Thursday, December 27, 2007

Jilbab, Budaya Orang Arab?

(Sumber: www.syariahonline.com)

Pertanyaan:

Assalamu Alaikum Wr.Wb Pak Ustadz Menurut cerita yang saya dengar bahwa memakai jilbab adalah merupakan budaya orang orang Arab. tolong jelaskan Alqur'an dan hadistnya.

Wassalamu alaikum wr.wb
Nur
Bontang Kaltim


Jawaban:

Jawaban : Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d

Wanita-wanita arab sebelum datangnya Islam tidak memakai jilbab. Mereka membuka aurat dan membiarkannya terlihat oleh orang lain. Dan mereka baru mengenakan jilbab saat di tengah mereka diutus seorang nabi yang membawa kitab suci yang memerintahkan pada wanita untuk memakai jilbab.

Bahkan perintah untuk memakai jilbab ini pun tidak diturunkan pada saat mula pertama Islam diturunkan, melainkan ketika dakwah Islam sudah memasuki periode Madinah, sekian tahun setelah Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi. Barulah para wanita menjadikan apa saja yang bisa dijadikan penutup aurat ketika ayat berikut ini turun.

'Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka?"' (QS. An-Nur : 31)

'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' (QS. Al-Ahzab : 59)

Juga ada hadits Rasulullah SAW kepada Asma binti Abi Bakar:
"Wahai Asma', seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh nampak darinya kecuali ini dan ini. Rasulullah SAW memberi isyarat kepada wajah dan tapak tangannya."

Orang yang beranggapan bahwa jilbab itu pakaian tradisional arab sesungguhnya tidak paham sejarah arab apalagi syariat Islam. Bahkan tidak bisa membedakan antara masyarakat arab dengan ajaran syariat Islam. Padahal keduanya merupakan hal yang berbeda.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Friday, December 21, 2007

Kedudukan Ibu

Oleh: Suprianto
(Sumber: republika.co.id)

Ahmad Syauqi, seorang pujangga Arab, mengatakan melalui syair yang ditulisnya, ''Ibu adalah sekolah, apabila dia mempersiapkannya, dia menyiapkan masyarakat yang baik keturunannya.''

Syair yang sangat singkat ini menunjukkan bahwa seorang ibu memiliki kedudukan yang sangat mulia dan berpengaruh sangat besar. Ibu adalah pendidik paling utama bagi setiap anak. Selain itu, ibu adalah sosok yang paling dicintai oleh semua orang dan menjadi anutan mereka, serta pribadi yang didapati di hadapan setiap anak pada saat pertama kali matanya terbuka untuk melihat dunia.

Islam telah memberikan pesan melalui Alquran tentang kedudukan orangtua. Terlebih khusus lagi, adanya penekanan untuk senantiasa berbuat baik kepada ibu. Firman Allah, ''Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.'' (QS Lukman: 14). Hal ini menunjukkan bahwa keutamaan orangtua menempati urutan kedua setelah keutamaan Allah.

Ayat di atas juga memberikan pengkhususan, agar setiap anak berbakti dan berbuat baik kepada ibunya. Perintah berbuat baik dan berbakti kepada ibu juga tercantum dalam beberapa hadis shahih, di antaranya adalah riwayat dari Abu Hurairah RA, bahwasanya ada seorang anak laki-laki datang kepada Rasulullah SAW.

Ia berkata, ''Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?'' Nabi menjawab, ''Ibumu.'' Ia bertanya lagi, ''Kemudian siapa lagi?'' Nabi menjawab, ''Ibumu.'' Kemudian ia bertanya lagi, ''Kemudian siapa lagi?'' Nabi menjawab, ''Ibumu.'' Ia masih bertanya lagi, ''Kemudian siapa lagi?'' Nabi menjawab, ''Bapakmu.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Perintah berbuat baik kepada ibu yang diulang hingga tiga kali berturut-turut dalam hadis di atas menunjukkan bahwa ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam pandangan Islam dan memiliki keutamaan yang sangat besar daripada yang lainnya. Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, ''Wahai Rasulullah, siapakah yang lebih besar haknya atas wanita?'' Nabi menjawab, ''Suaminya.'' Lantas Aisyah bertanya lagi, ''Siapakah yang lebih berhak atas seorang laki-laki?'' Nabi menjawab, ''Ibunya?'' (HR Ahmad).

Pesan Ilahiyah di atas sangat jelas sekali bahwa perintah berbuat baik kepada ibu merupakan bagian dari pesan umum yang disampaikan oleh Islam, yaitu, agar memperlakukan kaum wanita secara baik. Sosok seorang wanita yang telah menjadi ibu tak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan sosok laki-laki yang telah menjadi ayah. Sebab, ibu juga turut bertanggung jawab atas semuanya yang menjadi tanggung jawab ayah, terutama terhadap pendidikan anak-anak yang diasuhnya. Bahkan bobot pengaruh seorang ibu dalam mendidik anak, melebihi bobot pengaruh seorang ayah.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para ibu untuk senantiasa memelihara dan mendidik anak-anaknya selama mereka belum memasuki jenjang pernikahan. Wallahu a'lam bish shawab.

---