Thursday, July 13, 2006

Sepenggal Episode Cinta (cerpen)

Oleh: Vita Sumarhadi
(Sumber: Majalah Al Hijrah)

Dengan mata hampir tak percaya, kutatap sosok cewek yang kini berdiri, di hadapanku. Kaca mata minusnya, tas snoopynya, sepatu kets hitamnya.... Tak salah lagi, orang ini pasti Sari. Tetapi kerudung putih yang menutupi rambutnya, membuat aku hampir tak mengenalinya. Secepat inikah, Ri?

Sari nyengir-nyengir seperti biasa ketika kuguncang-guncangkan bahunya.

“Elo kapan, Ci?” tanyanya Iirih .

Aku tersenyum, kecut. Ya, aku kapan, ya?

Suatu saat nanti, Ri, jawabku, hanya di dalam hati. Aku tak bisa berkatakata. Lidahku terasa kelu. Senang dan sedih bercampur menjadi satu. Haru. Senang karena Sari menjadi lebih alim (ini suatu kemajuan pesat untuk seorang seperti Sari yang doyan ngebut kalau naik motor). Sedih karena aku seperti kehilangan Sari yang dulu. Sahabat terdekatku yang... A ... ya Allah, aku harus rela melepasnya menjadi lebih dekat dengan-Mu.

Aku dan Sari pernah saling berjanji untuk, suatu saat nanti, berjilbab. Setiap ke toko buku, kami tahan ngetem berjam-jam di counter buku-buku Islam. Lalu kami membeli buku dengan judul yang berbeda supaya bisa saling tukar. Topik tentang wanita dan Islam, termasuk topik tentang pacaran menjadi bahasan yang kami pilih. Tak jarang kami juga mendiskusikannya berdua. Hanya berdua.

Sering mentok memang, dan kalau sudah begitu kami sama-sama akan mengatakan “Wallahu allam bishawab.” Hehehe....

Sebulan yang lalu akhirnya kami sepakat meninggalkan pakaian pendek kami dan diganti dengan celana panjang atau kulot panjang serta blouse atau kemeja berlengan paniang.

“Kita berubahnya dikit-dikit aia dulu, Ci,” begitu kata Sari.

Aku sih setuju saja. Apalagi buat kami yang berkulit kereng alias coklat tua, berpakaian panjang-panjang jelas menguntungkan. Kulit jadi lebih putih. Kalau soal seragam sekolah, ya, terpaksa mengikuti aturan yang berlaku.

“Kalo perubahan kita drastis, bisa bikin shock banyak orang, makanya pelan-pelan aja,” ujarku.

“Perlahan, tapi pasti. Soalnya kita tahu apa sih, tentang Islam. Ntar ditanya-tanya orang bingung nggak bisa jawab, kan malah repot.”

“Nanti orang-orang pada bilang, Udah pake jilbab, tapi kok, gitu aja nggak tau,” timpal Sari.

Aku manggut-manggut setuju “Betul, daripada pake jilbab, tapi masih malumaluin.”

“Ri, yang penting kan kita mengimani kalo jilbab itu wajib, cuma masalahnya sekarang kita belon mampu ngelaksanain itu. Allah pasti tau, deh,” ujar Sari seperti menghibur diri.

Aku manggut-manggut lagi.

Ya, dalam masa persiapan dan penantian hidayah dari Allah ini (soalnya katanya pake jilbab itu hidayah Allah), kami sepakat untuk banyak baca buku dulu, nyari temen banyak dulu, hura-hura dulu, ngelaba dulu. Dan, pada saatnya nanti, Insya Allah kami siap.

Namun, sekarang Sari sudah lebih dulu berjilbab. Sedangkan aku? Ya Allah, kenapa hidayah-Mu baru sampai ke Sari? Kapan hidayah itu datang padaku? Tak terasa mataku membasah.

“Uci!”

Aku menoleh, Clara berlari menghampiriku.

“Dapet salam balik,” katanya sambil cengengesan.

“Emangnya siapa yang ngirim salam,” balasku, pura-pura cuek. Namun tak urung dadaku berdebar-debar juga. Pasti dari ....

“Tuh, orangnya di sana,” bisik Clara sementara telunjuknya mengarah ada gerombolan cowok yang ada di bawah pohon, di depan kelas 2-5. Dadaku berdesir begitu raut wajah Dani memandangku dari sana.

Gimana?” tanya Clara dengan nada menggoda.

Aku tahu, wajahku pasti merah, kuning, ijo, saat itu. Dan, bayangan Sari yang baru saja masuk ke ruang laboratorium membuat aku tak berani berkomentar apa-apa.

“Tau, ah!”

“Eh, gimana sih, udah disalamin juga, Ci, katanya...”

Buru-buru aku bergegas masuk ke Lab, sementara Clara berlari mengejarku.

Hampir semua teman-teman di kelasku tahu, kalau aku menaruh hati pada Dani, anggota tim basket sekolah. Dan semua orang juga tahu kalau Dani adalah tipe cowok yang pendiam, cool, terutama di hadapan cewek. Tak heran kalau beberapa orang menawarkan diri jadi comblangku, termasuk Clara, Alex, dan dahulu... Sari.

“Dari mana aja, Ci? Aku nyariin kamu dari tadi,” sambut Sari begitu aku sampai dan duduk di sampingnya. Aku cuma bisa menjawabnya dengan senyum, mengatur napas, menenangkan hati sambil berharap Pak Suratama cepat memulai praktikum. Sari kemudian asyik dengan diktatnya. Kami kemudian tenggelam dalam praktek biologi kelompok sampai tiba-tiba, Clara datang bergabung (padahal dia bukan kelompokku).

Seraya pura-pura memperhatikan hasil uji larutan asam dengan kertas lakmus, Clara mendesakku dengan gaya comblangnya yang profesional (diam-diam aku jadi kagum dengan kegigihannya).

“Ayo, Ci. Kapan Lagi. Doski udah ngasih lampu ijo, tuh. Eh, orangnya susah lho, buat deket sama cewek. Tapi percaya deh, orang kayak gitu, sekali jatuh cinta bakalan setia sampe mati,” katanya berbisik.

Aku diam tak berkutik. Dalam berpikir, Sari yang berdiri di sebelahku pasti bisa mendengar semua kata-kata Clara barusan. Duh, malu nggak, sih? Dan membuat lebih malu lagi, tabung reaksi di tanganku hampir lepas begitu saja. Untung Sari cepat menggapainya sebelum ia menyentuh lantai. Uhf! Hampir saja.

“Lain kali ati-ati, Non,” ujarnya sambil tersenyum tanpa menatap wajahku.

Aku melirik Clara. Anak itu buru-buru ngabur sebelum terjadi accident selanjutnya.

“Uci!” panggil Alex sambil berjalan ke arahku. Wah, bawa kabar apa lagi dia hari ini. Dadaku kembali berdebar, gimana enggak, selain comblangku yang kedua dia juga teman sekelas Dani. Kini cowok bermata sipit itu sudah berdiri di depan mejaku.

“Mau ujian matematik ni, tapi Dani lupa nggak bawa penggaris. Pinjem ya,” katanya.

“Ambil nih, pensilnya sekalian, tip-ex perlu nggak?” tiba-tiba Agus sudah ada di sampingku dan menyodorkan semua barang-barang milikku itu ke Alex. Tanpa basa-basi lagi, Alex langsung melesat ke kelasnya.

Lagi-lagi aku hanya bisa diam. Diam dengan hati berbunga-bunga. Tapi, jangan-jangan semua ini hanya ulah comblang-comblangku saja, pikirku curiga.

“Clara, emangnya bener kalo Dani.....”

“Tuh kan, elo nggak percaya sih, sama gue. Kemaren waktu kita papasan sama doski di kantin, dia kasih senyum e elo, tapi elonya malah diem. Dia kan jadi bingung,” cerocos Clara agak keras. Aku celingukan kanan-kiri, nyariin Sari. Enggak ada. Amaaan.

“Terus...,” aku harap-harap cemas.

“Elo serius nggak, sih? Kan kasihan
dia.”

Aku tercenung, berbagai rasa berkecamuk dalam hati. Antara senang, berbunga-bunga sekaligus cernas dan gelisah.

“Eh, tapi tenang aja, Ci. Kayaknya malah dia yang suka sama elo. Kemaren aja dia nanya-nanyain elo ke Alex,”
sambung Clara.

“Alex bilang apa?”

“Pokoknya beres, deh,” Clara mengedipkan sebelah matanya dengan centil.

Hatiku semakin tak tenang.

Hari ini, pagi-pagi sekali aku telah sampai di sekolah. Nggak tahu kenapa belakangan ini aku jadi begitu bersemangat tiap berangkat sekolah. Apa karena Dani?

Sampai sekolah, gerbang telah terbuka lebar, nggak tahunya sepagi ini pun sekolah sudah ramai. Kulihat beberapa
di antara mereka sedang sarapan di kantin, dan di depan pintu mushala beberapa sepatu berjajar rapi. Aku tidak menemukan sepatu Sari di sana, berarti anak itu belum datang karena sejak berjilbab Sari selalu menyempatkan diri salat duha sebelum pelaiaran dimulai. Tiba-tiba, di ujung koridor aku menemukan sosok yang hari-hari belakangan ini selalu menarinari di benakku. Dani! la berjalan ke arahku dan tersenyum ketika kami berpapasan. Manis sekali. Jantungku tentu berdebar-debar dengan debaran yang lebih dahsyat dari biasanya.

“Hai!” sapanya ramah, tapi terdengar canggung. “Ci, saya mau balikin ini,” Dani mengeluarkan alat-alat tulisku yang kernarin dibawa Alex dari saku bajunya.

“0 ...” aku menerimanya dengan gugup. Kejadian ini benar-benar mengejutkanku.

“Tadinya mau dibalikin kernarin, tapi saya nggak nemuin kamu.”

Aku manggut-manggut, “Nggak apaapa, kok. Gimana ulangan matematiknya? Bisa?” aku berusaha untuk sebiasa
mungkin.

Dani tersenyum lagi, “Tau deh, kayaknya sih ... enggak.” Aku tertawa kecil.

“Thank’s, ya,” katanya sebelum kami berpisah, masih dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya yang tampan.

Aku cuma bisa mengangguk sambil membalas senyumannya. Tapi, di dalam hati aku seperti ingin berteriak keras-keras “Clara! He’s so sweet.”

Siangnya, habis-habisan aku curhat ke Clara. Ya, soalnya sama siapa lagi, masa sama Sari, sih? Wah, nggak berani aku. Tapi anehnya, setelah kejadian itu, aku sering merasa bersalah. Entah bersalah pada siapa, Sari-kah, atau Allah?

Di bulan Februari, menjelang valentine’s day, hari-hariku semakin merah jambu. Dani telah sering bersikap manis padaku. Walau kami belum meresmikannya, tapi sikap Dani padaku cukup membuat seisi sekolah tahu, cepat atau lambat kami akan segera memulai hari-hari indah, mengisi masa SMA. Namun pada saat yang sama pula, rasa bersalahku pada sesuatu yang belum jelas, semakin menjadi. Aku merasa seperti telah mengkhianati seseorang. Seseorang yang begitu dekat. Entah siapa.

Kadang, perasaan itu kemudian berganti dengan getar-getar yang aneh, kemudian gelisah yang tak menentu. Ditambah lagi bayangbayang wajah Dani dengan senyum manisnya. Kalau sudah begitu, aku sering berdiam diri beberapa saat,
mencoba menjernihkan pikiran. Seperti ada sesuatu yang tak beres terjadi di dalam hatiku.

Aku mencoba beristighfar untuk meredakan semua perasaaan aneh itu. Cara itu kuperoleh dari buku kecil yang dipinjamkan Sari beberapa hari yang lalu. Dengan berzikir kepada Allah, hati kita akan tenang, begitu kata buku itu.

Dapat kuduga, di hari Valentine, Dani memberi sesuatu yang istimewa padaku, demikian juga Sari. Kupandangi dua benda berwarna senada, merah jambu yang kini tergeletak di atas meja belajarku. Satu dari Dani, satunya lagi dari Sari. Dani memberikan sekuntum bunga mawar merah dari kain satin yang indah. Ditangkainya tergantung kartu mungil bertuliskan:

‘With my mind. Love, Dani.’

Sedangkan satunya lagi jilbab berenda warna merah jambu yang sangat manis. Di dalam lipatannya ada tulisan tangan Sari yang berbunyi,

“Let’s start together. Love, Sari.”

Kata Sari ketika menyerahkan bingkisan itu, ini bukan kado Valentine karena bagi Sari, hari-harinya bersamaku selalu Valentine. Ah, Sari...

Bagiku, dua benda ini tak hanya sebuah kado dari orang-orang tercinta, melainkan juga suatu pilihan yang satu sama lainnya bertolak belakang. Setiap pilihan mengandung konsekuensi yang berbeda dan aku tahu konsekuensi itu. Tak pernah kuduga aku akan dihadapkan pada situasi yang membingungkan seperti ini.

Sambil menimang-nimang bunga pemberian Dani, dan bercermin dengan mengenakan jilbab pemberian Sari, aku terus berpikir. Aku tak ingin mengorbankan salah satunya. Artinya, kamu ingin berjilbab dan sekaligus juga pacaran dengan Dani? Suara batinku. Apa nanti kata orang, berjilbab kok, pacaran? Suatu pertanyaan retoris yang sering kulontarkan juga.

Aku selalu protes tiap kali melihat cewek berjilbab, tapi berjalan mesra dengan cowok.

Dulu, setiap mendengar protesku itu, Sari selalu bilang, “Ci, jilbab kan nggak cuma sepotong kain yang menempel di kepala. jilbab juga sebagai langkah awal untuk lebih taat pada Allah, termasuk... nggak pacaran. Moga-moga nanti kita kalau udah berjilbab nggak gitu, ya?”

Dadaku terasa sesak, mengapa Allah mendatangkan Dani di saat-saat seperti ini? Tiba-tiba, mataku tertuju pada sehelai kertas yang jatuh dari lipatan jilbab yang diberikan Sari.

Ya, Allah! Aku terhentak, kertas itu ku tulis ketika masih kelas satu. Isinya bait-bait lagu yang pernah diajarkan Mbak Rara saat mengikuti Studi Dasar Islam Terpadu. Tak terasa air mataku mengalir ketika membacanya dan melantunkannya kembali.

Sayup-sayup, aku seperti mendengar suara Sari bernyanyi.

Tak hanya pakaian, ataupun hiasan,
Tapi lebih lagi
Jilbab putih ini akan mengantarkan
Diri kita pada ridha ilahi
Bersihkan hatimu
Luruskan akhlakmu
Jadilah Muslimah
Penuh dengan kharisma
Semoga Allah, bersama kita

Ya Allah, kapan lagi akan Kau tunjukkan jalan pada Uci kalau tidak sekarang ini, jerit batinku.

“Kapan lagi, Ci. Dani udah terus terang ke elo. Gue nggak bisa ngebayangin, berapa cewek yang bakalan patah hati melihat kalian berdua. “

“Iya, kapan lagi, Ci. Kita nggak tahu, kapan hidayah Allah akan datang lagi. Dan hidayah itu hanya diberikan kepada orang yang Dia cintai dan orang itu juga mencintai Allah. Sari yakin, Uci pasti mau menerima hidayah itu. Kita harus mulai berbenah diri dari sekarang karena maut nggak pernah bilang, kapan akan datang.”

Bayangan Clara dan Sari hilang dan muncul bergantian. Juga wajah manis Dani. Dani yang selalu tersenyum ramah padaku, Sari dengan jilbab putihnya serta Clara dengan kalung salibnya. Ya Allah, tiba-tiba saja aku teringat dengan kalung perak yang selalu menghiasi leher Clara!

Kami berpelukan. Air mata Sari jatuh ke jilbab putihku. Aku pun begitu, jilbab Sari basah oleh butiran air mata yang tak bisa dibendung. Aku begitu rindu pada Sari. Belakangan ini, sejak ia berjilbab, persahabatan kami merenggang. Apalagi setelah hadirnya Clara dan Dani. Tapi sekarang, kami akan bersama-sama lagi. Semoga Allah memudahkan jalan yang kupilih.

“Uci!” panggil Alex. Aku terkejut. Kulihat Alex berjalan di samping Dani, mendekati kami. “Ci, kata die nih, elo makin manis, lho...” canda Alex sambil menyikut Dani. Dani tersenyurm ke arahku. Duh, ya Allah, beratnya. Aku berdebar-debar lagi.

“Tenang aja, Ci. Tadi pagi anak-anak udah ngebilangin dia. Lantaran elo udah berjilbab, dia kudu pake peci biar serasi. Eh, Dani-nya mau tuh. lya, nggak, Dan?” cerocos Alex cuek.

Dani cuma tersenyum sambil menatapku.

Ada setitik bimbang dalam hati ini. Ya Allah, kuatkan Uci.

“Gimana, Ci. Diterima nggak? Dani udah nggak sabar, tuh,” desak Alex sambil senyum-senyum. Sebagai comblang, mungkin ia merasa telah bekerja dengan sukses.

“Wah, telat ..., Uci udah nerima yang lain,” cetus Sari tiba-tiba.

Alex melongo, “Ya Alex yang Nashara itu tentu bingung. Seperti ada jarum menusuk-nusuk hatiku saat itu, tapi buru-buru kuenyahkan.

“Terima kasih bunganya ya, Dan,” kataku sambil menundukkan wajah. Aku tak ingin wajah manis Dani terusterusan menari-nari di benakku.

Dani mengangguk, “Hanya itu?” mungkin begitu pikirnya.

Tapi, biarlah Sari atau Bambang yang ikhwan akan menjelaskan pada Dani.

Sepintas kulihat wajah Dani agak serius, “Eh, Ci, kita masih bisa temenan kan?”

Aku melirik ke arah Sari.

“Ya jelas dong, masa mau musuhan?” jawab Sari sedikit bercanda.

Aku menarik napas lega. Sari selalu saja bisa mencairkan suasana. Diamdiam, jauh di dalam lubuk hati, aku bertekad untuk menjaga jarak dengan Dani selagi masih ada penyakit di dada ini. ***

2 comments:

Awalia Maharani said...

cerpennya bagus.
like this deh :D

habib ozon said...

Jempol.