagaimana model busananya, terserah kepada para perancangnya. Yang penting tidak ketat, tidak mencetak lekuk tubuh dan juga tidak transparan hingga tembus pandang. Kedua, harus dipastikan tidak ada yang menontonnya kecuali hanya sesama wanita muslimah saja. Sehingga pertandingan dilakukan di ruang terbatas.

Sebab bila seorang wanita membuka pakaiannya hingga terlihat auratnya di muka umum, akan menghancurkan hubungannya dengan Allah SWT sebagai tuhannya.

Rasulullah SAW bersabda,�Tidaklah seorang wanita melepas pakaiannya di luar rumahnya kecuali hancurlah hubungannya dengan Allah SWT (HR. Abu Daud 4 /39, At-tirmizy 5/114, Al-Hakim 4/288)

Semoga di kemudian hari kelak, kita bisa menciptakan lingkungan yang kondusif dan memenuhi kaidah syariah Islam. Dimana para wanita bisa mendapatkan sarana yang layak untuk melakukan aktifitasnya tanpa harus takut dengan pelanggaran agamanya. Sementara ini, kita hidup di sebuah peradaban yang sejak awal memang telah berlawanan dengan ajaran agama kita.

Padahal semakin hari semakin banyak para wanita yang mengenal agamanya dengan baik. Mereka pun tahu batas-batas larangan agama. Tentu saja mereka juga berhak mendapatkan fasilitas yang layak dan syar`i untuk menjalankan aktifitasnya. Seperti sarana olahraga yang terjamin tidak ada laki-lakinya, kolam renang khusus wanita, salon khusus wanita dan seterusnya. Dimana mereka bebas membuka pakaian luar tanpa harus takut terlihat laki-laki.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

1 comment:

hambaAlloh said...

Assalamu'alaikum

Apakah hanya krn olahraga antum rela melepas identitas muslimah?

Tidakkah cukup dengan menjadi hamba Alloh yang taat?

Betapa sedih hanya krn olah raga pergaulan jaman sekarang, mk seorang wanita bercampur dgn pria bkn muhrim (ex: rafting) ataupun memakai pakaian ketat spt.celana pjg dsb.

Tidakkah cukup bagi kalian untuk menjadi wanita sholehah ataupun istri sholehah ?

semogaAlloh memberikan HidayahNYa kpd para muslimah.

wassalamu'alaikum